Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Intan dan dr Prabu 2


__ADS_3

"Sudah makannya?"


Intan mengangguk masih dengan senyum yang di kulum, hatinya seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi barusan semua jauh dari perkiraannya kalau dr Imam secepat itu menyatakan rasa sukanya.


Serasa tak percaya tapi ini nyata, dan benar adanya kalau dirinya baru saja ditembak oleh peluru cinta tepat di jantung hatinya.


Seperti seorang pemenang dari suatu laga pertandingan dr Imam dengan bangga menggandeng tangan Intan keluar dari rumah makan itu, sesaat mereka berdiri di samping mobilnya, dr Imam membuka pintu mobil untuk Intan dan baru kali ini Intan merasa gugup, dr Imam mempersilahkan Intan masuk ke dalam mobilnya sambil membungkuk dan disambut Intan dengan tertawa sangat renyah dan empuk terdengar di telinga dr Imam.


Sebelum menyalakan mobilnya dr Imam menarik napas panjang sambil tersenyum melirik Intan yang duduk di kursi sampingnya, perasaan suka terhadap Intan disambut baik dengan rasa cinta juga dari Intan membuat hati keduanya dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Semua itu membuat Intan menjadi malu dan terkadang gelagapan.


Sebelum mereka jadian Intan begitu berani ngobrol bercanda bahkan meminta tolong kepada dr Imam, tetapi kini setelah mereka resmi menyatakan jadian ada rasa sedikit malu di hati Intan, mungkin karena ini belum terbiasa karena mereka asalnya bersahabat merubah status mereka menjadi pacaran, dan jadi sepasang kekasih jelas membuat keduanya beradaptasi untuk kedua kalinya.


"Kok nunduk terus?"


"Lagi mengheningkan cipta."


"Habis jadian, kok malah mengheningkan cipta?"


"Harusnya gimana ?"


"Ya biasa aja,senyum-senyum juga boleh"


"Ini juga biasa, tapi kalau senyum senyum nggak jelas aku takut orang-orang malah takut melihatku."


"Tapi yang jelas jangan merah dong pipinya aku takut."


"Takut? maksudnya?"


"Takut lebih membakar hatiku!"


"Heith...bisa aja."


"Aku sayang kamu Intan, dan kenapa aku tak mengatakan dari kemarin-kemarin ya?"


"Mungkin dapat momennya sekarang."


"Iya, ya."


Hening...


Dr Imam melirik lagi Intan dan sudah sampai di parkiran rumah sakit, meraih tangan intan dan menariknya ke bibirnya mengecupnya lembut dengan penuh perasaan.


"Terima kasih untuk jawabannya, dan malam nanti aku ingin jalan pertama kali dengan status baru kita."


Intan hanya senyum.


"Apa kamu bersedia jalan denganku nanti malam?"


"Ya Mas, seandainya Mas tidak ada panggilan mendadak dari Ruangan UGD dan Intensive Care Unit."


"Haaaaaaaa...rupanya baru saja kita jadian kamu sudah mengerti aku Intan."


"Bukankah saat kita mencintai seseorang kita harus mengerti profesinya?"


"Hari ini juga aku sudah mencintaimu dengan bertambah satu poin plus dari diri kamu Intan, dan kamu sungguh pengertian tidak melihat hanya janji saja yang harus di tepati, tapi kesempatannya juga harus ada, aku menyimpulkannya seperti itu, sekali lagi aku mencintaimu Intan."


"Love you to Mas."


"Iya Intan, aku merasa bahagia."


Intan diam jarinya masih di genggam dr Imam, remasan dan usapan yang lembut juga perlahan tapi membuat Intan berkeringat dingin seluruh tubuhnya walau itu di dalam mobil ber AC.

__ADS_1


"Kok dingin banget?"


"Mungkin grogi atau malu."


"Owh... ekspresi malu jadi kedinginan ya?"


"Kalau di ruangan ber-AC atau di kutub pasti dingin."


"Aku punya api unggun, yang siap menghangatkannya"


"Aku juga punya hati yang selalu hangat, karena berdekatan dengan jantung yang selalu aktif memompa semangatku."


"Seperti pada pelajaran biologi tentang anatomi tubuh saja."


"Itu akan berhubungan dengan dr SpOG" Intan menjawab datar.


"Dasar kamu pintar Intan"


"Jangan banyak memuji karena aku belum teruji di hadapanmu Mas."


"Tapi setidaknya aku merasa nyaman di dekatmu, dan aku akan selalu merindukanmu."


"Alasan yang sangat dasar, dan sedikit gombal."


"Aku belajar deh sama kamu, soal cinta dan cara mengungkapkannya."


"Emang aku guru dan buka les apa?"


"Tuh kan kamu selalu praktis menjawab, tapi kalau aku katakan aku cinta padamu kenapa lama jawabnya? dan malah berbelit belit tambah pipi yang merona merah, malah tanya ada limitnya segala."


"Harusnya gimana Mas?"


"Nah sekarang kamu berguru padaku kalau soal gugup, grogi malu dan nervous."


"Untuk menghilangkan nervous kamu, aku akan mengatakan cinta sama kamu dan sayang setiap hari jadi nanti kamu jadi terbiasa."


"Apa nggak berlebihan?"


"Bagus berlebih daripada kekurangan."


"Yang itu mah sandang pangan papan Mas bukan cinta."


"Aku rasa kalimat itu yang perlu di tambah atau bila mungkin di perbaharui, sandang pangan papan dan cinta, nggak ada cinta semua itu nggak ada artinya seperti empat sehat lima sempurna dan enam cinta."


"Aneh."


"Memang."


"Bikin mumet."


"Tapi tetap cinta kan?"


"Mungkin."


"Kok mungkin?"


"Harusnya jawab apa?"


"Aku cinta kamu Mas Imam!"


"Aku cinta kamu Mas Imam!" Intan dengan tetap merasa malu mengatakan itu.

__ADS_1


"Love you to Intan sayang!"


"Tok tok tok...hai ngapain lo di dalam berdua heh ?"


Dr Prabu mengetuk kaca mobil dokter Imam kontan saja dr Imam dan Intan yang ada di dalam merasa kaget, padahal dari luar ke dalam begitu gelap tak kelihatan tak seperti dari dalam begitu jelas siapa yang mengintip intip dari balik kaca dibelah luar.


Intan menarik tangannya dari genggaman dr Imam, dan mereka saling melepaskan.


Dr Imam keluar duluan dan di susul sama Intan, di pintu samping sebelahnya dr Prabu memandang Intan lalu bergantian memandang dr Imam.


"Kalian dari mana?"


"Kita habis makan." Intan yang menjawab.


"Makan nggak ajak-ajak, aku sampai susah cari kamu Tan ada yang mau di bicarakan ayo ke ruangan ku lo juga." dr Prabu menaikkan alisnya sambil melirik dr Imam.


"Siap boss!" dr Imam mengikuti langkah Intan dan dr Prabu ke arah ruangan di ujung lorong.


Masuk ke ruangan dr Prabu terasa adem karena ber-AC, Intan melihat Retno yang lagi melihat lihat ponselnya seketika sontak menyapa dengan wajah berbinar.


"Mbak Retno?"


"Hai Intan, dari mana?"


"Aku habis makan siang sama Mas Prabu." Intan agak malu.


"Kok aku nggak di sapa, juga yang di tanya cuma Intan?"


"Hai juga dr Imam yang baik, apa khabarnya kelihatan hari ini begitu cerah dan secerah cuaca di luar yang lagi panas banget." Retno sengaja sambil menggoda dr Imam SpOG.


"Seperti pertandingan di GOR aja semakin panas." dr Imam tertawa.


"Sepertinya aku butuh supporter sore ini, untuk melaju ke babak semi final." Retno memandang dr Prabu yang duduk di sebrangnya.


"Aku dukung sama Mas Imam Mbak Retno, tenang saja juga do'a terbaik kemenangan Mbak Retno."


"Terimakasih Intan juga dr Imam."


"Sama-sama."


"Retno main ke berapa sore ini?" dr Imam memandang Retno.


"Kedua Mas."


"Masih bisa menenangkan diri dan menonton melihat pertandingan orang lain, jadi kita sendiri merasa tidak grogi saat turun ke lapangan."


"Perlu aku dampingi atau enggak nih sore ini?" dr Prabu tersenyum memandang Retno yang tadi pulang dari Bandung sempat menyandarkan kepalanya di pundaknya sesampai di ruangannya.


"Owh... harus itu ,tak bisa tidak alasan apapun." dr Imam jawab pertanyaan dr Prabu yang sebenarnya untuk Retno.


"Jangan sampai kehadiran Kak Prabu membuyarkan konsentrasi Mbak Retno, pokoknya Mbak Retno harus bermain lepas sore ini." Intan turut memberi semangat.


"Menang deh pastinya." dr Prabu mengusap kepala Retno sambil berjalan ke arah meja kerjanya.


"Intan coba susul ke kantin, tadi aku pesan minuman."


"Ya Kak."


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


__ADS_2