
"Pulang selalu telat, Ibu sama Bapakmu juga Vionna sudah menunggumu makan malam dari mana dulu pulang kerja langsung saja keluyuran!" ucap Ibunya dr Imam sambil memandang putra kesayangannya.
"Aku ada rapat tadi Bu, biasanya juga kalau Aku pulang telat tak dikomentari? kalau mau makan duluan makanlah Aku tidak lapar mau mandi dulu," jawab dr Imam sambil ngeloyor mau pergi ke atas ke kamarnya.
"Tunggu dulu, Ibu sama Bapakmu mau bicara serius malam ini jadi Kami tetap menunggu untuk makan bersama dan berbicara," ucap Ibunya dr Imam.
Dr Imam mengangkat kedua bahunya sambil berjalan ke tangga dan masuk ke kamarnya tanpa melihat Vionna yang memandangnya
Dr Imam melempar badannya ke tempat tidur tanpa membuka pakaian dan sepatunya.
Karena di tunggu lama, Ibunya dr Imam menyuruh Vionna melihat dr Imam ke atas.
Vionna menggelengkan kepalanya melihat dr Imam tertidur tanpa berganti pakaian apalagi mandi.
Vionna turun memberitahukan pada Ibunya dr Imam dan menyuruh kembali Vionna membangunkan dan menyuruhnya mandi lalu dengan secepatnya ditunggu di bawah.
Vionna masuk dengan perlahan dan memandang wajah ganteng sedang tertidur yang terlanjur dirinya cintai itu, Satu kata Mas Imam harus jadi miliknya.
Vionna mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir dr Imam yang begitu kaget mendapat sentuhan tiba-tiba.
"Malah tidur! di suruh Ibu cepat mandi di tunggu di bawah!" ucap Vionna sambil tersenyum manis beberapa inchi di hadapan wajah dr Imam.
Dr Imam memandang Vionna dan menariknya seketika lalu menciumnya dengan kasar, Vionna begitu terkejut mendapat sergapan yang begitu kasar dengan sekuat tenaganya berusaha melepaskan diri. Dr Imam tersenyum sambil turun dari tempat tidurnya melihat bibir Vionna sedikit berdarah. Vionna mengusap bibirnya sambil meringis.
Dr imam masuk kamar mandi lalu mandi sambil berpikir apa yang akan disampaikan kedua orang tuanya pasti menikah dan menikah lagi dan kali ini saatnya dirinya berbicara apa adanya.
Apapun yang akan terjadi Intan harus jadi istrinya, walau harus ada hati yang tersakiti. Vionna datang bukan pada waktunya dan datang dengan keinginannya bukan atas persetujuannya, mungkin saat ini akan menjadi polemik dan permasalahan antara dirinya dan kedua orang tuanya walau dari dulu semua itu sangat dihindari tetapi akan ada saatnya bertentangan walaupun dengan orang tua sendiri.
__ADS_1
Dr Imam memakai pakaian rumahan celana bermuda navy dan kaos oblong senada turun tangga tanpa beban walau sudah begitu lama membuat semua penghuni rumah menunggunya.
Ibunya dr Imam tersenyum melihat kesiapan putranya lalu semua duduk di kursi masing masing, terasa sempurna keluarganya kini ada seorang wanita cantik di hadapan putranya.
Ibunya yang paling sibuk semua di tawarkan dan diambilkan, maunya semua menu Anaknya makan dan di cicipi nya. Tapi sebaliknya dr Imam seperti ogah-ogahan makan seadanya dan lebih banyak menolak setiap apa yang ditawarkan dan diambilkan Ibunya juga Vionna.
"Ibu ingin serius bicara Nak, jadi mohon beri waktu pada Ibu untuk bicara," ucap Ibunya dr Imam mulai bicara saat semua makan sudah hampir selesai tunggal beberapa suap lagi.
"Ya, Ibu bicaralah," jawab dr Imam datar.
"Ibu hanya ingin bertanya tentang keseriusan Kamu dengan Nak Vionna, malah cuti Nak Vionna akan berakhir besok akan pulang bagaimana?" kata-kata Ibunya sudah di duga sebelumnya.
"Ibu, maaf Aku merasa tidak pernah berjanji apapun pada Ibu Bapak juga Vionna sendiri. Aku merasa biasa saja kalaupun selama Vionna berada di sini Aku tidak bisa banyak menemani karena Aku sibuk bekerja, jadi maunya Ibu seperti apa?" dr Imam malah balik bertanya pada Ibunya.
"Nak, seperti harapan Ibu sama Bapak sebelumnya berharap bisa cocok dan akhirnya Ibu mengharapkan satu ikatan diantara kalian. Apa yang dipikirkan lagi kalian sudah pada dewasa?" sindir Ibunya sambil tetap mengingatkan kalau dirinya sudah dewasa.
"Itu karena Ibu anggap hubungan kalian tidak serius, seperti sebelumnya dan sebelumnya makanya Ibu berusaha memberi solusi inilah hubungan yang dewasa dan terbaik buat masa depanmu!"
"Terbaik buat siapa Bu? buatku apa Vionna? apa buat Ibu sama Bapak? sama sekali itu bukan yang terbaik buatku Bu!"
"Baik Mas Imam, maaf sebelumnya Aku datang bukan untuk menciptakan pertentangan di sini hanya menawarkan dan menyambut arahan orangtua saja. Alangkah baiknya kita pikirkan dulu yang orang tua harapkan tadinya, tapi kalau memang seperti ini sekarang juga Aku pulang tak masalah, Aku berpikir Mas Imam akan menyambut ku seperti pada malam itu tapi tak apa semua mungkin hanya salahku saja," ucap Vionna menatap dr Imam.
Vionna mau beranjak tapi di tahan Ibunya dr Imam.
"Tunggu, Ibu tak akan membiarkan Nak Vionna pulang tanpa kepastian dan tanggungjawab Anak Ibu!"
"Ibu! tanggung jawab apa yang harus Aku pertanggung jawabkan di sini?" jawab dr Imam tak mengerti.
__ADS_1
"Kamu sudah dewasa Nak setiap malam apa yang kamu lakukan dengan Nak Vionna di kamar mu atau mungkin di kamar Nak Vionna? tak cukup hanya pengakuan atau sangkalan saja tapi semua yang telah kalian lakukan harus di pertanggung jawabkan dengan pernikahan!"
"Ah! semua salah paham, Aku tidak seperti itu Bu! Aku belum melakukan apapun dengan siapapun!" sahut dr Imam memerah mukanya.
"Jangan menyangkal kebenaran Nak, Ibu sendiri melihat bukti dan dikuatkan dengan pengakuan Nak Vionna, jadi apalagi yang bisa di bantah? beri kepastian atau aib akan kita terima suatu saat nanti!"
Deg! dr Imam memandang Vionna dengan tajam, Vionna tersenyum merasa berhasil menciptakan dilema dalam keluarga ini. Menolak Aku itu adalah kesalahan dr Imam!
Satu kata jangan terkecoh dengan jebakan Vionna dan tipu muslihat yang dilancarkannya.
"Ibu, bagaimana Aku bisa meyakinkan Ibu juga Bapak kalau semua itu bohong? Kami tak pernah tidur bareng kapan waktunya? selama seminggu ini Aku bolak balik Bandung-Tasikmalaya karena Intan sakit, Kalau Ibu tak bisa mengerti, Aku juga tak akan mengerti semua yang Ibu katakan," ucap dr Imam bangkit dari duduknya dan memperlihatkan kemarahan yang sangat.
Lalu dr Imam berlari naik tangga dengan sekali langkah dua anak tangga di lewatin masuk kamarnya berganti pakaian mengambil sesuatu dan keluar lagi tanpa menghiraukan Ibu Bapaknya juga Vionna yang menghalanginya.
"Nak! mau kemana? malam-malam begini?"
Ibunya dr Imam menangis tapi tak di dihiraukannya, dr Imam tak bisa di cegahnya pergi menaiki mobilnya yang masih terparkir di halaman.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️