
"Kenapa Mbak Retno kini selalu ikut Kak Prabu kerja?"
"Aku ingin ketenangan Intan. Kalau di rumah mungkin hanya melamun saja kalau di sini bisa menemani Mas Prabu kerja apalagi hamilku sudah mau menginjak delapan bulan harus banyak jalan-jalan biar persalinanku lancar nanti." ucap Retno pada Intan.
"Aku numpang di sini dulu ya Mbak sambil nunggu Mas Imam datang katanya ada keperluan keluarga jadi belum praktek semua telah siap Suster Erna juga ada di ruang suster jaga."
"Oh, jadi dr Imam belum datang?"
"Belum Mbak, tadi Aku di suruh menyampaikan pada Suster kepala Miranti paling telat setengah jam sampai satu jam saja," sahut Intan sambil melihat-lihat ponselnya.
"Intan, sebenarnya Aku ingin bertemu dengan Alya dan menyakinkan apa tujuannya mendekati Mas Prabu lagi dengan alasan mengajukan kerja sama di Yayasan yang orangtuanya dirikan juga kedengarannya hanya alasan konsultasi juga program kehamilan pada dr Iman itu sepertinya. Jelas tujuannya tidak baik jadi Aku merasa takut Alya menjebak lagi suamiku Intan."
"Waduh, gimana ini Mbak?"
"Aku bersyukur ada Kamu di sini Intan Aku merasa ada teman dan sedikit bisa melihat kalau ada Alya ke sini pastikan semua baik-baik saja hanya itu Intan. Mbak nggak mau terganggu sama hal hal lain yang membuat tidak nyaman rumah tanggaku ini," ujar Retno mulai jujur dengan kecemasannya walaupun Intan juga sedang banyak masalah dalam hubungannya yang sampai saat ini belum ada titik terang juga keterbukaan orang tua dr Imam dalam memandang hubungan mereka.
"Baik Mbak yang Aku bisa pasti Aku jalani, tapi kenapa Mbak mengajukan cuti lahiran begitu jauh kalau memang masih ingin beraktivitas?"
"Itu keinginan Mas Prabu. Dia yang atur semuanya kalau urusan pekerjaan ku mungkin karena terlalu protektif saja, jadinya Aku bosan begini biasa beraktivitas jadi di rumah banyak melamun."
Lagi ngobrol di ruangan kerja dr Prabu Intan mendapat telephon dan langsung menjawabnya.
"Baik Sus Erna Aku segera ke situ!" telepon di tutup dan Intan memasukkan ke tasnya.
"Mbak, dr Imam sudah datang Aku kerja dulu ya."
"Oh, iya Intan. Ingat pesan Mbak tadi ya semoga kerjanya menyenangkan," ucap Retno sambil tersenyum melihat Intan gembira mendengar dr Imam sudah datang.
Intan pamitan dan berjalan tergesa. Walau janji sarapan bareng tidak jadi tapi seharian akan bersama orang yang di cintainya dalam suasana kerja tentunya tapi semua itu begitu menyenangkan hati Intan.
Sampai di ruangan dr Imam sudah duduk di mejanya Intan langsung mengangguk mengambil absensi pasien.
"Pagi dok, mau mulai sekarang karena pasien kasihan sudah menunggu," ucap Intan sambil memandang wajah kekasihnya.
"Sebentar Aku ambil nafas dulu, banyak pasien yang mau kontrol hari ini?"
"Baru lima belas dok, yang sudah daftar dan di dinyatakan hadir," sahut Intan membereskan lagi alat di ruangan USG di belakang dr Imam duduk.
"Intan, Aku senang banget hari ini. Aku sudah mengantar Vionna pulang barusan ke stasiun Aku merasa bebas dari tanggung jawab yang dibebankan orang tuaku untuk mengantar Vionna ke mana Dia mau untuk selalu berada di rumah menemani mereka makan," ucap dr Imam memandang Intan.
"Syukurlah Mas, nanti saja bicaranya kasihan pasiennya ya kita mulai saja Aku panggil sekarang antriannya?"
__ADS_1
"Nanti dulu sebentar saja Aku ingin memelukmu Intan karena Aku bahagia banget."
Dr Imam langsung memeluk Intan yang sedikit berontak dr Imam berganti dengan mencium pipi Intan lalu tertawa, Intan kelihatan pipinya merona dan cemberut merasa ini bukan saatnya dan bukan pada tempatnya mereka memperlihatkan kemesraan.
"Ya sudah silahkan mulai!"
Ada kesenangan tersendiri saat bekerja dengan seseorang yang kita cintai tapi semua banyak memanfaatkan waktu yang seharusnya buat kewajiban kerja.
Dr Imam memakluminya kalau dalam batas wajar semua biasa saja asal jangan keterlaluan saja.
Sampai pada antrian terakhir Intan kelihatan capek tapi waktu tanggung pasien di habiskan sudah jam satu siang tapi mereka baru selesai menutup praktek.
Suster Erna masuk membereskan peralatan dan Intan membantu membereskan meja kerja dr Imam, membuang sampah tissue bekas lap gel dan melipat kembali selimut penutup tempat tidur di ruang USG.
Dr Imam juga kelihatan capek tapi mukanya tetap ceria mungkin seperti katanya tadi hari ini dirinya merasa bahagia.
"Suster Erna, Aku mau ngobrol sama Intan dulu di sini sudah selesai kan semua pasien paginya?"
"Oh, sudah dok silahkan tapi jangan lama-lama kasihan Suster Intan kelihatan lapar belum makan siang lho!"
"Sepertinya ngobrol sama Aku juga hilang laparnya hehehe...."
Intan hanya senyum-senyum saja dan langsung duduk di hadapan dr Imam sebrang meja kerjanya, Suster Erna keluar sambil mengangkat alisnya melirik pada Intan lalu menutup pintu.
"Nggak."
"Serius hanya melihatku saja benar nggak lapar?"
"Ada apa Mas? mending kita ke ruangan Kak Prabu saja yuk ada Mbak Retno di sana."
"Enggak ah, apalagi Ada Mbakmu di sini saja nanti malam baru ke rumah Mbakmu takut mengganggu mereka yang lagi berduaan."
"Memang di sini Kita mau ngapain?"
"Mau memandang Kamu sepuasnya Intan!"
"Huh! dasar nggak ada kerjaan, jujur Aku lapar Mas," gumam Intan perlahan.
"Nanti Aku sudah pesan akan diantar ke sini kita makan di sni saja nggak apa-apa kan?"
"Ya sudah...."
__ADS_1
"Intan Aku mau bicara serius sama Kamu dulu boleh kan?"
"Soal apa Mas?"
"Soal Kita berdua, Aku merasa Kita harus segera menikah saja Intan dan Aku akan segera melamar mu tapi akan bicara dulu sama Kakakmu nanti malam semua itu begitu spontan Aku pikirkan, tetapi tidak mengurangi semua rasa dan keinginan baik ku bagaimana menurutmu Intan?" Dr Imam malah balik tanya Intan.
Aku belum memikirkan semua itu Mas, tapi kalau Mas Imam mau minta pertimbangan dan pendapat Kakakku silahkan saja mungkin Aku hanya mendengar dan mengikuti Apa saran Kakak dan orang tuaku saja kalau memang itu yang terbaik Aku setuju saja."
"Makasih Intan."
"Tapi kenapa Mas? bukankah Mas belum mendapat izin dari orangtua Mas sendiri? gimana nantinya?"
"Justru yang mau Aku bicarakan itu. Aku mungkin menentang orang tua kalau dalam hal cinta dan masa depanku. Biarlah Aku yang akan menentukan dua hal itu tadi dalam hal ini kalaupun Aku tidak direstui Aku akan memaksa."
"Apa itu jalan yang terbaik Mas?"
"Kalau memang seperti itu jalannya," jawab dr Imam pasti.
tok tok tok
Dr Imam bangkit membuka pintu. Pengantar makanan datang lalu mengambilnya membayar dan menutup pintu kembali.
"Makan dulu yuk?"
"Aku jadi nggak selera Mas."
"Kenapa?"
"Kenapa semua begitu cepat dan memaksa? Maaf Intan, Aku seperti di buru waktu Aku tidak bermaksud apapun hanya ingin memperlihatkan keseriusanku padamu. Nanti kita bicara lagi mungkin itu saja permulaan bicaraku, Ayo makan dulu."
Intan membuka box makanan yang di pesan dr Imam, dr Imam memandang wajah Intan yang kelihatan mendung."
Harusnya bukan mendung seperti ini saat mendengar seorang kekasih ingin memperlihatkan keseriusannya tetapi apa mau dikata hubungan mereka belum mendapatkan izin dan restu dari orang tua dr Imam entah akan seperti apa nantinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️