Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Merubah segalanya


__ADS_3

"Mas sudah keluar!"


"Belum, kan kata kamu sebentar lagi,biarin Bu Harni sudah tidur ini, Bu Harni mengerti kita sudah pada dewasa."


"Aku lempar nih pake bantal, kalau nggak keluar."


"Ayo, lempar aja sekalian sama kamu juga biar aku tangkap."


"Keluar kataku Mas!"


"Oke, aku keluar tapi kalau kita sudah bicara, kalau kamu nggak memberi kesempatan bicara aku nggak bakal keluar."


"Mau bicara apa lagi sih Mas?"


"Retno aku ingin melihat kamu itu nggak marah-marah saja sama aku, beri aku waktu untuk bicara, aku nggak meminta apa apa, karena aku sudah tahu hatimu, melihat kamu nggak marah-marah terus sama aku begitu senang rasanya, ayo lah jangan marah-marah, kan marah-marah itu menurunkan imun kita, kamu habis sakit nanti malah naik tensi kamu."


"Aku mau tidur mau istirahat, aku nggak perduli padamu Mas, kunci kamarku di meja ruang tamu, jangan mengobrak abrik kamarku, Mas cuma di izinkan tidur saja titik!"


"Aku hanya ingin kamu nggak berhenti KKN itu saja."


"Aku pikirkan semuanya satu malam ini, kenapa sekarang Mas begitu perduli? kemana saja dari kemarin-kemarin? besok pagi kita bicara sekarang Mas keluar."


"Heeeee...oke sayang kalau begitu kan enak kedengarannya, ya sudah sekarang aku keluar, selamat tidur ya, tapi aku nanti video call sebelum tidur aku mau melihat kamu sampai tidur."


"Aku bilang Mas keluar sekarang!"


"Iya, iya aku keluar sekarang juga, galak amat sayang." Dr Prabu mengusap kepala Retno dan membantu menarik selimutnya lalu keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


Di ruang keluarga suami suster Harni masih menonton tv dan berdiri saat dr Prabu keluar dan menghampirinya basa-basi sebentar dan mengantar dr Prabu ke paviliun kamar Retno.


Dr Prabu membuka kunci, memutar handle pintu dan membukanya perlahan, mencabut anak kunci dan memindahkan ke lubang anak kunci dalam dan melihat sekeliling ruangan di dalam.


Seperti masuk ke dalam ruangan masa-masa lima tahun yang lalu, menelusuri kembali memori yang lama di tinggalkan dan kenangannya bersama Retno seperti lukisan yang silih berganti menjadi tayangan slide dengan jelas silih berganti di dalam ingatannya dan di atas kepalanya, menggambarkan kebersamaan mereka merajut manisnya madu cinta dan sekaligus membayangkan kesendirian Retno di tempat ini dalam pengharapan nya, dalam penantiannya, dalam kerinduannya, terasa nyeri ulu hati dr Prabu mengingat segala perjuangan dan pengorbanan Retno.


Seperti kamar-kamar perempuan lainnya, rapi dan tertata semua pada tempatnya juga wangi khas lembut saat dr Prabu masuk dan menyalakan lampu, kamar ukuran lumayan gede untuk ukuran kamar kost ada motor matic, tempat tidur single dengan seprai pink, lemari baju, meja belajar yang juga meja rias dan sesuatu yang tak mungkin tiada dari kamar perempuan yaitu cermin, tv yang bisa di tonton dari atas tempat tidur dan kulkas mini, dr Prabu menarik nafas panjang dan menyapu dengan pandangannya ke seisi kamar hunian Retno, sejuta cerita di kamar ini bagi Retno, di sini Retno tidur dan beraktifitas dan mungkin mengingat dirinya atau merindukan dirinya, tak terbayangkan semua di jalani Retno dengan kesabarannya yang mungkin perjalanan paling berat sepanjang hidupnya.


Dr Prabu membuka kemejanya dan menyimpannya di kursi meja belajar dan merebahkan badannya di kasur itu dengan hanya mengenakan kaos dalam, mencium bantal yang wangi seperti wangi sang pemiliknya dan memeluk guling dalam dekapannya dan meraba-raba juga mengusap-usap kasur bantal dan semua yang terasa wangi seakan mencium aroma tubuh Retno saja.


Kerinduannya akan seorang Retno dalam hidupnya tak pernah padam sampai saat ini, tetap saja menjadi penghalang hadirnya seseorang di hatinya, walau kebencian dari awal perpisahan mereka begitu menguasainya tapi rasa cinta nya juga tak pernah padam.


Saat mengetahui Retno mengambil jalannya sendiri, hengkang dari rumahnya, memilih keluar dari ekonomi, dan mulai bekerja, perjuangan cinta yang tak terkira, dan perjalanan pencarian dirinya sungguh tak sebanding dengan perjuangan dirinya, semua tak di sesali Retno tapi sakitnya Romo nya Raden Haryo Atmojo begitu mengguncang perasaan Retno juga perasaan dr Prabu sendiri saat mendengarnya.


Dr Prabu meraba sesuatu di bawah bantal dan menyingkap nya terlihat laptop lalu di pandangnya, mungkin catatan hidup Retno ada di situ, lalu menyimpannya di atas meja belajar dan dr Prabu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan mulai membukanya, satu nama dari sekian banyak kontak di pilihnya, panggilan video masuk tapi tak di angkat, di ulang dan di ulang lagi dan akhirnya di angkat juga...


"Katanya mau tidur tapi masih saja ponselnya online, ya aku telephon."


"Ya suka-suka aku lah ngapain ikut campur?"


"Aku pengen banget ikut campur sama kamu, kapan kamu istirahat dan tidurnya kalau masih melihat lihat ponselnya, mending ngobrol sama aku."


"Tapi aku benci sama Mas."


"Nanti lama-lama juga jadi cinta lagi"


"Sebal amat iiiiiiiiiih...dasar!"

__ADS_1


"Biar nanti aku kasih obat, sama mual nggak sebalnya ? heeee..."


"Lama-lama aku banting nih ponselnya."


"Nggak apa-apa nanti aku gantiin nanti banting saja."


Klik sambungan telephon di matikan Retno dan Retno memasukkan ponsel ke bawah bantalnya tapi tak lama ponsel Retno berbunyi dan bergetar lagi, rrrrrrrrd... rrrrrrrrd... rrrrrrrrd...


Retno membiarkan ponselnya bergetar tapi lama-lama tambah ngeselin ini orang memang benar benar maunya apa sih? dan Retno mengambil ponsel miliknya lalu memencet tombol merah beberapa detik


dan mematikan ponselnya sekalian.


Dr Prabu tersenyum membayangkan Retno lagi cemberut dan menutupi wajahnya dengan selimut, sampai saat ini belum melihat senyum manisnya Retno, atau tertawa renyahnya yang begitu ingat di hatinya, tapi dr Prabu telah menciumnya dengan perasaan marah dan mungkin Retno menerima ciuman itu karena terpaksa juga, bukan karena kerinduannya, atau melepaskan rasa kangennya, tapi tak urung semua menjadi ingatan masing-masing begitu mendambanya keduanya, dr Prabu menyimpan ponselnya dan mengambil laptop Retno lalu menimbang-nimbang nya buka nggak? dan akhirnya bersila duduk di kasur membuka hanya ingin melihat kegiatan Retno saja, suruh siapa menyimpan laptop di bawah bantal, dr Prabu tersenyum sendiri.


Dari mulai membuka laptop lengan layar pembuka sudah ada tulisan background menu utama dengan tulisan yang membuat dr Prabu tertegun "Aku yakin badai pasti berlalu, dan aku yakin Mas Prabu akan datang menemui ku." dr Prabu menatap background dan hatinya mendapat keyakinan baru.


Aku datang Retno walau bukan seperti yang kamu harapkan awal- awalnya, maafkan aku kini aku baru menyadarinya betapa besar rasa cinta kita, lihat saja ke depannya aku tak akan melepaskannya hingga kamu jadi milikku walau aku tak tahu akan seperti apa sikap orangtuamu kini setelah berjalannya waktu selama lima tahun.


Itu akan menjadi perjuanganku sendiri, meyakinkan orangtuamu dan yang terpenting meyakinkan hati Retno sendiri.


Seperti harapannya, juga keyakinan dr Prabu selama ini mereka hanya berkutat dengan kerinduannya tanpa ada usaha hanya mengharapkan takdir yang entah kapan berpihak pada mereka, aku yakin Retno masih mencintainya seperti dirinya juga, sampai saat ini.


Lalu menutup kembali laptop itu tanpa membukanya lagi lalu merebahkan badannya di tempat tidur dan kantuk mulai menyerangnya dan dr Prabu terlelap dengan memeluk guling dengan wangi tubuh Retno.


Entah mimpi apa sebelumnya dr Prabu jadi tiba-tiba ada di sini, lupa segalanya, hanya satu yang paling di rasanya gairah hidupnya begitu tak terkira, seakan mendapatkan suntikan yang begitu dahsyat, kehadiran Retno yang belum sebulan di rumah sakitnya telah merubah segalanya, ya segala-galanya...


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝

__ADS_1


__ADS_2