Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Katakan !


__ADS_3

Retno menatap tajam ke arah dr Prabu dan berharap kali ini bukan setingan dan permainan untuk menjebak dan mempermalukannya, tapi Retno tak menangkap kepanikan di wajah Mas Prabu biasa saja, seolah apa yang di lakukannya dengan dirinya tak akan melukai siapapun.


"Masuk itu biasakan mengetuk pintu, duduk!" dr Prabu memberi perintah dan Intan langsung duduk di ujung sofa di samping dr Prabu.


"Retno kenalkan ini Intan adik aku dia ikut ke sini tujuannya mau liburan, tapi karena kesibukanku sepertinya dia ngambek belum aku ajak jalan-jalan kemana mana."


Hah? adik? adik yang mana lagi seingat Retno bukan begini wajahnya saat dulu ketemu kira-kira usia anak SD.


"Mas prabu jangan mengarang ngarang, perasaanku bukan adiknya yang waktu itu pernah beberapa kali bertemu denganku aku masih belum lupa walau waktu telah lama berlalu."


"Haaaaaaaa...Intan kenalkan diri kamu, Retno masih belum percaya kamu itu adikku."


Intan mengulurkan tangannya dan dengan ragu Retno menyambutnya senyum Intan memang seperti senyum Mas Prabu, mereka bersalaman di atas paha dr Prabu.


"Aku Intan Juwita."


"Retno."


"Aku belum pernah mengenalkan Intan sama kamu, Intan semenjak SMP dan SMA sekolah sambil belajar di pesantren, yang kamu kenal adik aku waktu itu yang satunya lagi Rahma Paramitha, aku adiknya dua." Retno masih saja kelihatan nggak percaya.


"Intan mau pergi ke mana, sama siapa?"


"Boleh, nggak aku pergi dengan dr Imam mengajak aku jalan-jalan?"


"Ke mana?"


"Ya, aku nggak tahu, pokoknya di ajak aja, apa makan ke mana atau jalan ke mana yang pasti bukan ke taman yang ada ayunan dan perosotannya, emang anak TK?"


"Ya sudah hati-hati, memang kapan janjiannya?"


"Telephon Kak heeee..." Intan memperlihatkan muka yang sumringah.


"Dr Imam ada-ada aja, ternyata di belakangku mereka sudah telephon-telephon dan janjian segala." dr Prabu seperti berbisik pada Retno.


Kali ini Retno tersenyum meski hanya tersungging, cukup membuat hatinya lega, dan menatap Intan seolah tak percaya orang yang dianggap setingan, dan ceweknya ternyata adiknya Mas Prabu, satu kesalah pahaman yang tadinya membuat hatinya begitu panas dan bergolak, tapi setelah tahu semuanya terasa adem dan senang banget melihat senyum tulus Intan, dan Intan juga begitu terpesona melihat cantiknya Mbak Retno dengan jelas dan dari dekat, pantesan Kak Prabu nggak bisa pindah ke lain hati dan begitu setia bertahun tahun dalam kesendiriannya.


"Duduk saja dulu nanti juga dr Imam nyamper ke sini, biar saya ultimatum dulu berani beraninya ajak-ajak anak orang, juga biar dia izin dulu sama saya"


"Apaan sih Kak, sampai segitunya? kami hanya berteman kok kan Mas Imam sudah Kakak kenal dan teman akrab Kakak juga."


"Semua juga asalnya berteman Intan, kamu itu sudah dewasa harusnya mengerti mana teman mana orang yang demen."


Intan hanya diam, mengerti semua apa yang di ucapkan Kakak nya, cuman mukanya agak merona dan senyum-senyum sendiri.


"Di sini kamu tanggungjawab Kakak, ya semua harus izin Kakak lah, lagian temani dulu Mbak Retno ngobrol biar kalian akrab kan sama sama kuliah di keperawatan."

__ADS_1


Retno melirik Intan dan Intan tersenyum juga sambil mengangguk kecil.


"Terus rencana mu apa sekarang setelah istirahat dan sembuh, dan jangan katakan lagi berhenti KKN, aku tak mengizinkannya."


Dr Prabu memegang tangan Retno, dan Intan merasa nggak enak merasa dirinya mengganggu Kakaknya yang lagi bicara sama Mbak Retno.


"Kak, aku mau nelephon dulu di luar ya." Intan ngeloyor keluar dan menutup pintu, dan dr Prabu hanya meliriknya.


"Pikirkan lagi mengulang tahun depan itu tak begitu mengenakkan, menunggu itu begitu menyiksa Ajeng seperti yang kita rasakan selama ini."


"Aku begitu putus asa dan semua blank yang aku inginkan hanya merefresh pikiranku, dan membiarkan pikiran jernih yang membimbingku." Retno sambil melepaskan pegangan tangan dr Prabu.


"Kalau aku boleh kasih saran, istirahatlah di rumahku dulu sebelum kamu aktifitas."


"Apa? emang aku Mas pandang cewek apaan?"


"Ssssssssst...Retno jangan salah sangka dulu aku tak bermaksud apa-apa aku tujuannya baik, dan untuk kebaikanmu memang aku mau menyekap kamu apa? dan melakukan semua keinginanku? memanfaatkan mu? tidak Retno, aku mencintaimu itu kata hatiku


di rumahku kamu bisa istirahat ada Intan,ada Bi Iyah dan Pak Min juga."


"Nggak aku ingin pulang ke Bandung, setidaknya aku masih punya orang-orang yang menyayangiku di sana."


"Retno, izinkan aku memberi perhatian padamu, maafkan aku bukalah hatimu, berpikirlah dengan fikiran yang benar."


"Mas anggap selama ini pikiranku selalu jelek? itu hak ku dan jalan yang aku pilih adalah pilihanku, dengan segala konsekwensinya nggak ada hubungannya dengan siapapun."


"Mas memang salah!"


"Iya aku salah terus biar salah selamanya? dan kamu tak berharap aku menjadi orang yang benar? sudah kita jangan saling menyakiti lagi."


Tangan dr Prabu memegang dan meremas jari tangan Retno.


"Mas lepaskan."


"Nggak."


"Lepaskan."


"Enggak Retno."


"Sebelum kamu janji meneruskan KKN di sini."


"Aku nggak bisa janji."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Itu urusanku."


"Retno berhenti stop semuanya dan jangan membuat aku tersiksa lagi, jangan buat aku khawatir lagi, kamu jangan menganggap aku tak memperhatikanmu selama ini, aku begitu memikirkan mu aku sampai nggak tidur hanya ingin melihat kamu berangkat pagi pagi dan memastikan kamu naik bus berangkat ke Bandung setiap pagi, aku sendiri sakit Retno kalau jiwaku ada di perempuan seperti kamu pasti aku sudah ambruk dari kemarin kemarin."


Retno diam dan bisa menyimpulkan mereka masih sama-sama mendamba dan saling mencinta dengan begitu dalamnya.


"Retno katakan apa yang harus aku lakukan untuk minta maaf pada keluargamu, memendam rasa marah sekian tahun, rasa dendam sekian tahun dan rasa yang tak bisa aku bohongi aku mencintaimu sampai saat ini, biarkan aku sekarang dan selanjutnya mencintaimu biarkan aku memperbaiki semua kesalahanku, mendengar ceritamu dalam lima tahun ini perjuanganmu sendiri, dan mempertahankan rasa yang pernah ada di hati kita hatiku hancur Retno, aku mengutuk diri sendiri, biarkan mulai sekarang aku serahkan hidupku untukmu, pandanglah aku! lihat keseriusan di mataku."


Dr Prabu memeluk kembali Retno yang terdiam, dan membelai kedua pipinya dan memandang dalam-dalam mata yang berair itu, seakan tak percaya kini semua telah kembali, menenggelamkan muka dan kepala Retno ke dalam dadanya seakan tak ingin lepas dan kehilangan sedikitpun waktunya lagi, dan Retno hanya diam tak bereaksi apa-apa seakan baru terbangun dari tidur panjangnya, hanya airmata yang tak henti henti mengalir dari sudut matanya.


"Retno sekali lagi ayo kita ke rumahku istirahat di sana, aku janji nggak akan mengganggumu."


"Mas jangan memaksaku aku tak bisa di paksa dalam hal apapun, beban bagiku mendatangi rumah Mas walaupun di rumah ada orang lain, biarkan aku memilih jalanku sendiri yang membuat hatiku nyaman."


"Oke, sayang aku ikuti keinginanmu, mau ke Bandung ayo kita ke Bandung mau jam berapa?"


"Aku berangkat sendiri saja."


"Tidak Retno! aku akan mengantarmu, jangan biarkan aku cemas memikirkan mu"


"Kenapa Mas baru merasa cemas sekarang? kemana rasa cemas itu dari kemarin-kemarin?"


"Ya ampuuuuun...Retno sudah sudah jangan mengingat-ingat yang membuat sakit hati kita, aku juga sama merasa sakit, silahkan hukum aku yang menurutmu hukuman yang pantas aku terima "


"Ayo mau berangkat jam berapa sekarang hemght?"


Retno bangkit mau keluar, tapi dr Prabu menarik tangannya dan membuat badannya berbalik berhadapan dengan Retno, Retno menunduk dan dr Prabu mengangkat dagunya hingga wajah Retno tampak jelas.


"Katakana kalau kamu masih mencintaiku!"


"Tidak."


"Katakan!"


"Mas memaksaku."


"Iya, kali ini aku memaksamu."


"Aku tidak mencintai Mas lagi."


"Katakan jangan bohong."


"Mas."


"Aku tak percaya."

__ADS_1


Muka dr Prabu semakin dekat dan hampir tak berjarak dengan muka Retno dan dengan kuat tangannya merengkuh dan memegang dagu Retno, Retno hanya pasrah saat bibir itu menyentuh bibirnya, dan menciumnya semakin dalam, dan saling ber-pagutan cukup lama dan saling menikmatinya melapangkan semua sesak di dalam dadanya semua telah terobati dengan sentuhan yang menggetarkan seluruh jiwa raga keduanya.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2