
"Retno aku tahu kamu masih marah padaku walau kita sudah menyatakan damai, aku akan berusaha meyakinkan dan memenangkan hatimu kembali untuk bisa saling cinta lagi" dr Prabu melirik Retno yang anteng dengan ponselnya di jok sebelahnya.
"Pasang pengamannya sayang kita memburu waktu, agak cepetan dikit nggak apa apa?"
"Aku takut Mas, iiiiiiiiiih... biasa saja kenapa sih?"
"Haaa...ngomong dong dari tadi diam aja apa kangen atau masih marah?"
"Aku tahu." dr Prabu memancing.
"Tahu apa?"
"Tahu hatimu dan segalanya."
"Emang sejak kapan jadi dukun?"
"Sejak ketemu kamu, terus kamu nya marah-marah gitu, memang nggak berasa kalau udah aku hipnotis hati dan perasaan kamu?"
"Nggak ada kerjaan."
"Ya kerjaannya ngikutin kamu."
"Itu namanya tukang ngintip!"
"Haaa...ngintip orang cantik kayak kamu seneng nggak ada ruginya."
"Gombal!"
"Tapi kan ganteng kamu suka kan?"
"Iiiiiiiiiih... apaan sih bicaranya jadi kemana-mana."
"Dari pada diam-diaman sama marah-marah."
Retno kembali diam.
"Retno kapan kita punya waktu berdua, kita ngobrol serius bukan hanya basa-basi dan gombal saja seperti katamu."
"Aku nggak punya waktu, habis buat di jalan, nanti lama-lama malah tua di jalan."
"Nggak sekalian cari jodohnya di jalan dan nikahnya di jalan juga?"
"Ini lagi mencari seorang yang bisa menghargai dan bertanggung jawab dengan perasaanku, juga perasaan dirinya sendiri."
"Aku akan bertanggung jawab dengan perasaanmu Retno, aku akan memenuhi janjiku pada kedua orangtuamu, aku akan jadikan sisa hidupku untuk membahagiakanmu, seandainya kau buka kembali hatimu untukku, dan kamu beri aku kesempatan kedua untuk bisa bersama lagi. Jangan bilang nggak punya waktu aku ada di dekatmu aku akan membantumu sebisanya."
Retno diam dan menunduk, semua sindirannya ditanggapi serius sama Mas Prabu, semua ucapannya sendiri membuat Retno kehilangan kata-kata.
"Biarkan kita jatuh cinta lagi Retno tanpa beban apapun lepaskan perasaan kita, aku tahu tak mudah mencintai dengan kebencian, tapi setidaknya kita punya satu rasa yang sama mungkin itu cinta sejati kita"
__ADS_1
Dr Prabu menghentikan mobilnya ke pinggir dan menatap dalam dalam wajah Retno yang ada di sampingnya, seakan meyakinkan dirinya sorot mata itu masih seperti yang dulu, masih yang menyimpan sejuta rasa kebahagiaan di dalam hatinya.
"Retno kalau memang nggak punya waktu, aku begitu menghargai alasanmu, dan akan aku jadikan setiap kesempatan adalah waktu istimewaku bersamamu, dan sekarang aku bertanya di jalanan ini karena kita sempitnya punya waktu, maukah kamu membuka hati lagi untukku?"
Seketika Retno terkejut tapi bisa menguasainya dan langsung menatap dalam-dalam manik mata hitam itu mencari keyakinan dari jendela mata itu dan membiarkan hatinya yang bicara dan menjawab dengan kejujurannya, hatinya seperti meragu apa ini tekanan juga? tidak! sepertinya ini tulus dan apa adanya, apalagi tangan hangat dr Prabu mulai menggenggam erat jemarinya yang dingin.
"Aku ulang sekali lagi, maukah kamu membuka hati lagi untukku?" suara dr Prabu begitu dekat di telinganya.
Retno sekali lagi memandang dr Prabu dan tersenyum tulus lalu mengangguk.
"Retno..." dr Prabu memegang tangan Retno dan meremasnya semakin erat memandang lekat wajah yang selalu ada di ingatannya, yang menjadi semuanya tidak fokus dan menjadikan dirinya seorang penunggu yang tak kunjung menemukan di mana pelabuhan terakhir dalam masa-masa tak tentunya, hanya satu kata yang bergetar dari bibir dan mulut dr Prabu mewakili perasaan bahagianya menyebut nama Retno.
"Jalan lagi Mas." Retno membuyarkan diamnya mereka dalam rasa yang hanya mereka yang tahu.
"Iya, sebentar lagi juga sampai."
Dr Prabu malah bergeming saat ponselnya berbunyi dengan nada panggilan masuk getarannya vibrasi dan tanpa suara atau nada panggil, dan dr Prabu meminta izin Retno untuk mengangkatnya dan Retno hanya mengangguk.
"Ya suster, saya masih di jalan sebentar lagi sampai ada apa?"
"Pak, ada Pak walikota tadi datang menanyakan Pak Prabu."
"Di tanya nggak kira-kira apa ya kepentingannya?"
"Sepertinya dia menengok besuk anaknya Neng Alya yang di rawat di sini Pak."
"Alya masuk rumah sakit? ke apa?" dr Prabu melirik Retno yang duduk melihat lihat ponselnya.
"Ya sudah, biar nanti saya menemuinya."
Sambungan selular terputus dan pembicaraan dengan suster kepala Miranti terhenti, ada apalagi dengan Alya? beberapa hari yang lalu teringat mengirimi dirinya makanan malah dr Prabu tak sempat mencicipinya.
Mobil melaju kembali dan berdua saling membisu sibuk dengan pikiran masing-masing, bahkan Retno menyandarkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan ujung kerudungnya, dr Prabu meliriknya dan tersenyum, dr Prabu menangkap sinyal kalau Alya ada apaapanya, lelaki dewasa mengerti pendekatan yang di lakukan Alya bahkan di mata dr Prabu agak berlebihan tapi mungkin juga dianggap biasa dan wajar-wajar saja menurut pikiran modern zaman sekarang.
Jarang bertemu mungkin hanya beberapa kali saja tapi Alya seperti rutin mengingatkan dr Prabu akan pertemanan mereka, entah itu dengan mengirim makanan atau sekedar bertanya khabar.
Merasa di ingatkan dr Prabu merasa bersalah kadang menolak ajakan Alya mampir ke cafenya dengan alasan yang ada aja dan diakhiri ucapan kapan-kapan, dan pasti suatu saat, juga nanti ada waktu aku mampir.
Alya perempuan ke sekian yang masih mencuri-curi kesempatan mencari perhatiannya, sebelum mereka mundur secara perlahan dengan sikap cuek dr Prabu, dan di rasa Alya begitu gigih dan sedikit di lirik di akhir-akhir masa dr Prabu ingin mengakhiri penantiannya, sebelum Retno hadir kembali di hadapannya dan merubah segalanya.
"Sayang, sebentar lagi sampai." dr Prabu mengusap halus pundak Retno.
Mobil memasuki gerbang rumah sakit berhenti di parkiran dan Retno membuka ujung kerudungnya yang menutupi mukanya, sejenak mengumpulkan ingatannya Retno tertidur tadi barang beberapa menit dan bersiap-siap turun mengumpulkan barangnya tas dan kantong plastik jinjing di jok tengah.
"Makasih Mas."
"Sama-sama, nggak makasih juga nggak apa-apa aku senang kok."
Retno sedikit mendengus tersenyum sambil memicingkan matanya.
__ADS_1
"Haaaaaaaa..." Dr Prabu membuka pintu mobil dan mengambil tas Retno dan menyodorkannya, Retno mengambilnya dan berlalu tanpa kata lagi.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore lumayan Retno masih bisa istirahat dalam pikiran dr Prabu dan memandang punggung Retno yang menghilang di belokan tembok rumah sakit, dirinya bergegas mengunci mobil dan berjalan ke arah ruangannya yang terakhir hari apa di masuki nya.
Mungkin pekerjaannya menumpuk tapi langkah dan pikirannya agak ringan sekarang dan selalu ada senyum dari bibirnya.
"Pak Prabu!"
"Oh, ya suster Miranti."
"Baru datang Pak?" terkadang dokter terkadang Pak memanggilnya lucu memang di panggil Bapak belum jadi bapak jangankan anak yang memanggil bapak istri juga belum punya, di panggil dokter memang dirinya sudah tidak praktek lagi.
"Masuk aja ke ruangan ku suster."
"Iya Pak, nanti saya selesaikan ini dulu." suster kepala Miranti menunjukkan satu map entah berkas apa.
Masuk ke ruangannya dr Prabu merasa begitu ringan dan seperti merasa enak perasaannya langsung duduk di kursi kerjanya menarik nafas dalam-dalam, melihat semuanya begitu rapi dan tertata seperti semula, membuka laci bawah dan menaruh papan nama dirinya di depan mejanya.
"Pejabat daerah biasa meminta prioritas Pak." suster kepala Miranti masuk dan langsung duduk di sebrang dr Prabu.
"Prioritaskan saja lah dia yang punya wilayah apa susahnya."
"Sudah Pak."
"Sakit apa anaknya?"
"Meriang sedikit panas juga sedikit, sepertinya meriang manja saja."
"Heeee...emang ada meriang manja? ada ada aja suster ini, terus siapa yang menangani?"
"Dr Indah, padahal katanya berobat jalan saja cukup nggak mesti di rawat segala"
"Ya sudah, nggak apa-apa lain orang kan lain maunya."
"Pak ini berkas untuk acara hari jadi rumah sakit ini, di liha-lihat saja dulu pengajuan anggaran dan mata acaranya, dan juga lain-lainnya."
"Oh ya sudah, makasih ya suster."
"Sama-sama Pak, kelihatan Pak prabu cerah hari ini heee...cuma saya belum tenang belum berterus terang dan minta maaf pada suster Retno."
"Haaaaaaaa...saya nggak ikut-ikutan sekarang."
"Dokter !!!"
.
.
.
__ADS_1
Suka? kasih tahu yang lainnya, nggak suka komennya di tunggu kasih tahu author nya heee...salam !
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝