
"Bu, apa Kita nggak salah bawain Mas Imam makan siangnya?" tanya Vionna pada Ibunya dr Imam.
Mereka habis masak tinggal sedikit lagi selesai paling beres-beres dan cuci alat masak saja.
"Memang kenapa? ya enggak lah Nak Vionna, malah mungkin akan senang kalau kita bisa kirim sekalian buat temannya yang lain biar mereka makan bareng sepertinya mereka pasti suka, kita masak banyak ini," jawab Ibunya dr Imam membesarkan hati Vionna.
"Ibu pernah sebelumnya kirim makanan ke rumah sakit?" tanya Vionna lagi karena merasa tidak yakin, pekerjaan di rumahsakit tidak tentu kadang melewatkan waktu istirahat dan luar jam kerja kalau tanggung dan darurat.
"Belum, tapi keinginan selalu ada, nggak apa-apa sama Ibu nanti ke sana biar Nak Vionna melihat pekerjaan Anak Ibu sekalian kita jalan-jalan sebelum Nak Imam mengajak Nak Vionna gimana?" ucap Ibunya dr Imam sambil memperlihatkan semangat yang luar biasa.
"Kalau Aku terserah Ibu saja," jawab Vionna pendek.
"Nak Vionna bisa bawa mobil kan, pakai saja mobil bapak nggak apa-apa biar kita bisa lanjut ke pasar." Vionna mengangguk sambil tersenyum.
Senangnya hati Ibunya dr Imam, Vionna di matanya begitu sempurna cantik, dewasa dan segala bisa, jadi apa kurangnya Vionna? terasa semua lengkap dan pasti melengkapi.
Mereka menyelesaikan masak dan mengepak ke dalam rantang susun berharap bisa mengambil hati Anaknya dan semoga Anaknya bisa menghargai usahanya dan usaha Vionna.
__ADS_1
****
Siang menjelang, dr Imam telah ada di ruangan kantor dr Prabu lagi datang langsung duduk di sofa, sedang dr Prabu masih di mejanya berkutat dengan komputer dan berkas.
Sedikit melirik dr Imam yang kelihatan capek, meneliti wajah yang muram dan kusut. Rasanya dr Prabu tak tega, lalu membereskan berkas dan beranjak menghampiri sahabatnya.
"Apa rencana dokter sekarang?" tanya dr Prabu sambil duduk di samping dr Imam.
"Aku ingat Intan, rasanya ingin tengok sekarang tapi rasanya tak sopan juga meninggalkan rumah dengan tanggungjawab yang di bebankan padaku soal Vionna selama seminggu ini, Ibuku terlalu ngotot ingin mendekatkan Aku dengan Vionna, tadi saja Aku suruh sarapan malah beralasan ada penanganan darurat jadi bisa berangkat pagi-pagi," ujar dr Imam sambil menyisir rambutnya dengan kesepuluh jarinya.
"Nanti Ibuku malah besar hati melihat Aku seperti memberi harapan, Aku banyak bohong pada Intan, juga pada Ibuku karena apa yang bisa Aku lakukan?" jawab dr Imam sepeti merasa jauh hatinya entah kemana.
"Intan tahu dokter bohong kok," ujar dr Prabu sekedar mengingatkan, artinya kalau bohong yang masuk akal saja.
"Aku harap Intan bisa mengerti, tadi juga suster Erna bilang kalau Intan menelephon kemarin, dalam keadaan sakit masih saja mencari tahu Aku, sungguh Aku merasa bersalah,"
"Aku juga berpikir begitu, seorang wanita lebih sulit melupakan, dan akan berusaha semaksimal mungin apa yang diyakininya," jawab dr Prabu mengatakan hal yang sering di didapatnya dari kehidupan dan cerita sahabat, bukan karena Intan adiknya, tapi dokter Imam berpendapat secara pendapat umum.
__ADS_1
"Semoga Intan meyakiniku kalau Aku tak akan berpaling ."
"Kita keluar makan saja dulu yuk! biar otak bisa bekerja maksimal Aku juga Retno lagi uring-uringan tiap hari hanya diam dan cemberut bayangin, Aku di suruh mendatangkan Alya dan minya maaf juga jauh dari tragedi rumahtanggaku."
Mereka berjalan bersampingan menuju rumah makan di sebrang rumah sakit itu..
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1