Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Ingin melihat lebih dekat


__ADS_3

Alya menjalankan mobilnya dan Desty duduk di sebelahnya sambil mencari sesuatu di samping penyimpanan dekat rem tangan, karena merasa dirinya haus atau barangkali ada makanan.


"Cari apa sih lo, dari tadi kayak orang tenggelam aja cakar sana cakar sini heh?"


"Gue mau minum haus sama lapar banget Non, mobil bagus orang yang di dalamnya cantik tapi gue kelaparan banget di dalam sini sumpah, nggak ada sedikit juga cemilan apa?"


"Haaa...nih minum gue tau udah berapa hari di pintu sini, dasar otak lo ke makanan aja fokusnya, turun sana beli mau apa tuh ada Minimarket di depan." Alya memberikan botol air mineral dari samping pintu kemudi dan menepikan kendaraannya.


Alya membuka dompetnya dan menyodorkan duit satu lembaran merah pada Desty. Desty sigap mengambilnya lalu turun membeli makanan yang dia suka dan balik lagi ke mobil.


"Lo mau nggak?"


"Nggak! gue cuma mau ketemu dan melihat dr Prabu saja perasaan gue sudah kenyang nggak mau apa-apa lagi saat ini."


"Buset segitunya? kalau nggak ada di lokasi gimana?"


"Kita samperin saja ke ruangannya."


"Lo yakin Al? maksud gue sorry ya, gue mau tanya apa lo melihat sinyal baik dari dokter itu nggak terhadap apa yang lo lakukan selama ini?"


"Ya, sementara ini baik-baik saja apa karena gue kenalnya dari Papa gue pokoknya gue juga belum yakin bener, apa dia juga ada hati atau nggak ya sama gue?"


"Lihat-lihat saja dulu gimana responnya Non, takutnya kita salah tembak jadi kita nggak sia-sia. Mending sasarannya dan target nya kita alihkan ke yang lain kalau dirasa akan sia-sia"


"Iya Des, tapi ada rasa penasaran gue ingin sekali lagi melihatnya dan mencari apa ada rasa cinta apa nggak, dan itu ingin gue pastikan dengan yakin kalau mungkin gue nembak duluan nggak apa-apa? dengan resiko jawaban ya dan tidak."


"Lo berani emang Al?"


"Ya gue paksain, dari pada jadi ganjalan di hati."


"Siap dengan segala resiko?"


"Harus siap."


"Baru kali ini gue lihat dan dengar lo semangat Non!"


Tapi kadang gue ingin merealisasikan resep gila lo yang waktu itu, tapi penuh resiko dan akibat yang melanggar hukum juga terlalu berani bahkan sadis menurut gue."


"Yang mana?"

__ADS_1


"Itu yang tabur di kopi itu."


"Haaa... ternyata lo masih ingat dan kepikiran aja, jangan deh ah itu kan ide nekad gue, nanti gue kena rembetan nya lo mentok gue kena getok."


"Resiko punya ide haaa..."


"Enak aja lo, jangan sembarangan kalau nggak sama gue sebagai sutradaranya. Main sendiri jangan coba-coba harus matang perhitungan dan strategi nya."


"Sayang lo juga punya kesibukan sekarang, gue semakin kesepian aja nggak ada teman gila buat curhat gue heee... di rumah gue anak tunggal nggak ada teman berantem, di pergaulan teman teman gue satu persatu married dan punya satu kehidupan sendiri dan lo satu-satunya yang tertinggal pergi juga, itulah kehidupan yang harus kita terima ya Des"


"Gue juga kan manusia Al, pengen nikah punya kehidupan dan keluarga sama seperti lo."


"Tapi lo jangan sampai tega setega-teganya ya Des, tengok gue kali kali pintu rumah dan dapur gue masih terbuka buat lo."


"Anjiiiiiir... pintu dapur emang gue pembokat lo dasar semprul!"


"Haaaaaaaa...kan lo sukanya buka tudung saji meja makan rumah gue."


"Kalau gue juga punya pacar dan married duluan lo harus rela ya Non heee..."


"Masa gue nggak rela teman bahagia? paling gue nangis di pojokan saat tahu gue anak tunggal dan anak bungsu yang berhasil dalam karir dan usaha. Tapi nggak laku-laku dan belum nikah-nikah dan di tinggal nikah sama-teman teman gue."


"Sebenarnya orang itu merasa kagok lihat lo itu Al kalau menurut gue."


"Merasa segan dan takut dengan jabatan orangtua lo, merasa takut untuk dekat, takut di tolak dan mungkin takut dengan aturan, mungkin karena bapak lo itu pejabat banyak aturan yang harus dilewati dan ditaati untuk bisa dekat dengan lo, apalagi menjadi kekasih lo bahkan lebih jauh menjadi calon suami lo."


"Iya kali ya Des padahal gue sebagai anak biasa saja, gue tidak pilih-pilih dengan siapa gue bergaul tapi emang semua seakan seperti jauh tak seperti orang lain begitu akrab begitu mudah mendapatkan teman dekat."


"Nikmatin saja sob tak semua bisa seperti l, dan tak semua juga seperti gue heee..."


"Iya Des, pada dasarnya kita ada kekurangan dan kelebihannya, gue kira hidup lo bahagia tapi ternyata anggapan lo hidup gue yang enak."


"Oh iya Des, ini ya rumah sakit itu? hampir gue kelewat."


"Lo yang elegan jadi cewek jangan centil-centil nggak jelas arahnya bikin gue pingin getok pala lo melihatnya, dan jangan manja-manja gitu kalau lagi pendekatan sama cowok semprul."


"Emang gue centil? perasaan gue kalem paling kalau ngomong gue kayak lo cempreng heee...habis gimana ya kalau di depan cowok yang kita suka bawaannya gimana gitu."


"Itu salahnya lo, nggak bisa jaga image diri lo sendiri menurut gue cowoknya takut duluan."

__ADS_1


"Iya ya? oke aku rubah semuanya."


Mobil masuk pelataran parkir area rumah sakit yang sudah banyak mobil berjajar rapi. Alya juga Desty berjalan menuju samping rumah sakit yang menuju ke GOR yang ada di belakangnya.


Desty dan Alya melihat lihat semua yang ada di ruangan dalam GOR dan sudah banyak orang yang mungkin ingin menonton atau sekedar jalan-jalan saja, juga para atlit yang ikut lomba di babak penyisihan kedua sedang pada latihan dengan serius, tiga lapangan yang tersaji isi sama orang yang lagi latihan.


"Aku pengen melihat dokter itu dari dekat Al apa mungkin dia datang apa nggak ya? sepertinya akan datang ke sini menurut perkiraan lo?" Desty menyenggol tangan Alya.


"Sebentar lagi kan acaranya juga belum dimulai pasti hadir menurut gue selain dia juga atlet kata Papa gue, juga kesukaan dan kegemarannya dia olahraga ini aku jamin dia pasti hadir"


Alya dan Desti berjalan-jalan lagi melihat skema diagram permainan dan disitu terpampang juga pemain yang akan ikut dan sudah ikut di turnamen, dan ada nama seorang dr Prabu tercatat juga di situ. Alya seperti ingin berjingkrak saja kalau tak semakin banyak orang yang memenuhi GOR itu.


"Des, sepertinya dr Prabu juga ikut ambil bagian dalam turnamen ini."


"Asyiknya lo atuh itu mah Al, bisa pelototi dia sampai ngeces haaa..."


"Dasar semprul lo!"


"Haaaaaaaa..."


"Ayik juga biar gue bisa melihat lama-lama dan biar gue bisa mensupport dia dari dekat, pokoknya lo jangan ikut campur dan jangan mau pulang kalau mau jajan makanan dan minum beli aja."


"Pokoknya gue nggak bisa ngapa-ngapain gue nggak suka olahraga ini, juga gue nggak suka tempat ini tetapi demi lo gue duduk aja di sini tapi lo harus rela sogok gue."


"Makan aja yang ada dipikiran lo sana beli lagi nih bawa sekalian bawa dompet gue." Alya ngasih dompetnya ke pangkuan Desty.


Desti memang tidak suka hal-hal yang seperti ini seperti olahraga dan hal-hal yang yang berbau olahraga yang harus ditekuni dengan serius menurut fikirannya, semua jenuh melihat orang tepuk tepukan raket ,atau lari, atau berburu dan rebutan bola yang hanya satu sama banyakan baik volley ball atau basketball atau sepak bola dan olahraga lainnya. Sampai berkeringat seperti ini begitu menjemukan di matanya, tapi kalau bagi sebagian orang adalah kesenangan tersendiri melihat keindahan kemampuan dengan keterampilan dipadukan menjadi satu di lapangan.


"Pak yang main sekarang di nomor apa Pak?" Alya bertanya pada seorang Bapak sebagai seorang petugas yang sedang merapikan peralatan didekat papan skor poin.


"Masih penyisihan di babak perempat final tunggal putra dan tunggal putri main sampai malam Neng, karena ini sistem gugur langsung yang kalah tidak bisa maju lagi."


"Oh, Alya sedikit mengerti."


Dan Desty asyik dengan makanannya.


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2