
"Mas, beritahu lagi orangtuamu apapun tanggapannya kalau Kita sudah menikah dan hari ini adalah resepsinya, Antar undangan via ojek aplikasi atau siapa kek mungkin pemikiranku ada baiknya." Intan mengingatkan kembali kalau kebahagiaan mereka tetap harus di rasakan orangtua dr Imam suaminya kini. Minimal mereka tahu masalah mau datang atau tidak itu gimana nanti kalau sudah di beritahu.
"Iya Intan, bagaimanapun mereka orangtuaku, makasih Sayang Kamu sudah mengingatkan karena 4 hari ini Aku memang tidak pulang."
Akhirnya dr Imam menitipkan pada ojek online satu undangan di sela-sela kesibukan pagi setelah semalam akhirnya mereka sama sekali tidak tidur sampai baru dini hari bisa memejamkan mata karena kecapekan.
Walau tubuh Intan serasa habis maraton di kerjain tanpa puas dan sama-sama masih penasaran dan kurang tidur, tapi tetap semangat saat perias pengantin datang mendandani mereka.
Sesekali dr Imam mencium pipi Intan sambil tersenyum, membayangkan semua telah di cicipinya luar dalam semua begitu menagih sampai letih mereka bercinta tak ada kata puasnya.
"Sabar dok, malam nanti bebas jangan rusak lagi makeup ku dong! Aku sampai beberapa kali oles lagi oles lagi," ucap juru rias sambil tertawa di sambut senyum Intan.
Kesibukan pagi begitu terasa lalu lalang orang siapin catering yang masih satu naungan sama EO, Dr Imam dengan bangga memandang Intan yang sudah duduk di pelaminan menanti dan meyambut semua tamu yang memberi ucapan dan selamat.
Siang beranjak merambat naik datang rombongan orangtua Intan dari Bandung, kebahagiaan semakin siang semakin bertambah dr Imam dan Intan rasakan inilah hari dimana mereka merasakan untuk pertama kali jadi suami istri.
Saat rekan, teman sejawat datang bergerombol datang dengan jadwal menurut sip kerjaan mereka biar tidak mengganggu pelayanan di Rumah Sakit. Semua datang dengan beberapa gelombang. Suka cita keluarga besar Rumah Sakit TMC ikut bahagia apalagi yang menikah dr Imam SpOG salah satu dokter yang sudah lama praktek di situ sama Adik direktur dr Prabu yaitu Intan Juwita semua anggota kepegawaian tumplek hadir walau datangnya tidak sekaligus.
Saking sibuk melayani tamu yang datang memberi ucapan selamat dr Imam sama Intan sampai lupa tidak melihat Retno juga dr Prabu saat Rendra juga Alya datang memberi selamat dan menanyakan mereka.
Sampai pulang Rendra juga Alya tetap tak bertemu dr Prabu juga Retno.
****
"Pak parkirnya sebelah sini biar tidak mengganggu mobil yang mau keluar nanti." ucap Satpam Rumah Sakit sambil membungkuk hormat.
"Oh, iya Pak."
"Maaf ya Pak karena sedikit Aku tata kendaraannya soalnya takut lama Bapak sama Ibu mau berobat? atau kontrol?"
"Kami mau bertemu dr Imam SpOG."
__ADS_1
"Oh, Ibu yang punya kepentingan? maaf Bu dr Imam beberapa hari ini lagi cuti kelihatannya dan hari ini resepsi pernikahannya. Sebentar lagi Aku juga sama rekan kerja mau ke sana bergantian, kecuali Ibu sama Bapak mau konsultasi sama dr SpOG yang lain gimana Bu?" Satpam itu merasa heran karena usia Ibunya dr Imam dan Bapaknya menurut pikirannya sudah tidak pantas berkonsultasi dengan dr Spog kecuali ada keluhan lain.
Seketika kaki orangtua dr Imam tak bisa di gerakkan tertegun serasa kaku ditempatnya berpijak mendengar kalau dr Imam lagi cuti dan hari ini adalah hari resepsi pernikahannya.
Mereka berpandangan sampai tidak bisa menjawab semua perkataan Satpam itu.
"Bu, masuk ke mobil!"
Dengan di bimbing Ibunya dr Imam masuk dan duduk dalam diam, setitik airmata hangat jatuh di pipinya.
Janji putranya akhirnya jadi kenyataan dihadiri Ibu sama Bapak atau tidak akhirnya menikah juga, orangtua macam apa dirinya ini? sama Anak atas nama sayang bisa dengan sebegitu teganya, tak sedikitpun mempertimbangkan apa yang di inginkan putranya itu malah seolah Dirinya tidak perduli dan tak mau tahu.
"Pak apa punya kartu undangan resepsi dr Imam?" tanya Bapaknya dr Imam pada Satpam itu.
"Oh, nanti Aku cari dulu di post. Bapak sama Ibu pasien dr Imam ya?"
Satpam langsung kembali ke post dan keluar dengan membawa kartu undangan lalu menyerahkannya pada Bapak dr Imam.
"Kita ke mana ini Bu?"
"Pulang ke rumah!"
Tanpa menjawab Bapaknya langsung menuju ke arah jalan pulang.
Sampai rumah di halaman depan ada selembar Undangan yang persis di berikan Satpam tadi. Mungkin di lempar pengirimnya karena memang di rumah tak ada orang.
Ibunya dr Imam memungutnya sambil tetap dengan derai airmata dan isakan yang tak pernah berhenti.
Di bukanya surat undangan itu dipandang dan diyakinkan sambil di baca satu nama dengan tulisan huruf tebal dengan pandangan nanar terhalang air mata, Menikah: Dr Imam Hambali SpOG dengan Intan Juwita. Ada amplop di dalamnya dan langsung di bukanya.
'Beserta sembah sujudku, dengan tidak mengurangi takzim dan rasa hormatku Aku putramu hanya minta do'a restu kalau hari kemarin telah melangsungkan ijab qabul, Hari ini adalah resepsinya. Kiranya Ibu sama Bapak berkenan hadir mungkin akan jadi kebahagiaan Kami berdua.'
__ADS_1
Bersimbah simpuh :
Imam & Intan.
Dada Ibunya dr Imam sampai sesak dan berteriak sekuat tenaga membuat Bapaknya yang baru masuk kaget luar biasa.
"Aaargh! Pa...!"
"Ibu? kenapa, sabar Bu Kita diskusi baiknya seperti apa?"
"Kita adalah orangtua yang gagal, orangtua yang salah, egois dan sebenarnya tak perduli pada Anak sendiri, Kita hanya mengatasnamakan Sayang selama ini padahal Kita telah menyakitinya, memaksanya, dan membuat jarak diantara Anak dan orangtua bawa Aku ke sana Pak! Aku ingin memperbaiki diri Aku malu sama dunia! Anak menikah sampai tidak melibatkan Kita orangtuanya! Ya Allah orangtua macam Apa Kita ini?"
Ibunya dr Imam histeris dan menangis sepuasnya, dan Bapaknya berusaha menenangkan.
Bapaknya memeluk Ibunya dr Imam sambil mengusap kepala dan punggungnya sejuta penyesalan menggunung di hadapannya.
"Iya Ibu tenang maunya Ibu gimana? baiknya Kita seperti apa Bapak dari kemarin-kemarin juga hanya mengikuti kata Ibu karena Ibu merasa yakin dengan jalan juga keputusan yang diambil bukan Bapak menyalahkan karena sekarang bukan saatnya saling menyalahkan tapi kita cari solusinya bersama-sama."
"Ibu mau ke sana sekarang juga, mau minta maaf pada Anak dan menantuku mau memeluknya Ibu tak ingin kehilangan Anakku satu-satunya."
"Iya Ibu harus tenang dulu, tak baik Kita datang dengan emosi dan kesedihan yang berlebihan hanya akan mengganggu ketenangan semua orang yang ada di sana, sekarang bersihkan dulu ganti pakaian dan satu lagi berusaha tenang Kita ke sana kalau Bapak melihat Ibu sudah bisa mengendalikan semua rasa bersalah, Kita di undang kok makanya ada surat undangannya sampai ke rumah Kita."
Ibu dr Imam mulai tenang lalu berganti pakaian walau sakit dalam dadanya tak terperi sesak oleh perasaan bersalahnya. Sejuta pengakuan terus saja ada bergejolak dan ingin segera meminta maaf dan melihat putranya di pelaminan tersenyum menyambutnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️