
"Pokonya Aku mau pergi dari sini, Aku tidak nyaman, tidak tenang di sini, dan merasa terancam Aku ingin fokus pada kelahiranku dengan tidak diganggu oleh hal-hal yang tidak berarti sama sekali," ucap Retno dengan air mata mengembang.
Dr Prabu diam menatap wajah istrinya dari samping yang memalingkan mukanya menyembunyikan kalau Retno lagi menangis.
"Kalau tidak berarti kita abaikan saja kenapa malah Kamu mau pergi? kita hadapi bersama-sama semuanya, apa maunya orang itu?" jawab dr Prabu begitu dekat di muka Retno. Tangannya mengusap pundak dan kepala istrinya yang berusaha mengatakan kejujuran hatinya.
"Aku tidak mau melayani orang gila, Aku masih waras masih punya harapan dan masa depan Aku akan memiliki Anak dan Aku tidak mau terganggu dengan hal-hal yang seperti itu, Aku tidak ingin terlibat dengan hal apapun dan kalau bisa Mas selesaikan semuanya datangi dia tunjuk mukanya dan jangan ganggu lagi rumahtangga kita!" ucap Retno dengan emosi sekan begitu sakit hati tanpa alasan dan sebab di maki kayak orang punya salah besar di hadapan orang banyak.
Dr Prabu menghela nafasnya, berusaha memeluk dan menenangkan istrinya. Mencari kata yang tepat bagaimana supaya Retno bisa mengerti kalau semua perlu pemikiran dan waktu untuk melewatinya.
"Pokoknya Aku tidak terima sedikitpun diperlakukan seperti itu! hak apa orang itu padaku? saudara bukan, orangtua bukan dengan lancangnya menghardik Aku seperti itu, dalam hidupku akyu belum pernah dibentak sama orang tuaku sendiri seperti itu dan Aku dihargai setinggi-tingginya di dalam keluargaku orang tuaku sendiri begitu menghargai ku tetapi sama orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dan Aku tak punya salah sama sekali begitu tak beretika orang itu bicara di hadapanku!" panjang Retno bicara tentang uneg-unegnya. Semua isi hati, kekesalan dan ketidak nyamannya di keluarkan dan berharap Mas Prabu bisa mengerti.
"Ajeng, sabar jangan ikut terbawa emosi, soal Dia itu urusannya sendiri, biarkanlah." sela dr Prabu berharap bisa menenangkan Retno yang begitu marah kelihatannya, merasa di hina dan di lecehkan dengan seenaknya.
"Akan Aku biarkan kalau Dia tidak menggangguku, tidak mengancam Aku tidak menekanku, tapi kalau seperti ini Aku juga akan memperjuangkan apa yang menjadi milikku!" ucap Retno sambil duduk di kursi teras menghindari pegangan suaminya, merasa itu tak menenangkannya
"Iya begitu, jangan malah mau pergi Aku tidak akan rela Kamu jauh dariku Sayang," dr Prabu memeluk Retno dan membenamkan kepalanya di pangkuan Retno yang sedang duduk di kursi teras itu.
Tak terbayangkan jauh dari istri tercintanya, apalagi Retno mengandung buah cinta mereka mungkin setengah gila rasanya dr Prabu kalau Retno kembali pergi dari sisinya.
__ADS_1
Cukup perpisahan mereka saat saling menunggu lima tahun lamanya, dan perpisahan saat mereka setelah menikah sampai akhirnya Retno pulang dengan segala kesadarannya dengan membawa perut yang isi.
Semua itu tak ingin terjadi lagi, apapun akan dr Prabu lakukan selagi bisa, demi mempertahankan istri dan buah hati mereka.
"Tapi Mas harus datangi Dia suruh dia minta maaf padaku karana dia telah memaki Aku di depan banyak orang, Aku merasa tak punya masalah sama orang itu dan jangan sekali-kali lagi mengintimidasi menekan dan mengancam Aku, Aku tidak suka dengan caranya yang seperti itu, Aku nggak mau ada urusan sedikitpun dengan Dia, mungkin itu sisa urusan Mas jadi selesaikan semuanya!" perintah Retno begitu terlihat memojokkan dr Prabu suaminya.
Dr Prabu memahami itu masalahnya walau sebenarnya bukan masalah dirinya juga tapi kenapa harus membawa-bawa istrinya segala? apa maunya Alya? kenapa begitu benar apa yang dikatakan Retno istrinya jadi duri dalam rumahtangganya dan kehidupannya?
Harus ada penyelesaian karena semua tak memberi ketenangan pada istrinya kini, juga pada kehidupannya.
Dr Prabu menarik nafas berat dengan alasan apa dirinya datang pada Alya lalu menyuruh Alya meminta maaf pada istrinya apa seperti itu etikanya? rasanya janggal dan tidak semestinya.
Retno meminta seperti itu, intinya menghentikan semuanya, mungkin harus minta bantuan dr Imam untuk menyampaikan kepada Alya agar jangan lagi datang pada rumahtangganya, karena mereka sering bertemu tapi dr Imam juga sekarang sedang kisruh dengan masalah pribadinya.
"Sayang, tenanglah Kamu lagi hamil jangan ikuti emosi, kita turun yuk minum dulu, nggak apa nggak ke pasar juga tinggal list semua yang Kamu perlukan kasih Bi Iyah biar dia yang belanja, apa susahnya?"
"Mas Bukan masalah belanja atau yang lainnya, tapi meyakinkan hatiku bisa tenang tanpa di ganggu orang yang tidak bertanggung jawab itu yang terpenting masalahnya, tidak sesederhana itu Mas. Lagian apa maunya orang itu datang dengan ancaman, caci maki, hinaan dan hal buruk lainnya padaku?" Retno menatap tajam suaminya berharap ada satu kesanggupan menyelesaikan semuanya.
"Iya Sayang, kita pikirkan bersama-sama solusinya seperti apa, kalau bersama-sama itu akan lebih baik asal Kamu jangan dulu mengambil keputusan langsung pengen begini pengen begitu Aku jadi bingung dan takut juga, Aku tidak mau jauh dari Kamu Sayang apalagi sebentar lagi kamu masuk 9 bulan kehamilan Aku ingin bersama-sama menikmati momen kebersamaan kita, harusnya mulai minggu depan sudah masuk pada periksa setiap minggu untuk kelancaran dan kenyamanan kelahiran Kamu nanti," ucap dr Prabu dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Oke, Aku pindah dokter dan rumah sakit, bila perlu Aku tidak melahirkan di rumahsakit itu, Aku muak kalau harus bertemu dengan orang itu!"
"Ajeng, tak begitu juga Sayang, apa kata semua kolega Aku nanti? suster kepala Miranti begitu ingin menjadi pendamping kamu nanti katanya, juga dr Imam SpOG bukankah kalian ada janji manis kenangan kita dulu?" jawab dr Prabu begitu memberi pengertian yang sangat masuk akal.
"Kenapa Mas hanya memikirkan pandangan dan perasaan orang lain? kenapa Mas tak berpikir tentang perasaanku? seperti apa rasanya dicaci maki orang yang kenal saja tidak, dikata-katain hanya karena aku menjadi istri Mas Prabu? Aku tak mengerti Mas, apa salahku? kenapa Aku selalu di rongrong oleh orang yang Aku tak mengerti kenapa begitu memaksakan perasaan dan keinginannya?" ucap Retno kelihatan begitu sedih.
"Baiklah Ajeng Sayang, Aku hanya mengikuti keinginanmu, tapi jangan lupa itu ujian kita karena orang lain melihat hidup Kamu terlalu enak, juga hidupku. Lalu mereka membayangkan menjadi diri Kamu dan Aku menginginkan seperti itu padahal yang sebenarnya setiap orang masing-masing punya masalahnya sendiri-sendiri."
.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1