Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Alya bikin sakit kepala


__ADS_3

Dr Prabu blingsatan matanya menyapu semua sudut ruangan yang begitu luas, sampai nggak sadar Alya menguntitnya dan tak henti memujinya atas permainannya tadi, juga ungkapan kekagumannya pada dirinya.


"Dok kok cepat-cepat banget sih, emang ada apa seperti ada gawat darurat saja?"


"Lebih dari gawat darurat Alya, aku harus cepat keluar ruangan GOR ini."


"Kan kalau gawat darurat sudah ada team nya di UGD?" Alya semakin salah jurusan dan semakin pening jidat dr Prabu.


"Alya ayo aku antar dulu kamu sampai parkiran, kamu bawa motor apa mobil apa naik angkutan umum?"


"Aku belum mau pulang kok dok, biar aku tunggu di ruangan mu saja, di kira dokter masih mau duduk manis sama aku di kursi penonton menonton permainan partai selanjutnya." Alya memperkirakan dan menginginkan seperti itu, semakin pening saja dr Prabu lalu memijat dahinya sendiri.


"Alya aku nggak nyaman dengan keringat seperti ini aku harus pendinginan dulu, dan aku banyak minum aku butuh toilet."


"Sini aku bawakan raket sama ranselnya, nih air minum dan handuknya." bagai kerbau di cocok hidungnya dr Prabu mau tidak mau menurut pada Alya sedangkan dalam hatinya berpikir seandainya Retno melihat mungkin akan seperti apa sikap dan perasaanya. Sekarang juga posisinya diambil alih Alya, akan seperti apa marahnya, kepala dr Prabu sepertinya butuh obat sakit kepala yang sangat kuat.


Mungkin karena sedang marah Retno tiba-tiba menghilang dan akan terjadi perang dingin lagi itu sudah dapat dipastikan, ya ampun apa lagi semua ini kok seakan tak pernah usai cerita perang ini intinya saling cemburu, dan saling perlihatkan dendam dengan balas balasan, cinta yang begitu besar menjadikan satu sama lain posesif pada pasangannya.


Dr Prabu berjalan bersisian dengan Alya keluar dari GOR dengan perasaan nggak enak hati, sungguh hari yang tak terduga bagi dirinya hari sakit kepalanya seperti cekot-cekot di dalam kepalanya.


Di depan ruang perawatan bertemu dengan suster kepala Miranti yang sudah siap dengan kostum olahraga, karena akan maju juga di tunggal putri di babak penyisihan selanjutnya.


"Pak Prabu, sukses set nya tadi?"


Dan memandang seorang cantik di sampingnya dengan sedikit mengerutkan keningnya, dan bukan putri saudagar batik dari Pekalongan yang ada di sisinya, apa Retno bagian main juga? entahlah.


"Alhamdulillah suster, saya maju ke babak selanjutnya."


"Sukses Pak Prabu!"


"Ya ya ya...apa suster melihat anak anak KKN yang menjadi peserta turnamen tidak?" dr Prabu menaikkan kedua matanya.


Suster kepala Miranti tersenyum penuh arti, Rasain! berarti lagi mencari, apa takut ketahuan atau sudah ketahuan? dan putri dari Pekalongan sepertinya ngambek dan menghilang.


"Sepertinya lagi ikut menangani pasien di UGD, maaf karena saya bagian main sekarang jadi saya nggak ikut ke UGD dan saya tak melihat satupun anak-anak KKN. Tolong di cari ya Pak Prabu, sekalian para pemainnya apalagi yang ambil bagian di permainan turnamen ini." Suster kepala Miranti berlalu sambil senyum.

__ADS_1


Sialan! bukannya memberi solusi malah seakan tahu masalahku dan memojokkan ku.


"Dok siapa tadi itu?" Alya sok ingin tahu.


"Suster kepala Miranti atlit juga dan ikut turnamen juga, kandidat juara juga, pemegang piala bergilir tunggal putri."


"Wah rupanya sampai karyawannya juga pada senang olahraga ini ya dok?"


"Ya, bahkan sampai mahasiswa yang lagi KKN juga pada gemar olahraga ini dan pada ikut di turnamen ini."


"Senang sekali dok, tapi sayang aku belum bisa main dan akan mulai berlatih untuk lebih suka pada olahraga ini."


Terlambat Alya, mungkin kalau dari awal kenal kamu sudah mengerti olahraga ini pasti akan ada perbincangan menarik antara kita.


"Silahkan tunggu di dalam, aku ke toilet dulu akan ada yang aku bicarakan sama kamu nanti aku ganti pakaian dulu."


"Oke dok, silahkan!"


Dr Prabu mencuci kaki dan tangannya dan berganti pakaian lalu duduk di kursi samping jauh dari Alya. Alya tersenyum merasa menang hari ini begitu bisa dekat dengan dr Prabu sedang dr Prabu begitu tak tenang hatinya kemana perginya Retno sama si semprul Rendra, jangan-jangan di ajak makan siang semoga saja mood Retno nggak ada nafsu makan siang ini.


"Soal apa tuh?"


"Emght...soal kita."


"Apa secepat itu dok?"


"Bukan Alya, bukan soal kita maaf-maaf"


"Katanya tadi soal kita, Iya aku ngerti soal dokter pribadi yang sulit ungkapkan perasaan?"


"Alya aku sudah punya pacar!"


"Maksudnya?"


"Ya seperti itu, dan kami berhubungan sudah lebih dari lima tahun, maaf untukmu Alya aku mengerti perasaanmu dan terimakasih atas perhatian kamu entah cara ini benar atau salah aku berusaha jujur sama kamu, agar diantara kita tidak ada kesalah faham an lagi."

__ADS_1


Deg! jantung Alya serasa di tonjok dengan kayu yang begitu besar, terasa nyeri ulu hatinya dan sakit yang di tahan dengan muka yang seolah biasa saja tapi dr Prabu melihat kekecewaan di sorot mata Alya.


"Benarkah itu dokter? berarti aku juga salah mengartikan perhatian dokter selama ini."


"Dan kita masih bisa bersahabat, juga saling dukung satu sama lain aku tawarkan itu dengan permohonan maaf ku Alya."


"Aku hanya mengikuti apa yang Papaku sarankan dokter, Papa kan sahabat baik dokter oke nggak apa-apa semoga semuanya lancar dan tetap aku tunggu kehadiran dokter di cafe ku." Alya mengalihkan seolah dirinya mengejar dr Prabu karena Papanya yang menyarankan, cukup cerdik memang dan kelihatan ingin namanya tetap baik dan harus punya nama baik sebagai wanita anak seorang pejabat daerah, dan entah itu adalah adalah jurus kepepet menyembunyikan rasa malunya.


Alya tak bertanya lagi soal apapun, dan dr Prabu sekarang sahabatnya.


"Mari aku temani kalau masih mau nonton di GOR"


Alya mengangguk dan berusaha tersenyum dan lapang rasanya hati dr Prabu, semua memang perlu keberanian dan terserah sekarang maunya Alya seperti apa yang pasti dirinya sudah mengatakan yang sebenarnya.


Alya tak bertanya apapun tentang siapa dan dimana kekasih dr Prabu, semua seakan nggak penting bagi dirinya, dan satu ingin menikmati kebersamaan ini sampai dirinya bosan dan satu yang tak habis mengerti Alya hubungan dr Prabu dengan kekasihnya bisa lebih dari lima tahun, apa tarik ulur nggak jelas banget gitu ? apa dr Prabu orang labil dan plin-plan dalam mengambil keputusan ?.


Dr Prabu masuk lagi ke ruangan GOR tadi, dengan Alya di sisinya ingin rasanya Alya cepat meminta pulang dan pamitan tapi sepertinya dia malah betah di sini, sungguh suasana yang tak membuat nyaman pada dirinya.


"Katanya kamu tadi datang sama temannya, di mana sekarang temannya itu?"


"Tadi duduk di kursi penonton, paling dia lagi cari makanan."


Alya dengan santai menggandeng tangan dr Prabu dan seakan tanpa beban, dr Prabu merasa risih dilihat banyak orang dan perlahan melepaskan gandengan tangan Alya.


Menonton dalam keadaan nggak fokus, kadang ada omongan Alya yang ketangkap kadang lebih banyak mikir dan melamun dr Prabu hanya menjawab hah heh oh dan apa?


Matanya liar mencari sosok Retno atau si semprul Rendra yang sok ganteng tapi menyebalkan itu, ingin sekali dr Prabu memberi pelajaran dan mencicip bogem nya.


Tapi sosok Retno seakan raib tak berbekas.


.


.


.

__ADS_1


💏 Like, komentar, sebagai masukan dan semangat buat kami, Terima kasih atas jejak yang readers tinggalkan, salam !🙏


__ADS_2