
"Mbak Retno di panggil suster kepala Miranti di ruangannya." suster Erna memberitahukan pada Retno yang masih ada di dalam kamar mess nya.
"Sus kan ini belum waktu absen bentar lagi aku kedepan." Retno keluar dari kamar mess nya.
"Ya nanti aja temui nya setelah suster Retno mengisi absensi tenang aja dulu kalau belum beres."
"Suster Erna boleh saya bicara sebentar?" Retno agak ragu.
"Oh, boleh ada apa?"
Retno menarik tangan suster Erna dan mereka bicara di pojokan mess di tempat duduk tembok.
"Sus, kan suster Erna selalu sama dr Imam SpOG kalau lagi mendampingi praktek nya,suka ngobrol nggak sedikit iseng sama dr Imam SpOG?"
"Maksud suster Retno ngobrol apa ya? yang menyangkut suster Retno gitu?"
"Ya, kurang lebih begitulah."
"Maaf ya saya hanya mendengar saja, itupun bukan semuanya dari obrolan saya dengan dr Imam SpOG tapi dari luar juga, apa gossip apa fakta saya nggak tahu beredar gossip kalau suster Retno itu tunangan pimpinan direktur Pak Prabu, apa benar? saya sih bersyukur saja semoga jadi dan dr Imam SpOG juga mendoakan sama."
"Terus gossip lainnya?"
"Apa ya? oh iya lagi ada issue dr Imam lagi pacaran sama adiknya dr Prabu, semua jadi mundur teratur yang tadinya berusaha caper di depan dr Imam haaa... kok malah kita jadi ber gossip sih ya?"
"Heeee..." Retno juga jadi tertawa.
"Sudah ya aku absen dulu sama menemui suster kepala Miranti nanti kita sambung lagi ngobrolnya." sambil bangkit Retno berpisah dengan suster Erna.
"Hai Suster Retno itu gossip apa fakta? yang tentang tunangan itu?"
"Gossip mungkin"
Retno berjalan ke lobby rumah sakit dan kelihatan kamar teman temannya sudah pada sepi, mereka bergerombol di depan lagi absen dulu sebelum kegiatan.
Setelah absen Retno dengan perasaan penuh tanda tanya dan ragu masuk dan mengetuk dulu pintu ruangan suster Miranti. Sedang teman-temannya berpencar sesuai tugas masing masing dan ada yang kembali ke ruangan suster jaga ada pula yabg langsung ke ikut suster dinas keliling kontrol ke kamar kamar perawatan pasien.
"Ya masuk, silahkan duduk suster Retno."
"Ya Bu, terimakasih"
Suster kepala Miranti menghentikan kegiatannya dan menghampiri Retno yang lagi duduk, kelihatan tak seperti biasanya seperti sudah sembuh dari sakit angot-angotan seperti beberapa minggu ke belakang, dan baru kali ini Retno berhadapan lagi dengan suasana berbeda.
"Suster Retno, entah harus dari mana saya memulai bicara, tapi saya ingin suster Retno mengerti apa maksud saya bicara sekarang ini."
__ADS_1
Retno sudah tahu. Waktu itu Mas Prabu pernah cerita kalau Mas Prabu mengerjai dirinya juga melibatkan suster kepala Miranti.
Datang lagi ada yang mengetuk pintu dan dr Imam SpOG melongokan kepalanya dan tersenyum dengan senyum terbaiknya.
"Eeeh...ada suster Retno boleh masuk?"
"Masuk aja dok." suster kepala Miranti yang menjawab Retno hanya senyum.
"Nah sekarang saya jadi ada teman untuk sama-sama bicara yang intinya saya minta maaf pada suster Retno, mungkin sama dengan dr Imam SpOG sekali lagi minta maaf atas kejadian beberapa minggu ke belakang, sungguh itu bukan keinginan saya saya hanya menjalankan perintah yang mau tidak mau dari awal saya di paksa untuk melakukan tindakan tidak menyenangkan dan tidak sewajarnya pada suster Retno."
Suster kepala Miranti berhenti sesaat lalu melanjutkan.
"Retno aku dalam posisi dilema, bahkan kala itu aku kurang kejam dalam menghukum dan memberi sangsi padamu, memberi tugas di luar batas, menghukum tanpa kesalahan, merekam semua saat aku memarahi kamu, menyuruh membersihkan ruangan yang seharusnya bukan tugasmu dan yang paling saya tentang tak memberi keringanan kehadiran kamu saat yang lain semua di beri sesuai jadwal kerjanya. Padahal saya tahu kamu begitu membutuhkannya dan lain lainnya sampai pada saat semua terbongkar saya merasa bersyukur semoga ini adalah titik pertemuan suster Retno dan dr Prabu yang lebih baik ke depannya."
Suster kepala Miranti menatap Retno yang berkaca-kaca, lalu memeluknya dengan erat dan Retno hanya tersedu mendengar pengakuan dan permintaan maaf suster kepala Miranti dan dr Imam yang belum bicara dari tadi hanya diam sambil duduk mungkin mencari kata yang tepat untuk di ucapkan nya.
"Sekali lagi maafkan Ibu, maafkan dr Imam dan maafkan juga dr Prabu, sampai saat sakit suster Retno Ibu tak berani menengok karena merasa berdosa besar padamu, tapi waktu sebelumnya suster Retno pingsan Ibu yang menolong mu dan habis itu dr Prabu Ibu marahin habis-habisan."
Suster kepala Miranti melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Retno yang masih menetes.
"Maafkan Ibu ya? semua telah berakhir, Ibu menyayangi kamu, sungguh semua tak Ibu inginkan tapi mungkin saat itu emosi dan ego dr Prabu masih belum padam."
Retno hanya mengangguk tak sanggup berkata-kata apakah hatinya bahagia? atau harus tetap bersedih, tapi yang pasti hatinya sedikit agak longgar tidak sesak seperti saat sebelumnya.
Retno menatap dr Imam.
"Iya Retno sedari awal saya ingin tahu status kamu untuk sahabat saya dr Prabu Seto Wardhana karena aku yakin masih begitu besarnya cintanya padamu, tapi apapun yang terjadi kemarin kemarin sebulan ke belakang saya mohon maaf juga yang sebesar-besarnya dari suster Retno dan saya berharap kita tetap jadi sahabat baik sampai kapanpun."
Dr Imam memegang kedua tangan Retno dan ingin meyakinkan kalau Retno telah memaafkannya.
"Kita jadi sahabat lagi kan?"
Retno mencoba tersenyum dan mengangguk.
"Hai hai hai... ngapain itu pegang pegangan segala tangan orang woi lepaskan" dr Imam kaget dan melepaskan tangan Retno sambil nyengir dan berdiri di hadapan Retno.
Tiba-tiba dr Prabu datang dengan Intan memasuki ruangan suster kepala Miranti tanpa di duga.
"Sorry boss, aku hanya habis minta maaf sama suster Retno, kalau boss mau minta maaf juga silahkan ngantri heee..."
Dr Imam keluar sambil menggandeng Intan dan intan merasa bersalah juga mengikuti Kakaknya masuk ke ruangan itu, terpaksa keluar lagi dan di gandeng dr Imam.
"Sudah-sudah ayo kita keluar kasihan suster Miranti biar beres-beres sudah waktunya pulang." dr Prabu dengan lembut menarik tangan Retno perlahan dan mengajaknya berdiri.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Pak Prabu saya santai kok paling nanti mau latihan malam-malam."
Dr Prabu keluar bersama Retno yang sebelumnya Retno mengangguk dulu sama suster kepala Miranti dan di balas suster kepala Miranti dengan anggukan juga senyuman.
"Istirahat dulu di ruangan ku ya, aku ambilkan minuman." dr Prabu dan Retno masuk ke ruangan yang awalnya dirinya merasa menjadi seorang pesakitan di di ruangan sini, Retno duduk dan dr Prabu keluar ke kantin mengambil minuman dan datang dengan minuman di botol.
Dr Prabu menyodorkan satu ke depan Retno dan Retno mengambilnya dan langsung meminumnya habis setengahnya.
"Dr Imam sama suster kepala Miranti ngomong apa?"
"Pada minta maaf kayak lagi lebaran."
"Haaa... orang baik pasti minta maaf dan memaafkan."
Retno hanya mendengus saja.
"Kan tidak se menyeramkan yang ada di fikiran mu Rerno, semua adalah setingan."
"Orang-orang di bawah kepemimpinan yang salah."
"Kan aku juga sudah minta maaf, dan aku mengakuinya, semua aku yang bertanggungjawab, semua itu atas perintahku"
"Pemimpin paling menyebalkan, arogan dan otoriter, labil dan tak punya pendirian."
"Kamu akan melihat bagaimana aslinya aku, saat kamu memaafkan aku Retno."
Retno diam.
"Besok latihan sama aku ya." dr Prabu mengalihkan pembicaraan.
"Malas."
"Katanya mau ikut turnamen?"
.
.
.
Terimakasih.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1