Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Nasehat buat Intan


__ADS_3

"Kak Aku mau pulang nanti malam," ucap Intan saat dr Prabu baru saja sampai rumah pulang kerja.


"Biasanya juga lama dan betah di sini?" jawab dr Prabu seakan biasa-biasa saja tak melihat Intan yang lagi bermasalah.


Dr Prabu mencium kening Retno yang menyambutnya di ruang depan melirik pada Intan yang merengut saja mukanya di tekuk lipat lima belas.


Dr Prabu mengerlingkan matanya pada Retno istrinya setelah melirik Intan. Retno tersenyum saja.


"Apa tidak menunggu hari besok saja? ini kan sudah sore jam berapa sampai Bandung? tidur di sini dulu Aku mau bicara nanti habis mandi!" ucap dr Prabu sambil merengkuh pinggang Retno berjalan ke ruang dalam.


"Iya Intan, kalau Mbak boleh berpendapat jangan tinggalkan masalah, kembalilah kalau masalahnya sudah selesai, biar hatimu tenang menjalani kegiatan hari-harinya, semua orang juga pernah dan pasti punya masalah hadapi dengan kedewasaan jangan mengambil keputusan saat kita marah karena keputusan yang kita ambil tidak akan bijaksana mari kita diskusi mencari solusi jangan mengetengahkan emosi kasihan dr Imam kamu cuekin terus." Retno panjang lebar bicara pada Intan.


"Tuh dengar Kakakmu semua benar, sebaiknya kamu diskusi sama siapa saja yang kamu anggap bisa menjadi teman berbagi, Jangan hanya mengurung diri di kamar memikirkan sendiri masalah, siapa tahu pendapat orang lain akan menjadi lebih baik dan bisa dipilih sebagai solusi," dr Prabu menyambung omongan Retno.


"Mbak Retno kok kasihan nya sama dr Imam sih bukannya ama Intan? harusnya Mbak kasihan sama Intan dong, intan yang merasa tak dianggap keluarganya," ucap Intan, masih saja bicaranya seperti Anak keci.


"Mas Mandi saja dulu biar Aku yang ngobrol sama Intan," Retno melirik suaminya dengan senyuman.


"Oke, Sayang kalian sesama wanita seharusnya menjadi lebih cocok!" dr Prabu mencium kepala Retno yang duduk di sofa lalu mencubit pipi Intan yang sama duduk dekat Retno tapi mukanya cemberut lalu dr Prabu naik tangga berlari kecil.

__ADS_1


"Intan, kalian orang dewasa Mbak bilang kasihan dr Imam itu Dia kelihatan bingung banget, harusnya Intan sebagai kekasih yang saling cinta mencari solusi lain untuk bisa mencairkan hati orangtuanya dr Imam supaya mengerti kalau kalian itu saling cinta, bukannya ngambek begitu otomatis menambah beban pikiran dr imam sendiri ya kan?" ucap Retno. Memang di mengerti sama Intan tapi Intan bawaannya mau marah saja, kalau ingat perlakuan orangtuanya dr Imam yang tak menganggapnya saat Intan datang ke rumahnya," jawab Intan dengan pendapatnya.


"Iya Intan, Mbak mengerti kegelisahan hati Kamu. Tapi ya jangan begitu, Mbak juga pernah berada dalam masalah paling terpuruk sampai tak ada sama sekali jalan dan solusi menurut Mbak, tapi kalau kita mau membuka hati banyak berdoa InsyaAllah di bukakan jalan dan di lapang kan hati kita."


"Aku bingung Mbak sendiri Mbak, mau meneruskan hubungan seperti ini bagaimana?" ucap Intan seperti tak yakin dengan dirinya sendiri.


"Tapi dr Imam mencintai Kamu Intan, Kamu tidak boleh egois apalagi hati Kamu juga sama saling mencintai perjuangkanlah rasa itu seperti Mbak contohnya sama Kakakmu, Ya Allah sejak pertama hubungan ada saja maslah tapi dengan kegigihan usaha dan berdoa akhirnya Yang Maha Kuasa mengizinkan kami bersatu," ucap Retno sambil mengusap dengan perlahan perutnya.


"Tapi Mbak, serasa berat banget Aku menjalani semua ini kalaupun kami saling cinta tapi kalau tanpa dukungan orang tua sama saja bohong. Tadi juga Mas Imam telepon mungkin hari ini tidak akan ke sini, jadi untuk apa menunggunya lagi? Dia akan dijodohkan dengan seseorang sekarang sama orangtuanya Aku sudah tahu jawabannya kenapa orang tuanya bersikap seperti itu jelas mereka tidak menerimaku." Ucapan Intan seperti memvonis dirinya sendiri.


"Tapi semua itu baru keinginan orang tuanya Intan, Mbak yakin kalau dr Imam itu lebih memilih Kamu. Sekian lama kalian berhubungan apalah artinya? perjuangkanlah bersikaplah dewasa, baikan dulu sama dr Imam kasih Dia support bukan malah menambah bebannya dengan sikap kamu. Kalau sudah jodoh pasti akan menemukan jalannya sendiri dengan kemudahan-kemudahan yang tidak kita sangka," ucap Retno begitu dewasa, mungkin pelajaran hidup dan kedewasaan juga pengalaman telah di laluinya.


"Aku tidak yakin dengan perasaan Mas Imam sendiri, karena kalau dia mencintai Aku tapi kenapa dia mau menemui seseorang yang katanya tidak pernah bertemu jangankan untuk mencintai?" Intan menjawab seperti tetap menyalahkan dr Imam dalam hal ini.


Mengambil keputusan putus sepihak bukan jalan keluar menurut Retno, begitu juga menurut Mas Prabu juga.


Intan boleh pulang ke Bandung tapi baikan dulu, jangan pulang dengan membawa kemarahan. memang tak mudah bisa mencairkan suasana seperti saat ini, yang terbayang sama Intan adalah dr Imam mau di kenalkan pada seseorang dan ujung-ujungnya di jodohkan.


Mending kalau semua bisa batal menurut pikiran Intan, kalau kejadian? buat apa nungguin jodoh orang? kita yang hanya jadi kekasih tak dianggap, walaupun cinta keduanya begitu besar tapi akhirnya jodoh ada di tangan orangtua.

__ADS_1


"Coba tanya sama Kakakmu nanti, bahkan Mas Prabu memberi solusi seperti itu pada dr Imam, jalani saja dulu perintah orangtuanya bukan berarti kalian putus, tapi mencari jalan untuk memasukkan pengertian pada mereka," ucap Retno dengan suara lembut, mengusap tangan Intan yang duduk di sampingnya.


"Intan mengerti Mbak, tapi rasanya berat banget juga seperti hilang harapan saja." Air mata Intan mulai mengembang, mungkin telah sampai pada titik kebimbangan yang tak menemukan jalan, sehingga terasa semua dirinya yang merasakan.


Padahal dalam sebuah hubungan ada dua rasa yang sama dan pasti merasakan hal yang sama.


"Sabar Intan, dr Imam juga berusaha pasti, mungkin Dia lebih berat merasakan dilema pilihan antara Kamu sama orangtuanya." Retno tetap memberikan dukungan dengan ucapannya.


"Aku harusnya gimana Mbak?"


"Jangan kebawa emosi, sabar saja dulu satu jangan menambah beban dr Imam dengan ngambek Kamu bahkan minta putus segala."


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2