Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Saling beri saran


__ADS_3

"Makanlah yang cukup biar tidak gampang tumbang, lagi banyak masalah biasanya stamina mudah turun," ucap dr Prabu sambil menggeser gelas teh tawar hangat ke hadapan dr Imam.


Dr Imam tersenyum, memang sudah jadi rahasia umum kalau banyak mikir stamina akan lemah dan perlu masukan makanan juga nutrisi penuh sehingga tubuh bisa tetap fit dalam beraktivitas bukan malah tumbang.


Kesal, marah, berselisih paham hanya akan menurunkan imun kita, seharusnya tetap memaksakan makan walau tidak berselera sekalipun.


"Jujur Aku bingung Bos, di satu sisi orangtuaku di sisi lain hubunganku dengan Intan, dan Vionna sendiri Aku belum melihat karakternya seperti apa, apa dia akan mengerti seandainya Aku katakan yang sebenarnya?" ucap dr Imam dengan harapan ada tanggapan sebagai solusi disaat pikirannya buntu seperti ini.


"Aku mengerti, Intan juga mungkin akan mengerti tapi jujur mungkin akan lebih baik, mengerti tapi yang harus di lakukan dengan Vionna adalah bicara itu saja, tidak yang lain, pelajari dulu karakternya kalau cukup dewasa pasti akan mengerti kalau perasaan itu masalah hati dan kita yang akan menjalaninya dan menikmati apa kenyamanan di masa depan atau ketidak harmonisan yang diawali dengan keterpaksaan?" ucap dr Prabu begitu bijaksana.


"Ya, ya, ya... sebenarnya itu juga yang akan Aku lakukan, tapi mencari waktu tang tepat begitu sulit Aku cari." Dr Imam seperti berpikir dahinya mengkerut.


"Ya begitulah paling solusi terbaik bicara apa adanya kalau itu semua rencana orangtua belum jadi keputusan yang final sebenarnya dokter sudah punya rencana, begitu saja. Tapi maaf dalam hal ini Aku bicara bukan dalam kapasitas Kakaknya Intan, tetapi Aku bicara sebagai sahabat yang meminta solusi kepada siapapun Aku akan berbicara yang menurutku baik," ucap dr Prabu sambil tersenyum.


"Aku mengerti Bos, sebenarnya begitu ingin aku menengok Intan dalam minggu-minggu ini tetapi di rumah begitu sulit untuk meluangkan waktu,"sahut dr Imam seperti begitu ingin segera seminggu ini cepat berakhir.

__ADS_1


"Tak apa sekali lagi Intan pasti mengerti kok. Nanti Aku bantu kasih masukan yang sangat masuk akal bagi intan."


Mereka akhirnya makan juga setelah menu yang di pesan datang.


"Makasih Bos masukannya, kalau sudah ngobrol begini Aku merasa lega walau banyak bohong pada Intan," ucap dr Umam sambil minum teh hangat tanda selesai santap siangnya.


"Aku juga minta bantuan juga solusi soal Alya, Dia telah kelewatan lagi berani bicara kasar dan memojokkan mungkin dengan seenaknya berbuat hal tidak beretika di hadapan Retno sehingga Retno menjadi ngambek dan melimpahkan semua permasalahan itu kepadaku, Dia sama sekali tidak mau urusan dengan yang namanya Alya tetapi kalau Aku harus datang dan menyuruh Dia meminta maaf rasanya sulit Aku realisasikan malah kalau aku datang hanya akan menambah masalah baru,"


"Ya, semua bisa Aku pahami, tapi biar Aku coba secara halus dan perlahan saat dia konsultasi nanti dijadwalnya, jangan dokter tanya sendiri seperti apa harapan dan keinginannya sehingga dia masih berulah seperti itu," jawab dr Imam.


"Dokter tahu suaminya Alya?"


"Oh ya?"


"Rasanya Aku ingin bicara saja sama suaminya, tapi etis nggak ya?" ucap dr Prabu begitu penuh pertimbangan.

__ADS_1


"Kalau memungkinkan lebih baik seperti itu juga Bos, malah menurutku itu lebih menyelesaikan masalah."


Apakah bukan malah membuka luka lama?"


"itu tergantung suami Alya dan Bos sendiri menanggapinya seperti apa, juga penyelesaiannya bagaimana?" timpal dr Imam sambil menghabiskan sisa minuman di gelasnya.


Mereka mengakhiri makan siang dan obrolan mereka tetapi ada sedikit pencerahan di wajah dr Imam dan meyakini semuanya seperti dr Prabu juga, kalau bicara dengan jujur dengan baik-baik bicara dengan hati dan perasaan mau minta pengertian mungkin itu pilihan terbaik.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2