
"Masuklah anakku, Ibu sudah mengira kamu akan datang ke sini, Ibu sama Bapak adalah orangtuamu kini, ini rumahmu juga datanglah setiap saat kamu mau dan ada waktu."
Air mata Retno tumpah dengan sendirinya dipelukan Ibu mertuanya, Retno tak mampu berkata apa-apa hanya kesedihan yang ditumpahkan, ingin mengurangi beban rasa di hatinya, ingin berbagi kesedihan yang Retno juga tidak tahu dengan siapa dirinya harus berbagi.
Datang pada mertuanya mungkin bisa mendapat sedikit pencerahan dari gelapnya mata hati Retno di balut permasalahan yang sedang meliputi rumahtangganya kini.
Retno masih bijaksana dalam memandang permasalahannya, Retno tidak menyebarkan aib suaminya kepada orang lain, tetapi Retno hanya ingin bertanya kepada kedua orangtuanya seandainya mereka tahu, tapi seandainya mereka tidak tahu Retno ingin membaginya dan bercerita.
Bapak mertuanya hanya duduk terpekur dan terhenyak tak tahu apa yang harus di lakukannya, juga di katakan nya sebagai kata pembuka pada menantunya.
"Ibu, aku tidak tahu apa semua masalah rumah tangga ku kini, itu sepengetahuan Ibu sama Bapak?"
"Duduklah dulu, Rahma tolong ambilkan minum buat kakakmu."
"Ya Bu." Rahma yang berdiri di pintu kamar menyaksikan Kakak iparnya menangis di pelukan Ibunya dan langsung ke arah dapur, datang dengan 2 gelas air minum di baki yang pasti entah untuk siapa satu
gelas lagi.
"Minumlah dulu biar hatimu tenang." Ibu mertuanya menyodorkan air minum pada Retno, Retno meminumnya beberapa teguk serasa seret air melewati tenggorokannya.
Sejenak semuanya diam, Retno tak ingin mengulang pertanyaan nya.
"Anakku, ada hal yang begitu perlu Ibu sampaikan dulu padamu sebagi orangtua, bukan maksud Ibu membela dan membenarkan tindakan dan kesalahan anak Ibu, tapi alangkah lebih bijaksana mendengarkan penjelasan, biar Nak Retno juga bijaksana menilai semuanya."
Retno diam, selama ini memang dirinya terpaku dan pikirannya tertuju pada permasalahan dan kasus yang membelit suaminya.
Emosi memang tak bisa di hindari lagi hingga dirinya hengkang dari rumah, justru ingin menghindari pertengkaran yang lebih meruncing juga tambah serius.
"Ibu dalam dilema anakku, saat datang Pak walikota ke rumah ini menyampaikan semua yang terjadi, Ibu syok, Ibu marah, Ibu kecewa, bahkan ingin Ibu tak memaafkan anak Ibu."
__ADS_1
Ada linangan air mata di mata tua Ibu mertuanya.
"Tapi semua sudah terjadi tak ada yang bisa di kembalikan ke semula, seperti jarum jam yang tak bisa kita putar ke arah sebaliknya, Ibu berfikir hanya mencari jalan keluar terbaik walau semua itu tetap akan menyakiti hati Ibu, hati kamu anakku, juga hati orang lain."
Ibu mertua Retno mengambil nafas yang begitu berat, berpikir agar bijaksana menjadi penengah di antara permasalahan anak dan menantunya.
"Apa daya Ibu saat itu Nak Retno? saat datang Pak walikota? Ibu mana yang akan kuat saat anaknya telah menyebar undangan pernikahan datang masalah yang begitu berat, di satu sisi Ibu ingin kamu tahu sebelum kalian melaksanakan akad nikah biar menjadi pertimbangan dan tak menjadi masalah juga duri di awal-awal pernikahan kalian, tetapi di sisi lain harga dirimu, juga keluargamu, harga diri anak Ibu juga keluarga Ibu di sini menjadi pertimbangan yang sangat berat bagi Ibu."
Ibu mertua Retno mengambil gelas yang masih utuh, meminumnya untuk sekedar melonggarkan perasaannya sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Ibu sakit, Ibu tak berani bertemu orang lain, muka Ibu seperti di timpuk kotoran kehinaan, sampai Anak Ibu datang memohon ampun dan mengatakan semua kebenarannya juga kesalahannya, dan berjanji akan menyelesaikan masalahnya." sampai di situ Ibu mertuanya berhenti bicara seperti tak kuat untuk berkisah kembali.
"Ibu, aku tahu masalahnya, juga keluarga di sini lebih tahu duluan, aku hanya ingin pendapat bijaksana Ibu apa yang seharusnya aku lakukan sebagai istri?"
"Anakku, dalam setiap rumah tangga akan ada masalah dan cobaan, jujur Ibu tak ingin berpihak pada siapapun, yang akan menyelesaikan masalah rumahtangga kalian adalah kalian berdua, tapi kalau sekarang masih begitu panas karena emosi masing-masing, lebih baik seperti yang Nak Retno lakukan ini menghindarlah saja dulu, sampai hati kita bisa berpikir dengan baik apa yang seharusnya kita putuskan."
Retno hanya menyeka airmatanya, sambil menunduk.
"Iya Ibu..."
"Tapi setidaknya diantara kalian masih begitu besar rasa cinta dan kasih sayang yang sudah terbangun, haruskah runtuh kembali tanpa ada kata maaf?"
"Ibu, aku sudah sering memaafkan Mas Prabu tapi untuk kali ini begitu sulit rasanya aku untuk memaafkan. Terasa bagiku penghianatan ini seperti pisau yang menusuk jantungku apalagi ini kejadiannya sebelum kita melakukan akad nikah dan terbongkar setelah aku sah menjadi istrinya."
"Ibu serahkan semuanya kepadamu anakku, kamu yang rasakan kamu yang menjalani, sekali lagi Ibu tidak berpihak pada siapapun lakukan yang terbaik menurut hatimu karena itu yang akan kamu jalani selanjutnya, hanya jangan sampai mengambil keputusan yang akan membuat kalian menyesal."
"Saran dari Bapak Nak Retno, jangan memutuskan apapun dalam waktu dekat ini cukuplah kalian berpisah dulu, Nak Retno di Bandung dengan kesibukan skripsinya, Nak Prabu di Tasikmalaya dengan keseharianya sampai kalian bisa benar saling mencari jalan keluar mencari keputusan yang paling tepat untuk di putuskan." Bapak mertuanya Retno ikut ambil dalam bicara hatinya ingin memberikan sumbangan pemikiran terbaiknya.
"Terimakasih Ibu, Bapak, aku keluar dari rumah bukan sebagai istri yang tidak baik, tapi seperti Ibu katakan tadi, menghindar pertengkaran dan emosi yang semakin hari semakin meningkat aku rasakan."
__ADS_1
"Iya anakku."
"Aku putus komunikasi dengan Mas Prabu dan aku tidak memakai lagi nomor telepon yang itu aku ingin tafakur diri introspeksi diri dan menenangkan diri, aku tinggal di Bandung Ibu, aku mencoba untuk menyelesaikan skripsi ku aku telah mengundurkan diri dari pekerjaan, dan aku akan fokus kepada skripsiku dan rencana kedepannya setelah selesai wisuda mungkin aku akan pulang ke Pekalongan meneruskan bisnis keluarga."
"Jalani apa yang Nak Retno anggap baik, apa yang harus Ibu katakan kalau anak Ibu pulang ke sini? haruskah Ibu katakan kalau kamu datang ke sini?
"Nggak apa-apa katakan saja, aku masih anak Ibu, aku masih menantu Ibu, aku berhak datang ke sini."
"Retno, maafkan Ibu, Bapak dan semua keluarga di sini, seandainya ada yang bisa Ibu dan Bapak lakukan katakan akan ibu usahakan untuk mengobati luka hati kamu."
"Tak ada Bu, seperti yang Ibu katakan hanya kami yang bisa menyelesaikan semuanya karena ini adalah rumahtangga kami, do'akan aku Bu semoga bisa kuat menjalaninya dan izinkan aku tinggal di Bandung, semoga berpisahnya kami dan jauhnya selama beberapa waktu kami, akan ada hal dan terbuka hatiku bisa memaafkan Mas Prabu."
"Semoga anakku, itu akan menjadi do'a-do'a Ibu untuk kalian."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
vote dan beri hadiah ya!
__ADS_1