
Alya bangun pagi. Tapi masih dalam keadaan pusing dan seperti tak kenyang-kenyang tidurnya, rasanya masih tetap ingin tidur dan ngantuk berat mungkin sehari juga untuk dipakai tiduran Alya pasti merasa tetap belum puas.
Sinar matahari di pagi yang cerah terasa menyilaukan pandangannya. Alya merasa enggan untuk pergi ke cafenya. Tapi tetap saja walau malas untuk beraktivitas karena tanggung jawabnya mengharuskan hadir setiap hari karena belum ada yang di percaya di perusahaannya yang mulai berkembang. Alya memusatkan kantornya kalau di sebut kantor yaitu di cafenya, lebih ke tempat aktivitasnya sehari-hari, sengaja dibuat semuanya agar lebih mudah dan difokuskan semua pekerjaan pembukuan di cafenya.
Alya bukan orang yang malas bagaimanapun kondisinya, semangat dan energik selalu optimis dalam hal apapun. Pagi itu tetap saja mandi mau tidak mau berdandan dan mengenakan pakaian yang sangat modis dan telah bergabung dengan Bapak dan Ibunya di meja makan.
"Pagi banget Neng berangkatnya?" Bapaknya menyapa duluan. Sedang Ibunya masih sibuk menyiapkan makanan dimeja karena yang biasa selama ini membantunya meringankan pekerjaan di dapur lagi pulang kampung dikarenakan ada acara keluarga.
"Ke Bakery dulu Pak, meriksa list belanjaan dan memesan pengadaan makanan buat di cafe."
"Kan bisa via telephon?"
"Iya, bisa ini juga yang biasa belanja ada, untuk pesanan hari besok bahannya di beli sekarang, jadi besok tinggal siap produksi.
Yang Alya maksud takutnya ada pesanan banyak tiap harinya yang tak terduga jadi Alya mengontrolnya takut belanjaan dan pengadaan bahan kurang dan itu jadi bahan diskusi sama chef nya."
Bapaknya manggut-manggut sambil makan.
"Pesanan bakery tiap harinya tidak sama, kecuali untuk pengadaan di toko dan pembeli langsung yang datang. Untuk pengadaan di kafe-kafe mungkin itu sudah terukur setiap harinya, tapi untuk pesanan tak terduga jadi itu yang menuntut kita tahu setiap harinya."
"Apa Bapak perlu merekomendasikan seseorang untuk bekerja tempatmu, semacam profesional gitu?"
"Nggak usah Pak, Alya pengen yang bisa menangani di bakery tetapi standby di cafe. Sebenarnya yang cocok untuk posisi itu teman Alya si Desty, tapi Desty waktu ditanya dia kepalang katanya lagi menjajaki pekerjaan yang sekarang ingin melihat berkembangnya katanya. Mungkin juga pencapaiannya seperti apa."
"Jadi, masih bisa tertangani sekarang?"
"Ya begitulah. Walau Alya sudah merasa kecapean, tapi Bapak sama Ibu nggak usah khawatir Alya sudah punya seseorang yang bisa di kader kan dan lagi Alya ajarkan segala macam untuk bisa menangani sekaligus kedua perusahaan ini dan sekarang masih dalam masa pendampingan."
__ADS_1
"Oke, Bapak percaya sama kamu. Kamu bisa melewati semuanya dan bisa menangani segalanya."
"Bapak dapat undangan dari Rumah sakit TMC, acara puncak hari jadinya, apa mau ikut? di meriahkan partai final piala bergilir bulutangkis."
"Ibu mau ikut, sudah ikut saja biarin pekerjaan nggak usah di fikirkan." Ibunya kelihatan suka akan kahbar itu.
Deg! hati Alya berdesir kuat mendadak tangannya merasa dingin dan kakinya terasa lemas. Otomatis kalau dirinya ikut akan bertemu dengan dr Prabu, melihatnya dan akan melihat tatapan mukanya yang mungkin membencinya atau mungkin juga sudah berubah pikiran setelah malam kejadian itu. Sampai sekarang Alya belum pernah bertemu kembali.
"Kalau mau ikut ayo aja." Pak Sofyan Wijaya tak melihat antusias di raut muka anaknya. Yang awalnya Alya begitu gencar ingin bagai mana caranya mengundang dr Prabu ke rumahnya. Malah menyarankan untuk membikin event segala agar bisa mengundang petinggi-petinggi perusahaan dan instansi dan bisa dihadiri semua orang yang berpengaruh termasuk dr Prabu yang disenanginya.
Satu keheranan pagi Pak Sofyan Wijaya dan juga Ibu Sofyan Wijaya, tapi tak apa mau ikut ya ayo enggak juga enggak apa-apa.
Alya berpamitan lebih dulu tanpa menjawab penawaran Bapaknya untuk ikut ke acara penutupan hari jadi Rumah sakit TMC. Pamit dengan alasan banyak yang harus dikerjakan. Satu keheranan lagi buat Ibu Sofyan dan Pak walikota sendiri, diingat-ingat rasanya belum pernah Alya berangkat seperti ini dan berangkat lebih dulu sebelum Bapaknya berangkat.
Biasanya Alya malas-malasan dulu sekitar jam sembilan baru berangkat. Tapi ini baru jam tujuh lewat lima belas menit Alya sudah melenggang ke halaman depan dan membuka kunci mobilnya yang sudah sejak dari tadi dilap sama Pak Udin sampai kinclong dan mengkilap.
Aktivitas pagi Ibu Sofyan Wijaya dilalui dengan keheranan. setelah semuanya berangkat Ibu Sofyan Wijaya membuka bungkusan kantong plastik yang diberikan Pak Udin yang lupa dari kemarin di bagasi mobilnya mungkin pakaian kotor Alya atau seprai yang mau dicuci.
Seperti biasa sebelum dimasukkan ke mesin cuci semua pakaian kotor diperiksa satu-satu takut masih ada bros, peniti atau benda apa saja yang bisa masuk dan ter-giling bersama air di dalam mesin cuci.
Karena sudah terbiasa saat seprai di gulung tak sadar ada remote tv, remote AC ada ponsel menjadi pengalaman benda semacam itu sudah pernah masuk ke dalam mesin cuci.
Keheranan terjadi lagi ketika diperiksa satu-satu semua yang kotor mau di masukin mesin cuci Ibu Sofyan Wijaya melihat bercak di seprai bekas pakai anaknya, seperti noda yang lumayan agak kelihatan.
Masih dengan keheranan Ibu Sofyan Wijaya menyikatnya dulu sebelum dimasukkan ke mesin cuci dan merendamnya dengan air sabun supaya nodanya bisa hilang.
Satu pertanyaan dan keheranan selalu ditangkal oleh Ibu Sofyan Wijaya. Dengan tidak mungkin dan itu hanya noda biasa-biasa saja tapi tak urung naluri seorang Ibu untuk mencari lebih jauh lagi.
__ADS_1
Dengan sangat hati-hati Ibu Sofyan Wijaya masuk ke kamar anaknya. Karena sudah biasa dirinya yang membersihkan dan membereskan, seperti tidak ada yang berubah semua baik-baik saja dan beres pada tempatnya. Membuka semua laci meja belajar dan lemari pakaian juga laci meja rias.
Ada catatan tersendiri di dalam hati Ibu Sofyan Wijaya. Lagi asyik melihat isi laci anaknya bel rumahnya berbunyi, kontan saja merasa kaget luar biasa lalu keluar menutup pintu kamar anaknya dan turun tangga dengan cepat.
Melihat di luar Pak Udin sedang berdiri. Seperti biasa setelah mengantar suaminya ke kantor Pak Udin suka disuruh pulang kembali selama tidak ada yang membantu-bantu di rumah. Pak Udin suka membantu membereskan di halaman sambil menemani Ibu Sopyan Wijaya yang hanya sendiri di rumah, juga kalau-kalau Ibu Sofyan Wijaya ada keperluan keluar Pak Udin akan siap mengantarnya dan nanti kalau diperlukan lagi di kantor akan ditelepon sama Pak walikota.
"Ah, Pak Udin suka ngagetin saya saja!" Bu Sofyan Wijaya membuka kunci dan membuka pintu lebar-lebar.
"Hanya suara bel Bu masa kaget? heee..."
"Mungkin karena saya sendiri di rumah kali ya, jadi sepi banget."
"Itu saya di suruh pulang sama Bapak, takut Ibu ada perlu kemana-mana dan saya suruh bantu-bantu ya sekedar nyapu di halaman begitu."
"Iya, Pak Udin, nanti saya mau ke cafe Alya minta di antar lagi ya."
"Baik Bu."
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta habis baca
"Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel
"Ta Shi Wo De (Dia milikku) " author Eet Wahyuni Shandi sahabat online yang sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!
__ADS_1