
"Saya tidak meminta dan menawarkan diri mendampingi dokter siapapun Bu, itu Ibu yang tugaskan dari awal dan memintanya kembali untuk mendampingi dokter Imam SpOG, kalau boleh pindahkan saja saya ke dokter manapun juga saya tidak menolak, tapi Ibu jangan menghina saya dengan mengatakan jangan jadi penjilat dan perayu, saya sadar diri dan tahu datang kesini tujuan saya apa? saya juga bekerja di rumah sakit yang satu naungan dengan rumah sakit ini, saya tadinya berharap banyak Bisa KKN di sini dan bisa belajar banyak, juga mendapat keringanan minimal kehadiran saya jangan full seperti yang kuliah reguler, apa yang di sombongkan dengan jabatan Ibu? saya juga kalau boleh sombong dalam masa rekomendasi untuk menduduki jabatan suster kepala seperti Ibu, saya tahu betul kerja seorang suster kepala bukan untuk menilai pribadi dan privasi orang lain, perlu Ibu tahu saya dari keturunan orang baik baik tidak akan merendahkan martabat saya sendiri dengan melakukan hal hal yang tidak bermanfaat masih banyak hal lain selain menjilat seperti suster kepala Miranti katakan pada saya! saya tahu sejak awal saya merasakan ketidak sukaan suster kepala Miranti pada saya, saya merasakan betul intimidasi dan sentimen yang begitu tinggi pada saya,saya juga punya perasaan Bu, bisa menilai mana orang yang suka dan nggak suka pada saya, saya hanya bertanya pada suster kepala Miranti satu kalimat saja, salah saya apa?"
Dr Prabu mendengarkan kata kata Retno yang bergetar mungkin ini kata-kata rekaman terakhirnya yang dirinya terima dari suster kepala Miranti, Retno kamu benar salah kamu apa? tapi kebencian ku pada keluargamu luar biasa, kita saling mencintai sebenarnya tapi perlakuan Romo mu padaku dan keluargaku yang menimbulkan dendam begitu membara, teringat kata kata Ibu Bapaknya.
"Nak bukan Ibu tak merestui mu, Ibu sangat suka dengan Nak Retno dari segala penampilannya cantik menarik sopan, beretika tinggi dan punya tata krama dan sopan santun melebihi orang biasa nggak ada yang di ragukan lagi tapi keturunan kita berbeda dia di lahirkan dari keturunan priyayi ningrat Jawa yang orangtuannya masih memegang teguh adat budaya leluhurnya, juga Retno dari keluarga yang biasa di layani dengan segala kemewahan dan kemapanan keluarganya, apa Nak Retno bisa menerima keadaanmu seandainya kamu tidak seberuntung orang lain Nak? kamu harus kaya untuk menjadi suaminya, apa kamu akan sanggup masuk mengikuti aturan dan kebiasaan Nak Retno sendiri? sekolah bagi mereka hanya formalitas saja masa depan sudah di persiapkan orangtuanya."
"Retno tak seperti itu Bu, kami saling mencintai apa adanya aku akan berusaha sukses dengan gelar ku agar aku bisa membahagiakan istri dan keluargaku dan bisa di terima juga di keluarga Retno."
"Ibu hanya bisa mendo'akan kalian Nak."
Dr Prabu matanya nanar memandang ponselnya hatinya berontak pada keadaan hatinya begitu tak tenang, fikirannya kacau haruskah aku akhiri semua ini dan membuka identitas ku dan berterus terang pada Retno dengan tetap angkuh?
Tidak! aku masih dendam aku akan selesaikan menindas nya selama tiga bulan kurang kira kira semingguan, tapi apa nanti reaksi Retno seandainya tahu siapa dirinya? akankan dia senang bisa bertemu lagi dengan dirinya atau malah membenciku setengah mati?
Terserah mau benci mau senang itu urusan dia dan biar aku fikirkan lagi nanti.
Di ruangan suster jaga Retno masih belum bicara apa pun mau bicara dari mana? hanya air mata tanpa isakan dari mata indahnya begitu menyayat hati yang melihatnya, terlalu dalam sakit hatinya, dan semua sahabatnya hanya diam bertanya pun tidak hanya mengusap dan memeluknya.
Mungkin nanti Retno akan cerita fikir Ella dan Ismi, mereka bersiap siap mendampingi dokter dulu kunjungan rutin pada pasien rawat inap keliling kontrol.
"Suster Retno di cari suster Erna" salah satu suster dinas memberitahu melongokan kepalanya ke ruangan suster jaga.
Retno mengusap air matanya dan membetulkan kerudungnya tanpa bicara apapun Retno memasukkan ponselnya ke saku almamaternya dan keluar menemui suster Erna, teman-temannya hanya melongo dan Ismi mengangkat kedua bahunya menatap Ella dan suster suster yang lain.
Suster Erna menggandeng tangan Retno dan mereka berjalan ke ruangan praktek dr Imam SpOG mereka mulai dengan tensi pasien yang sudah daftar dan sudah punya antrian.
"Kelihatan mendung sus?" suster Erna melirik Retno yang tak bisa di bohongi matanya agak sedikit merah.
"Nggak apa apa mungkin hanya kecapaian saja sus." Retno menutupi dirinya.
"Halah jangan bohong, lagi sedih, sedih saja! kalau lagi senang ya kita nikmatin heee..."
Retno hanya tersenyum tapi berusaha tak melihat wajah suster Erna yang mungkin sudah melihat matanya, dan Retno anteng saja dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Suster Erna boleh saya bertanya sesuatu yang pribadi tentang seseorang?"
"Wow sudah menjurus ke sesuatu yang pribadi rupanya heee... soal apa sus? kalau saya tahu saya kasih tahu kalau saya tidak tahu ya itu soal pribadi orang dan memang mungkin saya tidak tahu."
"Saya mau tanya soal suster kepala Miranti, orangnya seperti apa menurut pendapat suster Erna?"
"Oh alaaah di kira mau tanya dr Imam SpOG haaaaa..." suster Erna salah memperkirakan apa yang ada di fikiran suster Retno.
"Maksud suster memang apa?"
"Kenapa emang dengan suster kepala Miranti ada apa?"
"Emght... saya hanya ingin tahu saja." dan Retno memang hanya ingin tahu pandangan orang sekitar tentang suster kepala Miranti.
"Orangnya cukup baik sopan tegas dan disiplin familiar lembut juga sangat ngemong pada kita kita dan tak heran suster kepala Miranti suster senior yang paling di hargai dan di segani, dia memang pantas menduduki jabatan tertinggi di keperawatan sebagai suster kepala di rumah sakit ini.
Retno melongo mendengar penuturan jawaban suster Erna semua bertolak belakang dengan apa yang di terimanya baik sikap dan perlakuannya juga sangsi walau kesalahannya begitu kecil tapi hukumannya di rasa Retno begitu berat.
"Baik. ba-baik aja dok."
"Masih berburu waktu Tasikmalaya -Bandung dan Bandung Tasikmalaya?"
"Ya. begitulah dok mau gimana lagi heee..."
"Soal pengajuan keringanan kehadirannya gimana?"
"Di tolak mentah-mentah dok malah kesalahan kecil saya entah hari apa hanya karena saya memburu absen dulu belum pakai jaket almamater masih pakaian dinas kerja saya di kenakan sangsi membersihkan ruangan pimpinan dan mengganti air minumnya selama saya KKN di sini.
"Oh ya? haaaaaaaa..."
"Kenapa dokter tertawa apa lucunya?"
"Bu Miranti bercanda kali suster Retno."
__ADS_1
"Dok itu semua benar, pada saya sikap suster kepala Miranti memang nggak ada bercandanya sama sekali."
"Yang enak pimpinannya sendiri tuh."
"Maksudnya?"
Ruangannya di bersihkan sama orang cantik kayak kamu heee..."
"Aaaaaah dokter."
"Antrian nomor satu atas nama Ibu..." suara suster Erna menutup obrolan dr Imam SpOG dan Retno, Retno membimbing ibu ibu yang hamilnya sudah besar mungkin sudah bulannya datang dengan suaminya, kelihatan begitu susah untuk duduk juga, lalu konsultasi dengan dr Imam SpOG dan di persilahkan naik ke tempat tidur periksa dan di lakukan USG, Retno membimbingnya naik dengan perlahan dan menyelimuti bagian bawahnya lalu meneteskan gel di perut si ibu dan dr Imam SpOG mulai merekam kondisi janin dalam rahim si ibu dan merekamnya lalu mencetaknya dalam beberapa posisi.
"Suster Retno kapan mau hamil?" dr Imam SpOG memandang Retno.
"Pertanyaan yang salah dok." sahut Retno.
"Salahnya dimana?" Dr Imam SpOG mengerutkan dahinya sambil tersenyum ke arah Retno.
"Harusnya nanya dulu kapan nikahnya baru nanya hamil."
"Haaaaaaaa... bener juga ya, maaf ya aku telah salah tanya."
Retno dan suster Erna ikut tertawa juga.
"Boleh kalau saya nawarin tumpangan besok pagi, saya mau ke Bandung juga besok, biasa suster Retno berangkat jam berapa?"
"Dokter serius? ya mau lah kalau dokter nggak keberatan berangkat jam empat atau setelah sholat subuh teng."
"Ya jelas nggak keberatan lah kamu nggak aku gendong tinggal duduk saja."
"Aaaaaah dokter bisa aja."
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1