
"Kenapa kamu Nak? Ibu cari-cari nggak ketemu ternyata kamu pulang duluan."
"Aku males aja, nggak ada teman ngobrol."
"Katanya mau deket sama dr Prabu. Sekali ada kesempatan kamu tak memanfaatkannya, apa salah Ibu sama Bapak mengajak kamu ke acara itu?"
"Alya lagi malas saja Bu. Ibu sama Bapak nggak salah apa-apa malah Alya yang salah pulang duluan nggak bilang-bilang."
"Kenapa Nak? apa kamu terlalu capek kerja. Kok kelihatan begitu tak bersemangat?"
Alya hanya diam.
"Boleh Ibu kenalkan pada saudara dari Bapakmu siapa tahu cocok jadi sahabat dulu. Setelah itu silakan jalani bagaimana enaknya kalian berdua nanti."
"Nanti dulu lah Bu, kira-kira satu mingguan lagi beri waktu Alya buat berpikir."
"Ibu nggak memaksa tapi ini hanya penawaran. Barangkali kamu terlalu sibuk bekerja jadi tidak sempat dan tidak kepikiran untuk mencari hal-hal yang seperti itu, dan mungkin belum terpikirkan."
"Alya ke kamar dulu ya Bu."
"Iya."
Alya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas selama berjalan di tangga Alya melangkah melewati satu undakan ke undakan lain kelihatan lesu.
Ingin rasanya Ibu Sofyan Wijaya bertanya pada putrinya, kenapa akhir-akhir ini seakan tak bersemangat lagi untuk lebih dekat lagi dengan dr Prabu, apa ada laki-laki lain yang lagi dekat dengannya saat ini?
Bukankah dari awal kenal dr Prabu Alya begitu kelihatan bersemangat ingin kenal, ingin dekat dengan dr Prabu, tapi kenapa sekarang seakan semangat itu tidak ada lagi kelihatan dari diri Alya.
Apa karena tidak ada respon baik dari dr Prabu sendiri? atau Alya nya yang bosan mencari cara untuk mengajak dan susah melakukan pendekatan?
Ibu Sofyan Wijaya menghela nafas capek. Teringat kembali obrolan dengan suaminya Alya sudah berusia dewasa, bahkan hampir seluruh teman-temannya sudah pada menikah mungkin yang Ibu Sofyan Wijaya tahu hanya tinggal Alya dan Desty yang belum kelihatan ada riak-riak melepas masa lajangnya.
Apa memang Alya serius tak bisa mencari teman hidupnya? dan sebagai orangtua harus turun tangan mencarikannya dan mengenalkan pada seseorang yang bisa cocok menjalani dulu permulaan perkenalan.
__ADS_1
Ibu Sofyan Wijaya berjalan ke lantai atas ingin masuk ke kamar Alya dan bisa ngobrol tentang apa saja, tapi di urungkan niatnya karena takut Alya lagi nggak mau di ganggu dan mau istirahat.
Hanya memandang pintu kamar anaknya yang semakin aneh akhir-akhir ini. Lalu turun kembali, biarlah jadi bahasan serius suatu saat nanti saat mood anaknya kelihatan baik.
Pak Sofyan Wijaya memandangi istrinya yang turun dari lantai atas rumahnya.
"Kenapa Alya Bu?"
"Nggak tahu Pak. Tadi Ibu tanya kenapa pulang duluan jawabnya malas nggak ada teman ngobrol katanya."
"Ibu sempat ngobrol?"
"Sempat tapi karena melihat dia seperti kecapean jadi dia yang pamitan duluan. Ibu sempat tanya kenapa nggak bersemangat lagi bukankah dari kemarin-kemarin mau dekat dan kenal lebih jauh lagi dengan dr Prabu, dan tadi itu kesempatannya ada saat ada event begini."
"Iya ya Bu, padahal bisa mengucapkan selamat atas kemenangan dr Prabu."
"Malah Ibu sempat tawarkan mau apa nggak Ibu kenalkan pada seseorang yang masih ada ikatan saudara Bapak itu? Jawabnya minta waktu barang seminggu untuk berpikir katanya."
"Apa gara-gara temannya yang namanya Desty itu kerja di tempat orang Bu? jadi dia seakan kehilangan teman satu-satunya yang akrab sama dia?"
"Apa Ibu nggak tanya masalahnya?"
"Ya cuma gitu. Ibu hanya melihat dia itu capek lalu pamitan masuk kamar."
"Sudahlah Bu mungkin benar dia capek, biar dia benahi sendiri setelah semuanya di rasa sendiri. Ayo kita tidur."
Di dalam kamarnya Alya membaringkan tubuhnya walau malam belum larut dan bukan jam tidurnya jam segini.
Suster itu pikir Alya. Ya suster itu! yang tadi Alya lihat begitu dekat dengan dr Prabu, dan saat masuk pun di gandengnya mungkin itu pacarnya dr Prabu? cantik memang.
Ya. Suster itu jelas pasti suster itu yang menjadi kekasih dr Prabu, di gandeng dengan senyuman, dipeluk saat memenangkan set terakhirnya.
Makanya Alya berlalu dari arena tak bisa melihat orang yang di cintainya bahagia bersama yang lain, apa egois? itulah kenyataan hati Alya berontak tak menerima.
__ADS_1
Alya melihat tatapan dr Prabu yang tak seperti biasanya begitu dingin. Ada sorot kebencian, jauh dari kata ramah seperti yang sebelum sebelumnya selalu dia perlihatkan saat bersikap terhadap dirinya.
Begitu greget Alya melihatnya. Lihat saja nanti sikap dinginmu itu akan berubah, angan-angan masa depanmu hanya akan menjadi bayang-bayang dr Prabu!
Aku akan mengubah semuanya menjadikan perhatianmu beralih pada diriku.
Silahkan rayakan kemenangan juga kekalahanmu dr Prabu apapun itu, tapi saat aku tahu diriku hamil akan menjadi tohokan yang membuat hidupmu dilema berkepanjangan dan mengubah segalanya.
Aku memang mencintaimu dr Prabu, dan saat tahu dirimu tak mencintaiku pun rasa itu tetap tak bisa aku hilangkan, aku akan memaksamu entah bagaimana caranya.
Alya melihat-lihat ponselnya dan tertuju pada satu nomor kontak yang ada di ponselnya yaitu dr Prabu. Terlihat aktif dan online
Alya tersenyum kelu, mengingat kasarnya dr Prabu saat marah dan melampiaskan dengan menggerayangi tubuhnya dengan paksa.
Tanpa aba-aba, tanpa persiapan, tanpa pemanasan dan tanpa cinta.
Walau kejadiannya hanya di hitung dengan menit dan sakit untuk pertama kali melakukan itu, tapi Alya merasakan sentuhan yang luar biasa untuk pertama kalinya, ada sensasi yang di rindukannya kembali.
Alya mengusap perut ratanya. Seandainya di dalam sini ada nafsu, marah, dan bencinya dr Prabu jadi satu keajaiban aku akan jaga apapun nanti urusannya walau harus keluar dari rumah ini.
Alya merebahkan badannya yang terasa capek, dan lebih lelah hati dan rasanya terbayang masa masa kecilnya yang penuh kebahagiaan, tumbuh dengan pupukan kasih sayang tak terbatas seperti anak emas dari kedua orangtuanya.
Beranjak dewasa menjadi idola SMA saat orangtuannya Bapaknya menjadi anggota dewan daerah, saat itu teman-temannya masih banyak dan Alya sendiri begitu aktif di sekolahnya, kebanggaan tersendiri bagi Alya.
Tapi beranjak dewasa kuliah semakin berkurang teman-temannya. Satu persatu beranjak berumahtangga dan pergi jauh dengan kehidupannya menapaki takdir masing-masing.
Alya tertidur dalam gamang pikirannya.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "Bodyguard Ku Suamiku" author wheena the pooh sahabat terbaikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya...
__ADS_1