
Retno kelihatan banget capeknya setelah beberapa hari ini mengikuti adat prosesi pra nikah, sebelum pernikahan banyak banget kegiatan yang harus dilaluinya, lanjut dengan resepsi ijab Kabul dan sekarang hampir satu malam tidak tidur begitu menguras tenaga dan staminanya.
Pantesan, kenapa orang tua zaman dulu selalu menjadikan jamu ramuan minuman wajib untuk pasangan pengantin yang baru melaksanakan pernikahan, dan melalui malam pertama mereka dengan fit dan sempurna.
Semestinya bisa dilalui semuanya tanpa halangan apa-apa, apa lagi sakit karena kecapekan. Orang tua memang selalu lebih mengerti dan mungkin kenapa tercipta jamu khusus untuk pasangan yang baru melangsungkan pernikahan.
Semua itu pasti berdasarkan pengalaman yang mereka alami.
Dr Prabu bangun duluan karena memang dia tidak tidur semalaman, tersenyum melihat istrinya masih dalam balutan selimut setelah bercinta semalaman.
Dr Prabu hanya memandang wajah Retno dengan perasaannya sendiri, menjaganya hingga Retno bangun kembali lebih tepatnya di bangunkan setelah beberapa kali melakukan hubungan suami istri sebagai kewajiban pertama kali mereka berdua.
Menatap Retno dengan berjuta perasaan cintanya, Retno yang telah memberi kebahagiaan pada hidupnya, telah memberi kenikmatan di malam pertama yang baru saja mereka reguk bersama.
Dr Prabu keluar kamar mandi Retno masih saja terlihat dalam selimut dengan nyamannya.
Dr Prabu mendekat memegang kening istrinya dengan bagian atas empat jarinya, mengecek suhu takutnya istrinya demam karena kelelahan. Tapi sepertinya normal saja. Hanya kecapekan yang luar biasa.
Dr Prabu menyingkap anak rambut yang menutupi sebagian wajah Retno, mencium pipi istrinya sambil berbisik di telinganya. Entah apa yang di bisikin nya tapi mampu membuat Retno menggeliatkan badannya dan membuka matanya lalu duduk bangun dengan selimut menutupi dadanya.
Dr Prabu tertawa memeluk kembali Retno yang duduk di tempat tidur dengan balutan selimut.
"Mas sudah mandi?"
"Sudah dong."
"Dingin ya? kenapa aku jadi malas bangun dan mandi."
"Tadinya kalau masih belum bangun juga biar aku serang lagi."
"Sudah melebihi kapasitas minum obat itu juga Mas, lebih dari tiga kali. Baru setengah jam lalu Mas terbang, masa iya mau bangun serangan lagi?"
"Haaaaaaaa... kamu bisa aja, sudah bangun ya, mandi nanti terasa segar kembali, kalau masih di tempat tidur malah memancing aku lagi takutnya kamu over dosis nanti."
Dengan manja Retno memeluk kembali laki-laki yang sangat di cintainya.
"Makasih sayang untuk malam pertamanya" dr Prabu membelai kepala Retno dalam pelukannya.
"Mas nggak usah berterimakasih, aku juga begitu bahagia, Mas telah memberikan pengalaman pertamaku dengan penuh cinta."
"Biarkan aku membahagiakan hidupmu sayang, begitu banyak waktu kita yang terbuang."
"Kita telah di satukan oleh cinta dan pernikahan, kita tak akan berpisah lagi."
"Kamu adalah kebahagiaanku sayang, dan segalanya dalam hidupku kini."
Retno tersenyum melepaskan pelukannya perlahan, dr Prabu memperhatikan Retno memakai pakaiannya yang beberapa kali dipakai beberapa kali dibuka semalam ini dan akhirnya tidak memakai pakaian sama sekali sampai Retno tidur kelelahan.
Dr Prabu membimbing Retno turun dari tempat tidur, mencoba berjalan biasa.
"Sudah mas aku nggak apa-apa, jangan terlalu khawatir aku sudah penyesuaian, Mas sudah lama tidak menyuntik orang tiba-tiba menyuntik aku dengan emosi yang meledak-ledak aku awalnya kewalahan tapi selanjutnya..." Retno berhenti bicara sambil tersenyum memandang suaminya menggoda.
__ADS_1
"Selanjutnya apa?" Dr Prabu merasa penasaran.
"Ah, nggak jadi deh heee..."
"Ayo jawab, selanjutnya apa hemght...?"
"Selanjutnya aku suka!"
Dr Prabu tertawa sambil menangkap kembali Retno yang sudah turun dari tempat tidur.
Memeluknya kembali dan menciumnya bertubi-tubi, menyingkap kembali baju tidurnya dan menenggelamkan wajahnya di dada Retno dalam posisi berdiri dan dr Prabu duduk di tempat tidur, memainkan kembaran puncak sensitif sesuatu yang hangat di situ.
"Ah, Mas udah aku nggak mandi-mandi jadinya lihat sudah siang tuh."
"Biarin, semua orang juga tahu kalau kita habis ngapain."
"Mas, geli tahu udah ah aku mau mandi dulu, kita nanti beres-beres kan sorenya kita berangkat ke Tasikmalaya sama keluargaku."
"Aku nggak mau, karena kamu menggodaku jadi sekarang nambah ya."
"Mas, kan Mas sudah mandi?"
"Nggak apa-apa nanti kita mandi lagi bareng." dr Prabu tak berhenti sampai di situ, kembali membopong tubuh istrinya mengembalikan ke tempat tidur dan melucuti semua yang menutupinya termasuk pakaian yang melekat di tubuhnya.
Memulai kembali sesuatu pengalaman pertamanya dengan sangat menyenangkan.
"Sayang, kita baru satu malam melakukannya dan itu hanya pada posisi klasik saja, nanti kita eksplore gaya yang baru lagi ya heee..."
"Terserah Mas aja."
"Ya ampun, Mas Prabu aku nggak habis pikir apa orang lain seperti ini di malam pertama mereka?"
"Maksudnya apa sayang?"
"Mas berapa babak malam ini?"
"Aku nggak ngitung, apa kamu punya hitungan sayang?"
"Nggak." Retno menggeleng.
"Kalau gitu kita melakukannya cuma satu kali saja."
"Iya satu kali tapi ujung-ujungnya ke situ juga."
"Haaa...ketus banget sayang, jangan gitu dong...ikhlas ya."
Retno menyeringai sambil agak meringis, bangun dan berjalan ke kamar mandi diikuti dr Prabu yang akan mandi kembali.
Retno berdiri dekat shower memandang suaminya yang mengikutinya. Pakaiannya masih belum di buka, seperti ada rasa malu pada dirinya sendiri.
"Kok belum mulai mandinya?"
__ADS_1
"Ayo Mas aja dulu."
"Sayang, kita ini adalah suami istri kita sudah sah untuk melakukan apapun juga, tidak ada larangan tidak ada tabu ayo kita mandi bareng."
"Aku malu Mas."
"Malu sama siapa?"
Retno diam dr Prabu menghampirinya lalu memeluknya dan menciumnya perlahan, seperti tidak ada kata bosan dan kenyang untuk melakukan pernyataan sayang dan cintanya.
Perlahan dr Prabu membuka pakaian Retno, sangat perlahan... dan baju tidurpun jatuh ke lantai kamar mandi. Pemandangan yang begitu indah tersaji seutuhnya.
Retno gelagapan dan berusaha meraih handuknya, tapi tak terjangkau keburu dr Prabu memeluknya.
Menariknya perlahan tangan Retno ke bawah shower dan mengguyurnya bersama-sama.
"Ini nikmatnya suami istri sayang, kita bisa melakukan apapun yang kita sukai bersama-sama."
"Mas."
"Hemght..."
"Aku ingin seperti bulan madu, menjalani pernikahan kita."
"Tentu saja sayang, kita ciptakan kemesraan setiap waktu dan hari-hari kita."
Retno mengalungkan tangannya di leher suaminya, merasakan sentuhan badan saat keadaan basah dan licin, sensasi lain memang tercipta.
Retno selesai duluan dan kedinginan lalu memakai piyama mandinya sambil memandang tubuh gagah suaminya yang masih bersih-bersih dalam keadaan tak berbusana. Retno tersenyum sendiri sambil mengelap rambutnya dengan handuk.
Pikirannya traveling ke awal sentuhan menggairahkan malam pertama mereka, seperti tak pernah ada rasa capek Mas Prabu semalaman mencumbu dirinya sampai berkali-kali mencapai puncaknya.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
...MENITI PELANGI...
...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...
__ADS_1
...vote dan beri hadiah ya!...