
Kebahagiaan keluarga orangtua dr Prabu begitu terasa saat semua anak-anaknya kumpul dan makan bersama, hanya belum lengkap tanpa adanya seorang menantu yang sudah pantas duduk mendampingi anak bujang nya, dan itu di rasakan betul sama dr Prabu sendiri walau Ibu dan Bapaknya sudah tak bertanya lagi atau menyindir atau sekedar menggodanya tapi saat kedua orang tuanya membicarakan habis dari selamatan lahiran cucu tetangganya dr Prabu sendiri merasa tersentil hatinya, entah karena merasa dirinya masih sendiri atau begitu sensitifnya hati dan perasaannya saat ini?
Jauh di lubuk hatinya ingin segera memberikan kebahagiaan yang lain dan kesuksesan dalam membina rumah tangganya, dan dr Prabu bukan orang yang tak mengerti apa keinginan orangtuanya, tapi apa yang bisa di lakukannya saat ini semua masih menemukan jalan buntu dan tak sesuai dengan hatinya, mungkin saat bertemu dengan Retno kembali semangatnya bangkit lagi walau masih dilema antara cinta dan dendamnya juga masihkan Retno mencintainya dan bagaimana sikap orangtuanya setelah berjalannya waktu lima tahun akankah ada restu?
Terasa kemarin mengurus ketiga putra putrinya dengan berjibaku antara rumah dan pasar membiayai sang anak cikal nya yang masuk di universitas terkenal di kota Bandung dengan fakultas kedokteran yang sangat diidamkan semua orangtua dan anaknya sendiri, kalau bukan karena prestasi di bidang olahraga dan dalam pelajarannya Prabu Seto Wardhana nggak mungkin masuk di universitas itu.
Dan akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil yang teramat manis. Prabu sang putra kesayangan lulus dengan memuaskan dan menjadi seorang dokter umum di kota Surabaya dan sekelumit kisah yang semua keluarga tahu, kesuksesannya tak di iringi dengan kesuksesan masalah pribadinya, dr Prabu seakan membuang diri di tahun tahun pertama membuka prakteknya dan di angkat menjadi pegawai negeri sipil dalam naungan depkes dan selalu berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain entah apa tujuannya, dan sampailah di Tasikmalaya dengan capaian karir yang tak terduga menjadi pimpinan di salah satu rumah sakit di kotamadya Tasikmalaya.
Menguliahkan anak keduanya Intan Juwita tak terlalu berat bagi orangtua dr Prabu karena dr Prabu sudah mengambil alih apa yang menjadi beban orangtuanya, dan kedua orangtuanya merasa bisa bernafas dengan lega malah bisa berinvestasi dengan memperbaiki rumahnya dan bisa menambah modal dalam berjualan dan biaya sekolah anak-anaknya tak menjadi beban berat lagi, apalagi sekarang dengan bertambahnya modal dan pengadaan yang komplit di kios toko bahan kue dan kelontongan di Pasar Majalaya semakin besar dan terkenal juga kedua orangtuanya,dan dengan mudah saja kedua orangtuanya mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya, apalagi dr Prabu selalu menyisihkan khusus untuk keluarganya di samping biaya kuliah adik adiknya.
Tapi semua itu tak lantas membahagiakan kedua orangtuanya, malam minggu begini anak bujang nya yang semakin dewasa dan mapan dalam segala hal hanya main game dengan adik perempuannya bungsunya Rahma Paramitha di ruang keluarga, satu pandangan yang kurang enak bagi kedua orangtua dr Prabu walau semua hanya ada di dalam hatinya.
"Kakakmu mana kok nggak gabung dengan Kak Prabu apa dia keluar? biasanya bilang kalau keluar"
"Paling dia lagi video call di kamarnya sama pacarnya Bu."
"Ada Kakaknya juga bukannya senang ngobrol di sini." Ibunya dan Bapaknya yang duduk di kursi menonton televisi melirik dr Prabu dan Rahma yang asyik dengan ponselnya.
__ADS_1
Dr Prabu hanya diam saja sambil matanya fokus pada ponselnya dan Rahma dengan enaknya ikut menonton ponsel kakaknya sambil menyender di sebelah tangan Kakak laki lakinya.
"Nih terusin sendiri jago kalau kamu menang, Kakak mau tidur."
"Iiiiiiiiiih... Kakak katanya mau ajak Rahma jalan-jalan kok malah mau tidur ini kan masih sore malam minggu lagi!"
"Sore apaan lihat tuh jam sudah mau jam sembilan Kakak besok harus sudah berangkat lagi."
"Kak Prabu Intan jadi ikut besok ya" Intan tiba-tiba keluar kamar dengan senyum-senyum seperti habis ada yang merayu dan menyanjungnya.
"Heemght."
"Iya Bu, seprainya baru kemarin di ganti." Intan duduk samping adiknya Rahma.
Tadinya Ibu Bapaknya mau ngobrol soal kesibukannya walaupun bukan soal pribadinya, tapi dr Prabu malah menghindar duluan, dan kedua orangtuanya maklum isi hati anaknya, datang dan nginep saja di rumahnya sudah begitu senang hatinya.
Bagaimana rumahnya suka pulang dan masih di urus Pak Min dan Bi Iyah? suka tidur di rumahnya tidak? juga kenapa sekarang berpenampilan seperti itu brewokan begitu? satu saja kekhawatiran Ibunya takut anaknya sudah tak berfikir untuk seorang perempuan, dan berumahtangga hanya fokus memikirkan pekerjaannya, juga seperti tak perduli dengan dirinya begitu kucel dan brewokan walau tidak panjang -panjang banget.
__ADS_1
Dr Prabu masuk kamarnya dan punggungnya dalam tatapan Ibu Bapaknya lalu masuk dan menutup pintu, membuka pakaiannya lalu memilih pakaiannya yang masih tersisa di lemarinya dan menarik satu kaos kerah oblong dan menciumnya agak bau apek sedikit lama mungkin lemarinya tak di buka buka, lalu mengenakannya juga kolor kain lotto yang biasa di gunakan nya saat bermain bulu tangkis lalu merebahkan badannya yang begitu penat.
Dulu saat Retno di bawa ke rumahnya untuk ke sekian kalinya pernah dr Prabu terjebak berdua di dalam kamar ini dan memepet Retno di balik pintu, dan dengan ketakutan Retno menatap pada dirinya dengan mungkin ucapannya " jangan apa apakan aku Mas." dan memang dr Prabu hanya meraih kedua tangan Retno lalu mencium kedua tangan nya itu, dan Retno tersenyum lalu terpaku mematung saat dr Prabu memeluknya dan itu pelukan pertama mereka.
Senyum Retno setelah dr Prabu melepaskan pelukannya tak bisa di lupakan, muka malu yang memerah merona menghiasi muka cantiknya, dada Retno yang dag dig dug membuat dr Prabu tersenyum juga, ketakutan masih begitu terlihat di wajahnya, dr Prabu berusaha menenangkannya dengan memegang dan sedikit membelai sebelah pipinya, dan tangan Retno menahan tangan dr Prabu di pipinya, sambil menatap dalam dalam dan keduanya saling berpandangan tanpa keluar kata apapun.
Retno apa yang terjadi dengan dirimu selama lima tahun ini kenapa kamu jadi ada di depanku dan menjadi seorang perawat? apa kamu mengikuti ku berharap bertemu denganku atau ada tujuan lain?
Retno aku tak bisa lepas dari bayang bayangmu cinta yang kita puja dan kita agungkan, juga dirimu yang begitu indah mengisi hatiku akankah semua itu bisa aku raih lagi?
Melihat adik-adiknya yang tumbuh dewasa Intan Juwita yang cantik dengan rambut sedada dan sudah bisa berdandan dan mengurus diri jelas terlihat kecantikannya, serasa dr Prabu melihat mungkin Ibunya masa mudanya seperti Intan, walau adik gadisnya itu tumbuh dan besar di pesantren sejak SMP dan SMA nya baru kuliah keluar dan kost di kota Bandung, masih terlihat penampilan dan kesopanannya semua adiknya di didik dengan baik kalau bisa di pesantren semua agar terjaga akhlaknya.
Tapi Rahma yang bungsu masih kolokan walau sudah SMA kelas satu dan karena di rumah sudah tak ada anak-anak yang lain orangtuanya menjadi tak tega melepas anak bungsunya yang masih kolokan ke pesantren, dan itu di tentang dr Prabu dengan alasan untuk kemandirian dan pergaulan pesantren lebih terjaga, tapi tetap saja keputusan Ibunya yang diambil dengan alasan Ibu sama Bapak kesepian tak ada satupun anak di rumahnya, Rahma tidak sekolah di pesantren jadi mengaji dan sekolah di pesantren yang bisa pulang dan ada di lingkungan tak jauh dari rumahnya.
Dulu masa masa kuliahnya Retno sempat mengenal Rahma saja yang mungkin masih kelas tiga SD, sama Intan Retno tak pernah bertemu, yakin itu dr Prabu ingat karena masa masa itu Intan lagi ada di pesantren.
Intan besok mau ikut ke tempatnya akan aku manfaatkan si Intan untuk menguji seorang Retno apa dia masih mencintaiku apa tidak, apa dia cemburu melihat aku menggandeng cewek lain apa tidak dan dr Prabu berniat akan membuka identitasnya mulai minggu minggu besok.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝