
"Haaaaaaaa...saya tahu kenapa dr Prabu membencinya? kenapa dr Prabu menjadi begitu kacau itu karena dr Prabu masih mencintainya, kenapa harus membencinya dengan perbuatan yang salah yang akan membuat sesal di akhir kemudian hari, percayalah pada saya, saya sudah tua sudah makan asam garam kehidupan, dan hampir punya cucu, lakukan semua usaha bukalah mata hati perlihatkan dirimu nyatakan cinta selesaikan masalahnya apapun hasilnya."
"Mungkin saya terlambat."
"Maksud dokter?"
"Retno lagi dekat dengan dokter Imam SpOG yang praktek di rumahsakit TMC, dan pagi tadi pergi mengantarnya ke sini dengan tumpangan mobilnya dan dr Imam itu sahabat saya sendiri." dr Prabu terlihat lesu.
"Oh, jadi itu masalahnya, nggak ada kata terlambat lakukan sesuatu."
"Apa yang harus saya lakukan hati saya semakin benci dan di sisi lain aku tersiksa dengan perasaanku sendiri yang tak bisa di bohongi aku masih mencintainya."
"Dr Prabu ngobrol soal cinta pada saya rasanya tidak tepat, saya sudah tidak muda lagi, tapi kalau mencari jalan keluar satu permasalahan apapun itu pasti akan ada solusinya, mari kita cari solusinya."
Dr Prabu diam dan membenarkan kata kata dr Burhan, kalau di fikir iya juga ya dirinya seakan curhat maslah pribadinya sama orang yang sudah seperti Bapaknya dan memang mungkin dr Burhan seusia Bapaknya, geli memang entah karena sudah terlalu dekat atau merasa sudah kenal lama dan mereka begitu akrab
"Aku tak bisa melakukan apapun Pak Burhan semua buntu di pikiranku, tadinya aku hanya ingin memastikan kalau Retno masih sendiri dan memang masih sendiri, kebetulan saja Retno di beri tugas mendampingi dr Imam SpOG saat praktek mereka mungkin kenalan dan mungkin saling tertarik dan semakin ke sini semakin akrab saya hanya ingin melihat malam minggu Retno seperti apa dan dengan siapa?"
"Haaaaaaaa... anak muda begitu lembek melempem seperti kerupuk tak di tutup di toples jantan dan berani dong masa kalah sama dr Imam yang baru kenal kemarin! cari tahu semuanya masa tak punya trik?"
Dr Prabu diam setelah mendengar semua omongan dan jawaban dr Burhan, memang benar dan juga dirinya telah menceritakan semua pada dr Burhan dan sekarang dr Prabu pasrah dengan dirinya, hanya kebencian dan dendamnya yang tak hilang dalam hati nya, wajar saja Retno begitu mudah dan dekat dengan laki laki siapapun dia cantik menarik dan sopan, sedang dengan dirinya tak ada kepastian selama lima tahun, tapi hatiku tak mudah melupakanmu Retno!
"Langkah awal cari tahu selama lima tahun ini apa Retno mu itu gonta ganti pacar tidak? berapa kali ganti? bandingkan dengan dr prabu sendiri selama lima tahun ini pasti jawabannya ada dua ya dan tidak, kalau ya itu berarti Retno tak menunggumu, tak mencari mu dan mungkin berusaha melupakanmu dokter."
Dr Prabu diam, dan mengerti apa yang di ucapkan dr Burhan.
"Langkah kedua tanya langsung sama dr Imam, itu paling praktis dan sangat masuk akal sesama sahabat, saya rasa dr Imam SpOG hanya kasihan sama Retno mu itu ,melihat perlakuan dr Prabu sama suster Retno yang di luar kewajaran, berangkat jam setengah empat pulang lagi memburu absen setengah empat lagi, dr Imam tahu siapa Retno? dan Retno sendiri tahu siapa dr Imam? kalau kalian itu bersahabat."
"Saya kasih tahu dr Imam, tapi sepertinya Retno tak tahu siapa dr Imam seperti tak tahunya siapa saya sekarang, bahkan saya ajak dr Imam kerja sama untuk mem-bully Retno tapi dia menolak malah menawarkan diri menjadi comblang saya tapi saya menolaknya."
"Haaaaaaaa... saya yakin sahabat tak sejelek itu, lakukan saran saya kalau mau mendengar nasehat orangtua, ayo kita lanjutkan ngobrolnya di ruangan saya."
Dr Prabu dan dr Burhan bangkit dari duduknya berjalan menyebrang jalan raya dan menuju ke ruangan dr Burhan, dr Prabu menyapu semua sudut sudut rumah sakit yang di lewatinya dan dalam hatinya berharap melihat sosok seorang Retno dari sekian banyaknya orang lalu lalang di jam besuk siang, orang luar, pasien dan personil rumah sakit sendiri berbaur dengan kepentingannya masing-masing dan tak melihat sosok yang di rindukannya dan semua hanya menjadi harapan dan angan-angan dr Prabu.
"Suster kepala Harni bisa datang ke ruangan saya?" dr Burhan menelephon suster kepala di rumah sakit itu.
"Oh, saya suster Retno Pak suster kepala Harni lagi makan dan sholat dulu ponselnya di tinggal di mejanya."
__ADS_1
"Oh suster Retno...bisa saya minta tolong nggak ya? saya ada tamu ambilkan dua teh botol dulu di kantin maaf ya ganggu istirahatnya."
"Oh, nggak apa Pak Burhan, sama saja sama saya juga, apa itu saja yang di pesannya Pak cuma minuman?"
"Ya ya ya..."
"Apa yang akan dr Prabu lakukan suster Retno menuju ke sini?"
"Saya belum siap Pak Burhan, membuka identitas saya bukan di sini rencana saya, tapi nanti ada saatnya."
"Ok, aku ikuti keinginanmu dokter silahkan ke belakang dan sepuluh, sembilan, delapan, tujuh...
Tok tok tok...
"Masuk."
"Simpan di meja saja tamunya lagi keluar dulu."
Retno menyimpan dua teh botol yang sudah di buka dan di sampingnya di simpan dua sedotan juga, lalu tersenyum dan permisi.
"Eh suster Retno, salah satu yang lagi ikut program KKN ya?"
"Di mana suster Retno memilih lokasi KKN nya?"
"Heee...jauh Pak di Tasikmalaya, masih satu jaringan sama rumah sakit ini, TMC Tasikmalaya."
"Oh, ya syukurlah semoga lancar gimana suasananya enak?"
"Ya begitulah Pak."
"Nanti pulang kerja langsung ke sana?"
"Nggak Pak malam ini libur, saya ke Tasikmalaya lagi besoknya harus sampai di sana sore sekitar setengah empat."
"Ya sudah sampaikan salam saya buat pimpinan di sana, saya kenal baik."
"Oh, ya Pak InsyaAllah saya sampaikan, saya permisi dulu."
__ADS_1
"Ya terimakasih, eh suster kalau sudah ada nanti suster kepala Harni di tunggu di ruangan saya."
"Baik Pak."
Dr Prabu keluar dan menghela nafas dalam dalam.
"Haaaaaaaa... suster Retno di depan mata di biarkan saja, payah nunggu apalagi sudah lupakan semuanya, mulai lagi dengan perasaan yang dulu jangan terlalu banyak mikir mungkin hati orangtuanya suster Retno sudah cair."
Dr Prabu hanya tersenyum getir tak semudah menata kembali dua hati yang terpisah lama dan sama-sama terkoyak sakit oleh keadaan.
Tak bisa di pungkiri hati dr Prabu begitu bergejolak melihat Retno di depan matanya walau hanya melihat dari samping, mendengar berbicara dan mendengar suaranya saja ada rasa sakit ke dalam hatinya akankah kita bisa bersama lagi? tak ada seseorang yang bisa menggantikan di hatinya, Retno orang yang di cintainya saat perasaannya dewasa.
"Sekaranglah apa yang akan dr Prabu lakukan di sini?"
"Saya hanya ingin melihat nanti malam Retno pergi dengan siapa, dan kemana, atau hanya di kamar kost-an nya saja?"
"Nggak usah nunggu nanti, itu mah nanti lagi, sekarang akan datang suster kepala Harni ke sini silahkan tanya-tanya dan bikin kesepakatan rahasia dulu seperti keinginanmu mungkin selama masa kerja di sini mereka akrab dan mungkin tahu cerita Retno."
Tok tok tok...
"Ya masuk."
"Pak Burhan memanggil saya?"
"Ya, betul silahkan duduk."
"Terima kasih." suster kepala Harni duduk dan mengangguk pada dr Prabu.
"Suster kepala Harni kenalkan ini tamu saya dr Prabu Seto Wardhana." suster kepala Harni tersenyum dan mengangguk sambil berjabat tangan, suster kepala Harni seperti pernah mendengar nama itu dan berpikir lalu teringat akan asistennya suster Retno.
"Dokter mau ketemu suster Retno?"
"Ssssssssst...saya hanya bagian dari masa lalunya suster Harni, saya telah salah meninggalkan Retno selama lima tahun tanpa khabar tanpa keputusan menggantung lah istilahnya, kami tidak putus hanya putus karena saling marah, dan sekarang saya bertemu lagi dengan Retno di tempat KKN di Tasikmalaya saya pimpinan rumah sakit TMC, dan Retno sendiri belum tahu siapa saya."
"Oh, jadi ini dr Prabu Seto Wardhana yang sering di ceritain suster Retno itu?"
"Sabar saya belum selesai." dr Prabu melihat ada kekesalan di muka suster kepala Harni.
__ADS_1
Bersambung...
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝