Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Makan malam


__ADS_3

"Mas Imam, kalau boleh Aku tanya apa sih kesukaannya? selama ini tak pernah memperlihatkan apa yang di sukanya? apa olahraga, jalan-jalan, nonton, dengerin musik atau hal lainnya," ucap Vionna saat duduk di samping dr Imam setelah sekian lama Vionna menunggu baru kali ini dr Imam bisa pergi bareng.


"Aku suka olahraga tapi akhir-akhir ini semua kalah oleh kesibukanku," sahut dr Imam sambil melirik Vionna di sampingnya.


Dr Imam bingung mau pergi ke mana yang kira-kira bisa enak ngobrolnya, bioskop terlalu romantis kalau bukan sedang pacaran, ke taman kota seperti mengirit banget, masa bawa jalan jalan seorang manager ke taman kota seperti mau bawa anak main saja, ke Mall? ke pasar malam? ke kafe? ah! semua bikin pusing.


Akhirnya dr Imam hanya muter-muter sambil berpikir baiknya pergi ke mana, Vionna seperti mengerti kebingungan dr Imam.


"Mas! kalau bingung kita mau pergi ke mana boleh minta referensi ku, tapi kalaupun cuma muter-muter begini juga tak apa, Aku menikmatinya kok daripada di rumah," ucap Vionna, tapi begitu kedengaran menyindir.


Perasaan bersalah dr Imam begitu terlihat saat dirinya tak memperlihatkan raut muka gembira dan tak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya di depan Vionna.


"Baiklah, kamu mau pergi ke mana? Aku ikuti keinginanmu," sahut dr Imam sambil berusaha tersenyum yang sangat di paksakan.


"Sejak tadi Aku berusaha tidak makan karena menunggu Mas, takutnya mengajak makan malam, boleh Aku minta makan dulu?" jawab Vionna begitu lugas.

__ADS_1


Deg! Astagfirullah kenapa Aku sampai tidak terpikirkan akan hal makan?


"Maafkan Aku Vio, Aku terlalu sibuk jadi capek tak terpikirkan apapun, pikiranku malah tidak fokus," sahut dr Imam sambil membelokkan mobil ke parkiran satu rumah makan terkenal di kotanya.


Tanpa banyak bicara dr Imam turun duluan dan membukakan pintu samping satunya bagi Vionna.


Dr Imam berjalan, tanpa di pinta atau diizinkan Vionna langsung menggandeng sebelah lengan dr imam yang berjalan di sampingnya.


Dr Imam merasa risih tapi masa harus menolak atau menghindar? sedang Vionna begitu tanpa beban melakukannya seolah biasa dan lazimnya bagi dua orang pasangan. dr imam membiarkannya.


Tapi kalau dipikir mungkin dirinya terlalu sadis merusak suasana makan dan mematahkan hati Vionna, tapi seandainya tidak dikatakan juga akan menjadi bumerang bagi dirinya seakan memberi harapan dan angin segar bagi Vionna.


"Sebagai permintaan maafku, Aku serahkan Kamu yang memilih menu makan malam kita kali ini," ucap dr Imam setelah mereka mengambil tempat duduk di paling pojok.


"Tak usah meminta maaf, Aku memakluminya, Aku yang merepotkan di sini," ujar Vionna sangat manis banget.

__ADS_1


"Mas, Aku tahu kalau Mas Imam tidak suka dengan kehadiranku di sini mungkin mengganggu atau hal lain, tapi demi mengikuti keinginan Ibu Mas Imam jadi berusaha memperlihatkan sikap baik di depanku," ucap Vionna sambil tersenyum.


"Vionna? Aku Tidak bermaksud begitu hanya mungkin waktu kita tidak tepat Kamu mengambil cuti sedangkan Aku dalam masa kerja hanya itu."


"Mas, Aku juga tahu diri kalau kehadiranku di sini tak di harapkan Mas Imam, cukup tiga hari saja Aku di sini besok mau pulang, tapi tadinya Aku berharap mau berteman saja dulu mengikuti keinginan orangtua kita, Apa salahnya kita coba jajaki jalan dan jalin hubungan baik tapi sikap keterpaksaan Mas Imam dengan berbagai alasan cukup itu jawaban buatku," ucap Vionna sambil mengocek gelas jus di hadapannya. Raut mukanya begitu kelihatan muram.


Dr Imam terhenyak, Vionna lebih pintar dari dirinya, bisa membaca keadaan dan sikap dirinya, kini semua kata-katanya hilang dari pikiran dr Imam menjadi perasaan bersalah yang begitu besar di dalam hati dan perasaannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2