
"Saya terima nikah dan kawinnya Intan Juwita binti Pulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 100 gram perhiasan emas di bayar tunai!"
"Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah, semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah mawadah warahmah jangan ada kata berpisah karena sudah di satukan dengan ijab Qabul yang sakral ini, kini kalian sah menjadi suami istri, tinggal pengantin pria membacakan siga taklik janji suami pada istri menurut agama yang kalian anut."
Setelah melengkapi semua administrasi pada petugas KUA di lanjutkan dengan tradisi sungkem sebagai permintaan izin dan memohon do'a restu pada orangtua kerabat dan saudara.
Kebahagiaan terpancar dari pasangan pengantin baru itu walau Retno dan dr Prabu melihat gurat kesedihan di sudut lain sepasang pengantin itu, terasa tidak sempurna kebahagiaan itu karena orangtua dr Imam tak ada di sini.
Merupakan pilihan dr Imam menikah tanpa lama persiapan dan alotnya runding kedua belah pihak. Semua akhirnya terlaksana juga hubungan satu tahun lebih bermuara pada pernikahan yang di impikan mereka saat Intan selesai menjalani kuliah dan tinggal menunggu jadwal wisuda saja.
Bahagia? harus! karena pernikahan memang harusnya dijalani dengan kebahagiaan walau pada kenyataannya ada juga yang bersedih karena permasalahan yang ada. Seperti dr Imam yang tidak bisa meyakinkan kedua orangtuanya yang tetap keukeuh pada pendiriannya kalau yang terbaik bagi putranya adalah pilihannya.
Lain lagi dengan dr Imam, pilihannya pada Intan sudah menjadi ketetapan hatinya, jadi lebih baik menikah tanpa di hadiri kedua orangtuanya walau semua itu dianggap pembangkangan. Tak mungkin meninggalkan janji hatinya sendiri yang sekian lama mereka menjalin tali kasih merenda cinta.
Ada titik air mata saat dr Imam pertama kali setelah sah menjadi seorang suami mencium kening Istrinya Intan setelah Intan dengan sepenuh perasaannya mencium tangannya.
Suasana Akad yang sakral dan khidmat hanya di hadiri kerabat dekat dan tetangga selesai sudah diakhiri dengan makan bersama, sorenya mereka berangkat ke Tasikmalaya mempersiapkan resepsi yang juga dengan undangan tamu terbatas.
Retno yang menempel di samping dr Prabu merasakan perasaan dr Imam juga Intan yang kelihatan belum bahagia sepenuhnya.
****
"Yee... akhirnya kita sampai duluan Intan, lihat semua sudah siap senyum dong kini status Kita sudah berubah Kita lihat kamarnya yuk!" dr Imam menarik tangan Intan menaiki tangga dan tak bisa menolaknya walau di rumahnya masih ada pegawai EO yang lagi finishing semua properti persiapan resepsi besok.
"Maksud Mas lihat apanya?" tanya Intan sambil berjalan dengan tangannya masih di tuntun dr Imam.
"Ya lihat desainnya cocok nggak, warna kesukaan Kamu itu apa? maaf ya Aku malah belum faham soalnya nggak tanya juga sama Kamu Sayang."
"Nggak apa kok Mas, apa aja Aku suka asal..."
"Asal apa Intan?"
"Asal tidurnya sama Mas Imam!"
__ADS_1
"Ah, Intan Kamu bikin Aku nggak tahan saja!" sahut dr Imam sesampainya di atas yang tidak ada orang karena kesibukan hanya di halaman depan dan di lantai bawah saja.
"Masuk yuk!"
"Mas mau ngapain Kita di kamar? takutnya orang EO mencari Kita," ucap Intan merasa belum siap dan hanya berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Mencari untuk apa? sudah tahu kita pengantinnya Kita istirahat saja di sini, keluarga Kamu datangnya besok. Sore ini, juga malam ini hanya Kita yang di sini paling sama orang-orang EO itu biarlah Kita jangan ganggu kerja mereka."
Akhirnya Intan mau juga masuk dan kagum melihat kamar dengan penataan ruangan kamar pengantin mereka yang di dominasi warna peach dengan kombinasi hijau muda, kamar yang begitu wangi dengan semua properti serba baru.
Dr Imam menarik Intan dan mengunci pintu lalu menangkap tangan Intan yang hanya berdiri sambil melihat sekeliling kamar yang begitu luas.
Dr Imam mengambil tas Intan dan menyimpannya di atas meja rias, suasana sore yang redup di dalam ruangan membuat mereka terbawa suasana hanya suara desir AC yang menyala dan gerakan tubuh mereka yang berpelukan dan saling mengusap juga membelai masih dalam posisi berdiri.
"Intan, akhirnya Kita menikah juga. Kini Aku milikmu juga Kamu milikku."
"Iya Mas, Aku bahagia dan akhirnya Aku bisa memberikan semuanya pada Mas Imam, Apa Mas mau minta sekarang?"
"Iya Intan, Aku mau mencobanya Kamu siap nggak apa-apa?"
"Aku hanya sedikit takut Mas, boleh Mas lalukan sore ini tapi malamnya Kita tidur ya soalnya besok hari resepsi takut Aku ketiduran di pelaminan."
Intan tersenyum mengerti maksud suaminya, lalu menarik tangan dr Imam ke arah tempat tidur dan Intan merebahkan diri duluan di sana. Dr Imam dengan perlahan mencium kening, lalu ke bibir lama di situ mereka berpagutan sambil berpelukan dan mata dr Imam nanar melihat indahnya tubuh yang begitu di impikannya kini tersaji di depan matanya walau masih tertutup pakaian.
Mata Intan terpejam saat tangan nakal dr Imam mulai menyasar ke balik pakaiannya, hatinya bergejolak saat mulut dengan kumis tipis itu menyentuh dadanya dengan lincah memainkan kuncup yang belum keluar menghadirkan gelanyar aneh yang menagih untuk terus merangsek menuju puncak.
Entah kapan pakaian mereka lucuti sampai Intan sama sekali tidak sadar kini dirinya sudah utuh tanpa penghalang.
"Ah Mas!"
"Aku belum apa-apain Kamu Sayang Aku masih memeriksa seluruh tubuh Kamu," ucap dr Imam dengan nafas tersengal.
Dasar dokter! bawaannya periksa saja. Padahal sama-sama sudah tak tahan pengen mencoba, nanti kalau sudah hamil hasil praktek kali ini baru periksa!
"Mas, Akh..."
"Kamu nggak tahan Sayang? sebentar, biar Kamu gak terlalu merasakan sakit karena ini pertama kali Kita lakukan!"
Dr Imam tahu dan sangat mengerti kalau hubungan badan pertama kali ada yang membuat perempuan trauma. Makanya melakukan foreplay dulu dengan sempurna.
Puas berciuman dan merambah bagian dada, lanjut ke bawah mencium perut membuat Intan menggelinjang luar biasa dan mengelus daerah inti sangat hati-hati dan menciumnya memberi kenyamanan walau dalam ketegangan tinggi.
__ADS_1
"Mas..."
"Iya Sayang..."
Dr Imam sekali lagi mendekap Intan yang sudah panas dingin akhirnya memulai penetrasi inti.
"Maaf ya Sayang," Intan memejamkan matanya merasakan hujaman di daerah intinya dan akhirnya gool juga. Sesaat mereka berhadapan tanpa ada gerakan dan akhirnya pencapaian di mulai dengan sama-sama semangat tinggi sampai juga pada batas kemampuan mereka.
Walau masih meringis tapi menikmatinya Intan berusaha mengimbangi semua gerakan gagah suaminya.
Berdua tepar sambil berpelukan bermandi keringat, Bahagia keduanya telah saling memberi hal teristimewa bagi belahan hatinya.
"Makasih Intan Sayang." Dr Imam membelai bibir Intan di hadapannya.
Intan tersenyum sambil mengangguk dan mengusap pipi suaminya.
"Nanti malam satu kali lagi ya!"
"Kan Mas sudah janji malam nanti Kita tidur, Aku takut besoknya ngantuk!"
"Iya nanti malam Kita tidur, tapi sebelum tidur masa ngobrol? ya Kita praktek sekali lagi," jawab dr Imam sambil tangannya dengan nakal menyelinap ke balik selimut yang menutupi tubuh merek sampai dada.
"Ya sudah terserah Mas saja."
"Makasih Sayang, kalau dua kali boleh nggak?"
"Mas sekarang juga Aku masih merasakan perih," sahut Intan sambil menenggelamkan wajahnya ke dada suaminya.
"Itu biasa dan alami Sayang, sudah kena air nanti enakan lagi. Malah nanti Kamu yang minta duluan!"
"Ah, Mas!"
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1