Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Peringatan Retno pada dr Imam


__ADS_3

"Sayang, mau pulang apa nunggu Aku rapat dulu? tidak lama kok paling satu jam karena tidak banyak yang dibahas kalau memang tak ingin pulang santai saja di sini nanti kalau Intan sudah keluar ditemani Intan." ucap dr Prabu sambil bereskan berkas di mejanya.


Retno hanya diam. Dr Prabu memandanginya sambil tersenyum.


"Kalau jenuh di sini datang saja ke ruangan suster kepala Miranti bisa ngobrol dengan suster di sana banyak yang bisa dilakukan di sini atau jalan-jalan ke depan mau belanja atau apapun juga boleh," ucap dr Prabu lagu pada Retno istrinya yang masih diam mau dimana atau malah betah di sini.


"Aku menunggu di sini saja Mas. Jangan lupa lakukan semua yang menutup akses ulat bulu itu berkeliaran mencari kesempatan di sini," ucap Retno dengan muka serius.


"Iya, Sayang Aku usahakan tapi yang akan kita ambil kan suara terbanyak kalau memang banyak yang menginginkan pasti akan bergabung juga. Jangan terlalu pikirkan Yayasan itu bukan segalanya bagi rumah sakit ini," jawab dr Prabu sangat bijaksana. mencium pipi Retno lalu ke perutnya dan keluar dengan membawa tas jinjingnya.


Retno masih saja bimbang dengan semua kekhawatiran yang dirinya rasakan, tak ingin kembali pada satu tahun yang lalu kejadian tak terduga pada hubungan cinta dan sesuatu yang menimpa Mas Prabu suaminya waktu itu begitu mengguncang perasaannya.


Alya bukan seseorang yang begitu saja harus diabaikan tetapi harus dicermati setiap gerak-geriknya setiap sinyal yang diberikannya begitu mengancam bagi Retno dan hubungan rumah tangganya, walaupun Mas Prabu sendiri tidak menganggapnya seperti itu.


Retno tahu, Alya masih punya rasa dan harapan yang tak tahu seperti apa pada suaminya padahal dirinya juga sudah berkeluarga dan berumah tangga.


Retno berpikir juga tentang Intan saat ini tak bisa di pungkiri kalau Intan perlu support dan dukungan juga apalagi sekarang Intan mulai kerja walau masih magang di sini. Berarti


menjadi tanggungjawab juga bagi Retno dan suaminya.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Eh dr Imam, kok nggak ikut rapat?" tanya Retno sambil membetulkan kerudungnya.


"Malas Bu, lagi kurang fokus ikut suara terbanyak saja, boleh Aku numpang di sini?" pinta dr Imam sambil tersenyum. Langsung masuk tanpa menutup pintu membiarkannya terbuka


"Boleh saja," sahut Retno merasa ada kesempatan ngobrol secara pribadi tentang Intan.

__ADS_1


Mereka duduk saling diujung sofa. Retno menyimpan majalah ke bawah meja kembali.


"Gimana Bu Retno menginjak trisemester kehamilan terakhir nggak ada keluhan?" tanya dr Imam pada Retno.


"Dari kehamilan Alhamdulilah nggak ada, tapi dari kecemasan lain yang akhir-akhir ini datang tak terduga saja membuat Aku bimbang sendiri rasanya mau pergi saja biar tak melihat juga mendengar apapun tentang masalah yang sebenarnya harusnya sudah usai." sahut Retno menanggapi pertanyaan dr Imam.


"Pergi ke mana? jangan lah sebentar lagi juga akan datang waktunya lahiran jangan membuat cemas Bos Prabu, kan Ada Aku yang bisa bantu. Sungguh satu penyesalan kalau Aku tak bisa membantu dan menolong mu saat lahiran nanti." ucap dr Imam pasang muka serius.


"Aku muak dengan ulat bulu yang masih saja cari perhatian dengan berbagai cara dok! apa sih maunya Dia?" tanya Retno dengan mimik kesal.


"Bu Retno, Dia pasienku dan banyak konsultasi juga program kehamilan padaku. Sebenarnya jujur Aku juga tidak begitu suka melayani segala konsultasinya. Tapi secara profesi Aku tidak bisa apa-apa semua pasien adalah orang yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya, Bahkan ada kecenderungan memanfaatkan ku itu yang tak Aku suka!" ujar dr Imam ikut juga menyampaikan uneg-unegnya selama ini.


"Maksud dokter apa?"


"Seperti tadi saat Aku praktek datang Vionna tiba-tiba menerobos masuk tanpa permisi, Alya lagi konsultasi di dalam saat itu dan Aku juga kaget sepertinya Alya bukan hanya konsultasi tapi mencari seseorang yang bisa memuaskan dirinya. Alya dengan sengaja merayuku dan saat begitu dekat Vionna datang. Langsung saja asumsinya menjadi negatif padaku, Aku tukang melayani ibu-ibu segala katanya. Aku tak bisa bela diri di hadapan Vionna. Mulai saat itu Vionna menganggap ku playboy, jelek banget predikat yang dia berikan padaku!" ucap dr Imam bicara blak-blakan.


"Ya ampun dokter? bukankah pandangan Vionna jadi jelek pada dokter? tapi kenapa sepertinya masih saja mau dalam tanda kutip di jodohkan?"


"Oh alah dokter?"


"Satu lagi yang membuat Aku malas pulang. Entah sengaja atau tidak Dia meninggalkan pakaian dalamnya dalam kamarku bercecer begitu saja mungkin itu sesuatu yang sudah direncanakan akhirnya semua itu ketahuan Ibuku, habis Aku di cecar dan nikah nikah nikah saja yang di ucapkannya."


Retno melongo, tak menyangka sedikitpun begitu berat semua masalah yang dihadapi dr Imam dan begitu serius tidak bisa di abaikan begitu saja dan harusnya duduk bersama antara Intan, Vionna dan juga orang tuanya kalau tidak seperti itu tidak mungkin semuanya akan menemukan titik penyelesaian yang bisa mengerti semuanya.


"Aku tanya dr Imam boleh?" tanya Retno berharap kejujuran yang keluar dari mulut dr Imam.


"Retno, Kamu adalah sahabatku yang paling Aku percaya tanyalah apapun padaku!"


"Apa dokter mencintai Vionna?"

__ADS_1


"Retno, begitu banyak pertimbangan seandainya Aku harus mencintai Vionna selain perlu waktu untuk saling mencintai tetapi Aku sudah menganggap Dia adalah saudaraku sendiri. Viona cantik tetapi Dia berkarir jauh di sana di tempat tinggalnya Aku berpikir masa depanku akan seperti apa nantinya? tak mungkin Dia begitu saja melepaskan karirnya hanya demi memilih mengikuti Aku dan Aku juga tidak mungkin melepas karirku hanya demi mengikuti Dia, jadi di situ sudah ada kesimpulan kalau cinta mungkin bisa dipadukan setelah kita bersama-sama tetapi Aku tidak ada niat sedikitpun untuk saling menjajaki," jawab dr Imam dengan pasti.


"Apa karena Intan?"


"Itu salah satu alasanku!"


"Berminat dengan Ibu-ibu lain seperti Alya?"


"Bu Retno! Aku belum se-darurat itu!"


"Oke, apa langkah yang akan di ambil dokter dalam waktu dekat ini?"


"Bicara dan duduk bersama sama orangtuaku juga Vionna, mungkin nanti malam apapun tanggapan mereka dan resikonya seperti apa, dan pintaku yakinkan Intan kalau semua akan baik-baik saja,"


"Baik Kita tunggu hasil dari semuanya semoga sesuai dengan apa yang dokter harapkan," ucap Retno tersenyum menenangkan.


"Semoga Retno, satu harapanku jangan tinggalkan Bos Prabu dalam kecemasan. Yang terbaik menurutku tetap ada di sini dan melahirkan bersamaku mungkin itu akan lebih nyaman dan menenangkan kalau memang ingin pulang kampung nanti setelah lahiran saja. Datang bukan membawa kecemasan kepada orang tua tetapi membawa kebahagiaan itu hanya saranku saja semoga bisa menjadi referensi terbaik masalah bukan harus dihindari tetapi harus dihadapi."


"Sangat realistis masukan yang bagus juga, tapi ingat kalau sampai Intan kenapa-kenapa bukan saja hubungan dengan Intan yang tak nyaman, pertemanan kita juga akan bermasalah," ucap Retno sedikit memberi peringatan walau di sampaikan dengan nada bercanda.


"Baik Bu Retno Aku akan menjaganya, karena aku mencintainya."


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2