Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Intan kerja magang


__ADS_3

"Suster kepala Miranti, kenapa Aku harus di ruang praktek dr Imam SpOG?" tanya Intan saat berada di ruangan suster kepala Miranti.


"Kenapa memang?" jawab Suster kepala Miranti sambil tersenyum melihat wajah cantik Intan di hadapannya.


"Tak apa-apa, Aku merasa belum pernah saja mendampingi dokter spesialis, selama KKN dulu malah pernah mendampingi dokter umum," sahut Intan merasa belum siap secara mental dan belum punya pengalaman mendampingi praktek dokter.


"Sama saja kok Tan, kalau memang belum pernah jadikan ini kesempatan, Dr Imam baik kok. Ada Suster Erna di sana bisa tanya apapun pada dia nanti lama-lama juga biasa kok," sahut Suster kepala Miranti sambil tetap senyum pada Intan.


"Aku tidak meragukan soal kebaikan dr Imam, tapi merasa nggak enak saja." Intan tersenyum saja.


"Justru enaknya di situ, tidak canggung kalau sama orang deket dan sudah biasa. Nggak apa-apa di coba saja dulu kalau memang tidak nyaman nanti di pindah lagi gampang kok, malah menurutku dengan dokter yang baru dikenal lebih banyak kakunya," sahut Suster kepala Miranti mengangguk pada Intan.


"Suster Miranti, Apa Mas Imam eh dokter Iman tahu Aku mau magang kerja di sini?" tanya Intan lagi.


"Memang Intan sendiri nggak ngomong, bukannya kalian lagi dekat atau malah sudah renggang lagi? dikira Intan atau dr Imam malah akan senang saat bertemu di satu lingkup pekerjaan yang sama?" sahut Suster kepala Miranti sambil mengamati Intan yang seperti meragu.


"Begitulah Suster, pasang surut satu hubungan kadang tak bisa kita perkirakan, Akhir-akhir ini diantara kami ada saja yang membuat tidak nyaman," jawab Intan sambil memainkan ballpoint di tangannya.


Suster kepala Miranti tahu bagaimana hubungan Intan dengan dr Imam yang akhir-akhir ini mungkin sedang tidak baik-baik saja, kemungkinan pasti ada hubungannya dengan saat Ibunya dr Imam memperkenalkan kepada semua rekan sejawat gadis cantik yang bernama Vionna waktu kirim makanan segala ke rumah sakit ini.


"Biar nanti Ibu saja yang bicara dulu sama dr Imam kalau memang Intan belum memberitahukannya, karena waktu itu Pak Prabu bertanya yang masih ada ruang untuk memasukkan satu orang sebagai pegawai magang mendampingi dokter apa katanya, nah saat itu Ibu jawab dr Imam SpOG karena yang mendampingi hanya satu orang suster Erna, memang idealnya ada dua tiga orang tetapi kalau terpaksa satu orang juga bisa tetapi mungkin akan bekerja lebih ekstra saja." Suster kepala Miranti memberikan keterangan lebih lanjut kenapa Intan ditempatkan di tempat ruang praktek dokter Imam SpOG karena memang di situlah yang dibutuhkan bukan karena Intan seseorang yang dekat dengan dr Imam tetapi itu karena faktor kebutuhan saja.


Intan mengangguk dan waktunya bekerja sudah tiba, suster kepala Miranti mengangguk pada Intan menyuruh mengikutinya berjalan ke ruangan dokter Imam praktek.


Melongok sebentar kepada ruangan di mana suster-suster berjaga berkumpul dan bercengkrama juga istirahat sebelum dan sesudah praktek dan piket jaga siang malam secara terjadwal.


suster kepala Meranti mengetuk kamar ruangan praktek yang di depannya ada tulisan dokter Imam SpOG, suster Erna keluar dan bengong melihat Intan yang sudah dikenalnya berpakaian seperti dirinya.

__ADS_1


"Intan?"


Intan hanya tersenyum tidak bicara apapun dan membiarkan suster kepala Meranti yang akan menyampaikan kenapa dirinya berada di situ.


"Suster Erna, dr Imamnya belum datang, suster lagi ngapain?"


"Belum Bu," sahut Suster Erna sambil membuka pintu lebar.


"Perlu disampaikan karena Suster Erna akan mempunyai teman kerja yang mungkin sudah Suster Erna kenal sebelumnya yaitu Suster Intan dia akan magang di sini sampai batas waktu yang tidak ditentukan karena di sini kekurangan pendamping, jadi sementara ditempatkan bersama suster Erna di sini, di bantu dan di bimbing ya Sus." ucap Suster kepala Miranti.


Suster Erna tersenyum dan mereka bersalaman lalu berpelukan.


"Ya sudah kalian sudah kenal jadi lebih enak komunikasinya, Aku tinggal dulu ya, silakan mulai dari urutan awal yaitu timbang badan pasien, tensi sama aturan mengantri paling begitu-begitu lah nanti yang memanggil sama mendampingi dokter di dalam Suster Intan di perkenalkan ya!" Perintah suster kepala Meranti kepada suster Erna begitu mudah dipahami dengan penyampaian yang lembut mungkin semua orang juga menjadi betah bekerja selain menjalankan tanggung jawab dan kewajiban tetapi suasana juga begitu mendukung terutama jalinan kekeluargaan dari semua rekan kerja.


Terkadang suster kepala Meranti selalu inspeksi sendiri dan turun melihat semua bawahannya bekerja baik suster-suster di bawah kebidanan dan juga keperawatan lainnya, bahkan kalau melihat ada seseorang perawat yang tidak begitu bergairah selalu diajaknya bicara dan selalu ditegurnya dengan candaan kalau tersenyum itu tidak mahal berikanlah senyum kepada siapapun terutama kepada pasien karena kita bekerja di bidang pelayanan selain mengobati secara lahir tapi kita harus memperlakukan semuanya secara lebih baik lagi, dan itu terbukti support senyum dan keramahannya ditunjukkan semua pegawai membuat sinergi rumah sakit ini semakin berseri saja.


Suster Miranti berjalan keluar dan di situ berpapasan dengan dr Imam di lorong lalu lalangnya orang dengan kepentingan masing-masing.


"Dok, maaf ada perlu sebentar bisa?" ucap Suster kepala Miranti pada dr Imam.


"Boleh Bu, ada apa?" sahut dr Imam sambil minggir dari tengah lorong yang dilalui banyak orang.


"Mari ke ruanganku dulu!"


Tanpa bertanya lagi mereka berjalan bersisian menuju ruangan Suster kepala Miranti.


"Silahkan duduk dok," Suster kepala Miranti duduk duluan.

__ADS_1


"Dokter baru datang?"


"Iya, kenapa, ada apa Bu?"


"Dokter sudah tahu kalau Intan Adiknya Pak Prabu mau magang kerja di sini?"


"Sudah! jadi benar Intan mau kerja di sini? sebenarnya waktu itu saat Aku pulang dari Bandung Intan pengen ikut ke sini kebetulan Dia sedang santai tidak ada lagi tugasnya yang menjadi tanggung jawabnya hampir selesai dan saat itu dr Prabu menyampaikan bagaimana kalau ajak Intan bekerja untuk mengisi waktunya dan juga untuk pengalamannya, ya Aku setuju-setuju saja malah senang bisa dekat terus dan sekarang Intan jadi kerja di sini?" dr Imam begitu antusias.


"Dia sudah ada di ruangan mu dok!"


"Oh alah, Aku tak sabar ingin bertemu!"


"Sabar Dok, ada suster Erna di sana!"


"Iya Bu Miranti Aku tahu, hanya ingin bertemu saja padahal baru malam Kemarin Aku bersama sama Dia hahaha...." dr Imam tertawa senang melupakan semua masalahnya.


"Dasar! ya sudah sana kerja! ingat etika...."


"Hahaha...."


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2