Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Menangis dan menangis


__ADS_3

Datang Ibu Sofyan Wijaya diantara mereka dengan muka merah dan mata bengkak habis menangis.


Pak Sofyan menggeser satu kursi di dekatkan kepadanya, dan mencoba menarik tangan Ibu Sofyan Wijaya secara perlahan untuk duduk di sampingnya.


"Desty silahkan ajak ngobrol Alya, support kasih semangat dia, biarkan semuanya menjadi urusan kami, akan ada jalan keluar dari permasalahan ini.''


"Baik Pak, Bu permisi dulu."


Desty beranjak sambil membungkuk dan masuk ke dalam rumah.


"Pak, gimana ini Ya Allah, apa yang harus kita lakukan Pak?"


"Ibu, tenang dulu hati dan perasaan Ibu, biar kita mencari solusinya."


"Pokoknya Bapak harus datangi dokter itu, agar dia bisa bertanggung jawab atas semua yang telah dia perbuat terhadap anak kita. Tidak ada jalan lain selain tanggung jawab dia.


Ibu Sofyan Wijaya bicara masih dengan tangisannya, juga dengan emosi yang meledak-ledak.


"Dan kalau tidak, terpaksa kita menempuh jalur hukum Pak, jadi kapan Bapak berencana datang atau memanggil dia?"


"Ssssssssst...Ibu sabar, tenang dan istighfar, kita lagi dapat cobaan kita lagi di uji dan dicoba."


"Pokoknya Ibu ingin secepatnya mendapat kepastian Pak, Ibu tidak mau melihat Alya lebih terpuruk lagi dan tak mendapatkan keadilan, Ibu malu Pak harus di mana kita menaruh muka ini, di mata masyarakat di mata warga di mata tetangga dan saudara-saudara kita juga keluarga besar kita."


"Ibu, Bapak telah sedikit banyak mengorek keterangan dari Desty, dan Bapak telah menarik benang merah dari semua permasalahan ini, semua permasalahan ini lemah di anak kita. Kita dalam posisi salah."


"Apa? kita yang salah? apa nggak salah semua kata-kata bapak itu? penilaian macam apa ini? Bapak jangan sembarangan jangan mudah menilai dan percaya terhadap orang, kita belum bertanya langsung dan mendapat jawaban dari pengakuan Alya."

__ADS_1


"Tidak Bu, Anak kita yang memanfaatkan dr Prabu karena rasa cintanya. Bukan dr Prabu yang memperdaya Alya, tapi Alya yang berulah memancing amarah dr Prabu dengan menaburkan obat tidur di kopi yang Alya suguhkan."


"Pak? siapa yang bilang semua itu tega banget Pak anak kita dalam posisi seperti itu masih tetap disalahkan, seharusnya pihak laki-laki yang lebih bertanggung jawab dalam hal ini tapi semua itu kenapa seakan masalahnya diputar balikkan siapa yang bilang begitu sama Bapak?"


"Ibu sabar, memang begitu kenyataannya suka tidak suka kita dalam posisi lemah dan salah. Alya yang memancing amarah dr Prabu, Alya ingin foto-foto dalam keadaan tidak senonoh hanya untuk diperlihatkan kepada kekasih dr Prabu, agar dr Prabu putus dengan pacarnya dan bisa mendekat kepada Alya. Tetapi salah perhitungan Alya malah memancing emosi dr Prabu, dr Prabu terpancing emosinya setelah sadar dari tidurnya dan terjadilah."


"Ya, ampuuuuuun Pak, kok jadi begini masalahnya, perasaan Ibu nggak sanggup Pak."


Ibu Sofyan Wijaya menangis lagi dan lagi, semua harapan akan tanggungjawab yang mulai di bangunnya runtuh sudah dan hilang hanya meninggalkan rasa sakit di dalam hatinya.


Setitik harapan pengakuan dari dan tanggungjawab yang diharapkannya pupus entah kemana, hanya tinggal amarah kesedihan rasa kecewa dan kasihan pada nasib anaknya.


Entah seperti apa bergolak otaknya berpikir keras harus seperti apa, harus bagaimana mencari penyelesaian dari semua ini, sedangkan kehamilan akan semakin kelihatan dan itu akan menjadi aib selama Alya tidak menikah dengan siapapun.


"Ibu harus lebih kuat, dan bisa mendampingi Alya membimbing Alya memberi semangat Alya. Siapa lagi kalau bukan kita orang tuanya, jangan sampai terdengar niat jelek Alya seperti yang Desty lihat di balkon ruko cafenya. Pokoknya jangan sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dampingi setiap saat setiap waktu sambil kita mencari solusi dari permasalahan ini."


"Paaaaak."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan Pak?"


"Bapak sedang berpikir mencari jalan keluar terbaik untuk bicara dari hati ke hati dengan dr Prabu, bagaimanapun juga ini harus ada jalan keluarnya apapun yang terjadi terlepas dari salah dan benar ada darah daging dr Prabu di dalam perut Alya."


Ibu Sofyan Wijaya menangis tanpa suara, hanya sesenggukan dan airmata yang tak henti membasahi kedua pipinya,dan matanya semakin sembab.


"Langkah pertama Bapak mau mendatangi dr Prabu di manapun dia berada, baik di kantornya ataupun di rumahnya. Bapak akan mencari tahu begitulah rencana Bapak. Yang kedua akan Bapak tanya dan akan Bapak minta pertanggungjawabannya walaupun sempat terucap dari dr Prabu tidak akan ada tanggung jawab untuk sebuah kecurangan Alya, seperti itulah... karena Alya layak mendapatkan hukuman seperti itu menurut dr Prabu."


"Yang menjadi hambatannya adalah dr Prabu sudah memiliki calon istri, mereka sudah merencanakan pernikahan."

__ADS_1


"Tapi kan belum menikah menjadi istri, baru kekasih. Masih memungkinkan, Pak dia belum menikah berarti seandainya kita datang mungkin lebih tepat waktunya untuk meminta pertanggung jawabannya."


"Apa lebih baik mendatangi kedua orang tuanya dulu? siapa tahu orang tuanya lebih memihak kepada kita, dan memberi dukungan kepada kita dibanding kepada kekasihnya."


"Ah...itu terserah Bapak gimana baiknya saja, Ibu tidak bisa berpikir lagi Pak, apalagi untuk hal-hal yang besar seperti itu memutuskan dan memikirkan sesuatu pikiran Ibu pusing banget."


"Iya, pokoknya Ibu harus tenang sabar dan ikhlas, support dampingi Alya, bila perlu Ibu ke cafe tiap hari."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Pesona Aryanti"...


...By Enis Sudrajat, baca, like,...


...vote dan beri hadiah...

__ADS_1


...juga ya🙏...



__ADS_2