
"Hai Mas Imam, ya ampuuuuun akhirnya datang juga, apa khabar mari masuk."
"Nggak apa-apa nih masuk?"
"Masuk aja, emang kenapa?"
"Takutnya kena aturan Ibu Bapak kost, apa ada aturannya?"
"Aturan ada, tapi kan untuk di langgar haaa..."
"Dasar kamu, bikin aku gemes aja Tan."
"Masa, baru datang sudah gemes aja?"
"Gemesnya sekarang waktu melihat kamu, tapi kangennya dari kemarin-kemarin."
"Sebenarnya gemes apa kangen sih?"
"Pokoknya, gemes, kangen dan aku sayang kamu Intan."
Intan merona pipinya merasa hatinya begitu hangat atas jawaban dr Imam.
"Mas Imam, mau minum apa?" Intan tak berhenti mengembangkan senyumnya.
"Apa aja Tan, yang penting jangan yang manis-manis banget."
"Jadi apa dong, yang nggak manis-manis banget?"
"Lihat kamu yang teramat manis juga aku senang, apalagi di tambah minuman hasil tangan kamu, jangan di tanya deh..."
"Ah, Mas Imam ada-ada aja."
"Serius Tan."
"Jadi, apa nih minumnya?"
"Aku kan tamu, jadi masa iya nawar, emang boleh nawar?"
"Nawar boleh, minta discount juga boleh, apa kopi aja?"
"Boleh."
"Gitu dong, jangan berbelit-belit."
"Apapun yang kamu buat pasti enak rasanya, kan di tambah aroma kangen dan rasa cinta."
"Gombal."
"Tapi ganteng kan, dan kamu suka?"
"Mungkin."
"Kok, mungkin?" dr Imam mengerutkan alisnya memandang Intan.
"Mungkin kenyataan sebenarnya begitu."
"Pinter juga kamu Tan, aku suka."
"Aku sudah tahu."
"Ya sudah, kapan buat minumnya?"
__ADS_1
"Oh, iya aku suka lupa kalau lagi tersanjung heee..." Intan bangkit ke belakang dan bikin kopi mix sachet dan menyeduhnya dari dispenser, lalu membawanya kembali ke depan. Menyimpannya dihadapan dr Imam.
"Kopinya Mas, nggak ada makanan teman ngopinya, aku nggak pernah ngemil."
"Nggak apa Intan, ngopi sambil di temani kamu dan memandang wajah kamu juga terasa nikmat rasanya dan lebih dari cukup."
"Ish... kata-katanya bikin orang mabuk aja."
"Memang, aku juga yang ngomongnya lagi mabuk cinta heee..."
"Iiiih... dasar, ngomongnya jadi nggak nyambung."
"Kok cuma satu minumnya? kamu mana?"
"Aku nggak ngopi."
"Masa aku minum sendiri?"
"Kan ada aku?"
"Oh iya, aku lupa ada kamu heee..."
"Masa depan mata sudah di lupakan?"
"Sebenarnya bukan lupa, tapi lebih ke terpesona, terasa nggak nyata tapi kamu sebenarnya ada, biar aku buktikan kalau kamu itu ada." Dr Imam memegang tangan Intan yang duduk di sebelahnya. Meraih jemari Intan, di remasnya pelan.
Intan tersipu malu dan juga grogi, atas semua ucapan dan perlakuan yang dr Imam berikan pada dirinya. Dr Imam begitu romantis dalam bicaranya, memberikan perhatian yang lebih pada dirinya, jelas memperlihatkan perasaan suka dan perasaan cintanya, juga rasa kangen karena kurang lebih seminggu mereka berpisah baru kali ini mereka bertemu di tempat kostnya Intan.
Intan menarik tangannya perlahan, tapi dr Imam menangkapnya kembali dan di genggamnya tangan Intan sambil tersenyum.
"Mas, minum kopinya udah dingin tuh."
"Satu gelas berdua ya?"
"Haaa...aku niatnya romantis Intan. Ya sudah, aku minum ya."
Intan tersenyum, memperhatikan dr Imam meminum kopi yang di suguhkan nya.
"Mas Imam nggak ngerokok?"
Pertanyaan yang sangat sopan di lontarkan Intan, kerena kebiasaan orang ngopi pasti sambil merokok.
"Aku merokok kalau ada perlunya saja, merokok iya tapi lebih ke jarang banget, mungkin hanya karena pergaulan saja kalau bertemu teman-teman lagi kumpul aku merokok, kalau bertemu cewek cantik kayak kamu seperti ini aku pastikan nggak merokok."
"Kok bisa seperti itu?"
"Harus bisa, aku pelopor kesehatan tapi tak memberi contoh yang baik bagi yang lain, selain itu aku merokok hanya untuk pergaulan saja, teman ngobrol bukan karena candu."
"Wow, teladan banget aku kagum sama Mas Imam."
"Jangan kagum karena jarang merokoknya dong, tapi kagum sama pribadinya dan besarnya perasaan cintaku padamu Intan."
Intan bersemu merah lagi dan mukanya terasa merona.
"Aku nggak ngomong lagi ah."
Nggak ngomong juga aku tahu hatimu.
"Iya, Mas silahkan saja."
"Kuliahmu gimana?"
__ADS_1
"Biasa aja."
"Intan, aku ingin menjadi seseorang yang luar biasa berarti di hidupmu."
"Terima kasih, Mas Imam telah berniat baik dan tulus mencintaiku, semoga aku juga bisa menjaga rasa yang Mas Imam berikan padaku."
"Ah, Intan rasanya aku jadi orang paling bahagia saat ini, makasih ya atas rasa yang sama diantara kita."
Intan tersenyum dan mengangguk tak sanggup berkata apa-apa lagi, dan tak menemukan kata yang tepat walau hanya sekedar mengatakan iya aku ngerti dan aku siap menjalani.
Hati Intan begitu merekah, saat Mas Imam meyakinkan kembali perasaan cintanya, setelah waktu itu Mas Imam mengucapkan untuk pertama kali kalau dirinya suka dan ingin serius menjalani hubungan.
"Intan, maaf sebelumnya. Boleh kalau aku menuntut satu hal yaitu kejujuran dari dirimu, karena aku anggap itu adalah suatu kewajaran dalam memulai hubungan serius. Aku ingin diantara kita ada kenyamanan dalam menjalani hubungan ini."
"Maksud Mas Imam apa? aku belum mengerti."
"Intan, aku orang single tanpa beban dan hubungan cinta dengan siapapun, Aku mencintaimu tidak akan ada yang marah dan aku tidak mengecewakan seseorang, artinya aku orang bebas tanpa ikatan apapun. Aku hanya ingin tahu apakah Intan juga sama seperti aku orang bebas? jadi seandainya kita melangkah tidak akan menyakiti dan menghianati seseorang?"
"Baru kali ini aku menemukan orang yang begitu baik, seperti Mas Imam, jujur aku tak memiliki hubungan spesial dengan siapapun, tak ada komitmen serius dengan seseorang, hanya Mas Imam saja yang aku cintai dan mencintaiku."
Dr Imam mencium kedua tangan Intan sambil tersenyum.
"Kamu begitu spesial di hatiku Intan."
"Kayak martabak aja ih..."
"Kamu meledek aku ya?" dr Imam menarik tangan intan sampai tubuhnya bersandar di sebelah bahunya.
"Heeee...habis mujinya melambung banget, jadi aku kayak terbang."
"Kita keluar yuk, apa Intan mau kalau aku ajak merayakan keseriusan kita?"
"Memang ada perayaan nya?"
"Ada nggak ada kita aja yang rayain, minggu kemarin kita jadian, sekarang kita serius hubungan gitu."
"Sama aja kali Mas heee..."
"Nggak apa-apa, aku hanya merasa istimewa aja setiap bertemu denganmu Tan, mungkin karena kita nggak ketemu tiap hari jadi bawaannya kangen aja, barangkali kamu mau jalan-jalan, atau nonton juga sekedar cari makanan di luar, ayo lah."
"Baiklah, nanti kita pikirkan lagi mau apa, atau kemana, setelah kita keluar dan jalan."
"Oke ,aku siap."
"Aku ganti baju dulu ya Mas."
"Silahkan."
Senangnya hati dr Imam tak terkira, jauh-jauh datang apel malam minggu ke Bandung tak sia-sia semuanya. Satu lagi mendapat keyakinan dengan tiadanya hambatan apapun dalam melangkah mengawali hubungannya dengan Intan.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta habis baca Biarkan Aku Memilih...
...Jangan lupa mampir ke karya bertitel : "Hai Pak Guru" karya susanti 31 baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...
__ADS_1