Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Praktek di datangi Vionna


__ADS_3

Dr Imam masuk seakan tak tahu saja ada Intan di bagian depan sedang bersama Suster Erna mengumpulkan kartu pasien dan semua sudah melakukan timbang rutin dan tensi lalu memasukkan data di kartu pasien itu.


Sejenak dr Imam melihat mengamati sosok Intan dengan tubuh tinggi langsing yang selalu dipeluknya dengan penuh cinta sambil mengukir harapan indah masa depannya.


Tapi kini Intan sedang tidak baik-baik saja, marah-marah dengan alasan yang memang harusnya cepat Dirinya selesaikan.


Ada kebahagiaan di hati dr Imam, banyak kesempatan untuk bisa membuat Intan bisa tersenyum kembali.


"Suster Erna tolong ke sini dulu, ada suster Intan ya?" dr Imam memanggil Suster Erna yang biasa mendampinginya praktek setiap harinya.


"Iya Dok, gimana kita mulai saja?" tanya Suster Erna pada dr Imam.


"Tolong Intan di dalam dulu dan suster Erna di luar memanggil antrian, biar Aku sedikit ada pelajaran dan pengenalan buat suster Intan yang pemula," sahut dr Imam.


Suster Erna mengangguk mengerti. Juga tahu kalau mereka ada hubungan membiarkan berdua itu mungkin keinginan yang biasa.


Semua bawahan pasti akan menghargai atasannya, begitu juga Suster Erna mengerti semuanya walau bukan untuk hal lain tapi kalau orang lagi pacaran berdekatan dan bertatapan juga pasti sudah merasa senang dan bahagia.


Intan masuk dan duduk di hadapan dr Imam yang tersenyum melihat mahluk cantik di hadapannya.


"Halo Sayang, akhirnya kita berdua di sini," ucap dokter Imam sambil memegang tangan Intan dan menatap mata yang indah di hadapannya.


"Mas, ini suasana kerja! kenapa begitu senang pagi ini, apa karena seseorang teman sarapanmu di rumah?" sewot Intan langsung menarik tangannya, Intan ketus bicaranya.


"Ssssst... jangan marah dong, Aku senang melihat Kamu Intan walau lagi marah-marah, nanti kita makan siang ya," lanjut dr Imam lagi sambil senyum menatap bibir merah jambu Intan dan menangkap lagi tangan Intan.


"Senyum dong, sadar nggak kalau senyum kamu itu membuat Aku tak mau sarapan karena langsung kenyang dan tak berselera lagi," ujar dr Imam mengeluarkan jurusnya menggoda Intan.


"Pagi-pagi sudah di suguhi gombalan bikin Aku juga nggak mood makan siang sepertinya," sahut Intan seperti membalas apa hang dikatakan dr Imam.

__ADS_1


"Hahaha ...."


"Ini mau di mulai tidak prakteknya? kasihan semua pasien sedang hamil menunggu terlalu lama dokternya yang lagi menggombal!" sahut Intan membuat dr Imam tertawa lagi sendiri melihat Intan sudah seperti Suster kepala Miranti saja saat memberikan perintah dan mengingatkan. Lucu memang tapi dr Imam senang bukan kepalang rasanya ingin mengigit saja bibir Intan yang baru beberapa kali saja Dirinya rasakan kehangatannya.


"Maaf Intan karena Aku begitu senang bisa bersamamu, kapan Kamu bisa periksa kehamilan ya? rasanya Aku sudah tak sabar Sayang," ucap dr Imam sambil pasang muka serius. Tapi maksudnya tetap menggodanya.


"Mas! malah jauh berkhayal nikah dulu baru hamil, jangan ngaco ah kita mulai saja ya!" sahut Intan merasa nggak enak, merasa mempermainkan orang yang mengantri di luar sana.


"Boleh silahkan di mulai antrian pertama ya Suster cantik, panggil dulu pasiennya lalu nanti arahkan dan bantu ke ruang periksa setelah konsultasi dengan ku dan Kamu bubuhkan gel di perut bagian bawahnya saat mau di USG," ujar dr Imam sambil senyum pada Intan yang kelihatan memang begitu begitu cantik dalam balutan pakaian kerjanya.


"Baik dok,"


Intan memulai kerjanya, begitu cekatan semua dikerjakan, menurut aturan yang di perintahkan tanpa mengeluh dan sudah beberapa pasien dr Imam tangani dan keluar bergantian sesuai nomor antrian.


"Minum dulu Sayang, apa sudah sarapan? ini ada teh manis minumlah, biasanya juga Kita minum satu gelas bersama," sapa dr Imam setelah satu pasien keluar dari ruangannya sambil tersenyum pada Intan.


Intan hanya diam sambil memegang kartu pasien di tangannya dan duduk di kursi pojok di bawah monitor layar USG.


"Mas, kenapa sih selalu saja begitu? sarapan kek di rumah! Aku sudah bikinkan dengan segala kemampuanku, tolong hargai semua usahaku Mas, bukankah sebentar lagi kita menikah?" Vionna datang dengan makanan di tangannya, mungkin buatannya pagi tadi, lalu di taruh di meja dr Imam.


"Vionna? kenapa ke sini? Aku lagi kerja! tolong jangan bikin ribut di sini, ini suasana rumahsakit banyak pasien di luar sana menunggu antrian!" dr Imam berdiri dengan muka merah tanpa melihat bagaimana reaksi Intan di sebelah sana.


"Pokoknya, Aku akan selalu mengirimkan makanan ke sini, siapa tahu bertemu dengan ibu-ibu yang ganjen tak jelas lagi di sini yang menjadi langganan Kamu biar Dia tahu siapa Aku!" ucap Vionna susah di mengerti bagi Intan yang mendengarnya di sisi tembok sebelah kiri.


"Vionna, jaga bicaramu! Aku sudah bicara berulangkali kalau Aku tidak bisa mengikuti keinginan orang tuaku dan juga tidak bisa bersamamu karena seseorang yang Aku cintai ada di sini," jawab dr Imam sambil sekilas melihat Intan yang berdiri dengan tatapan tanda tanya besar.


"Aku tak perduli! karena orang tuamu telah meyakini kalau kita selama ini setiap malam selalu tidur bersama, dan akhirnya Kita akan menikah juga," ucap Vionna sambil tersenyum sarkas.


Intan berlari melempar kartu pasien ke meja dr Imam, lalu keluar menabrak sebelah lengan Suster Erna yang bengong di pintu.

__ADS_1


"Intan!"


"Intan!"


Intan terus saja berlari ke ruangan Kakaknya dan masuk tanpa mengetuk pintu.


Dr Prabu yang sedang duduk di kursinya kaget dan Retno yang baru keluar kamar mandi juga merasa heran kenapa Intan masuk dalam keadaan menangis.


"Intan ada apa?"


"Iya Intan, kenapa?" timpal Retno sambil duduk di samping Intan.


Intan merasa syok memang seharusnya dirinya memperlihatkan kalau diantara Dirinya dan dr Imam memang berhubungan serius selama ini dan telah di jalani cukup lama.


tapi semua tak terpikirkan sama Intan untuk bisa melakukan kalau dirinya punya power dan kekuatan kalau hubungan cinta mereka begitu serius.


Bahkan sempat terpikirkan sama Intan akan hal di luar otak sehatnya, atas nama cinta Intan rasanya ingin menyerahkan dirinya saja biar semua menjadi kekuatannya tapi di sadari dengan kesadarannya akhirnya semua itu menjadi sesuatu hal konyol yang mungkin kalau dirinya pilih jalan itu, yang pasti bukan kemudahan yang akan dirinya dapatkan tetapi malah kesusahan mending kalau semua itu bisa dr Imam bertanggung jawab kan tetapi kalau tidak dirinya yang akan menyesal seumur hidup nya.


Intan akan menyesal seandainya kehormatannya di serahkan sebelum waktunya, kini semua itu tak menjadi pilihannya lagi apalagi saat tahu begitu gigihnya wanita yang bernama Vionna itu mengejar kekasihnya dr Imam.


Intan juga bertekad ingin menempel apapun alasannya, Dirinya merasa lebih berhak.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2