Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Merasa serba malas


__ADS_3

Seperti biasa jam tiga teng dini hari ponsel alarm Retno bunyi, dan dengan rasa enggan Retno menggeliat dan bangun, badannya terasa pegal-pegal dan kepalanya terasa pening, tapi tak membuatnya semua yang di rasanya menjadi manja, lagian manja pada siapa? semua ini adalah keinginannya dan pilihannya dan di lihatnya kedua sahabatnya masih pulas pulas nya di balut selimut tak sedikitpun terbangun kan dengan alarm Retno.


Retno tersenyum bahagia saat dirinya bisa berbagi bahagia dengan sahabat-sahabat nya seperti malam tadi saat mereka di kasih amplop girang bukan main seperti anak TK di kasih uang jajan buat beli permen.


Bagi Retno soal finansial tak menjadi persoalan, orangtuannya selalu mengirimnya setiap bulannya dan dari gaji pekerjaan tetap nya juga jauh sudah mencukupi dirinya walau sempat orangtuanya tak memberi biaya di awal-awal Retno menyatakan pindah dari ekonomi ke kesehatan karena tak setuju, tapi lambat laun mereka bisa menerima dan memahami apalagi Retno sambil kerja di kesehatan juga, jalan panjang dari anak ekonomi menjadi di kesehatan setelah dua tahun di ekonomi dan memulai lagi di kesehatan dari awal mengambil D 3, tiga tahun dulu takut nggak sanggup secara finansial dan pekerjaan karena saat itu orangtuanya tak setuju dan tak mengirim uang, dan sekarang Alhamdulillah setelah selesai tiga tahun Retno ingin menyelesaikan S1 nya dan kembali menjadi mahasiswa.


Retno kembali berdandan setelah keluar kamar mandi, dan sebelumnya minum air hangat dulu dan madu untuk stamina dan untuk sarapan karena masih terlalu pagi Retno suka nanti saja di pekerjaannya dan sahabat satu sejawatnya suster Aisyah begitu pengertiannya suka sudah menyediakan sarapan untuk Retno tahu semua persoalan sahabatnya Retno menjadi ikut perihatin dan membantu sebisanya.


Tanpa pamit sama sahabat nya karena masih pada terlelap Retno pelan pelan membuka pintu dan keluar menutup pintu kembali dengan berdo'a dalam hatinya semoga di lindungi dan selamat lancar perjalanannya.


Dan percis seperti kemarin Retno minta tolong sama security stop kan bus untuk dirinya dan security itu sudah tersenyum saja pada Retno, karena kali ini security tidak lagi tidur di pos nya tapi sudah jalan jalan di halaman pos jaganya.


Dengan memakai jaket hitam tak lepas topi dan kacamata pria berjambang ini memperhatikan semua yang di lakukan Retno dari mulai keluar kamar karyawan dan tersenyum menyapa security dan menyetop bus jurusan Bandung entah itu yang datang dari terminal Tasikmalaya, atau yang dari Pangandaran, Ciamis dan lain lain asal bus yang menuju Bandung.


Setelah Retno naik bus dan melaju membawanya dr Prabu menghela nafas panjang, begitu tak ingin hatinya kehilangan momen tentang Retno, melihatnya adalah kebahagiaan dan sekaligus membangkitkan rasa dendamnya juga.


Kenangan membawanya terbang mengawang-ngawang tak menentu dari dua orang yang di pinta bantuannya semua menolak, sahabatnya dr Imam SpOG juga suster kepala Miranti juga terpaksa memainkan peran atas keinginannya,apa aku terlalu jahat? atau tak bisa memaafkan keluarga Retno dan yang paling di akui dr Prabu dirinya belum bisa berdamai dengan masa lalunya apalagi sekarang Retno ada di hadapannya dalam kekuasaannya.

__ADS_1


Saat indah naik bus membayang kembali di ingatan dr Prabu, ketika dulu Prabu dan Retno masih memadu kasih.... saat jalan jalan ke kawah Tangkuban Parahu atau saat Retno ikut Prabu pulang ke rumahnya yang tak begitu jauh dari kota Bandung, Prabu dengan bangganya menggandeng tangan Retno menggenggamnya sepanjang perjalanan, dan Retno dengan manja memeluk sebelah lengan Prabu dan hati mereka menemukan kedamaian yang baru mereka rasakan, dunia hanya milik mereka berdua tak perduli pengisi lainnya.


Rasa sakit di dada dr Prabu kian akut saat menemukan dirinya masih begitu cinta dan sayangnya pada sosok Retno, tapi kenyataan tak seindah ekspektasinya, membuat malas melakukan apapun dan seperti tak bergairah dalam segala hal selain begitu semangatnya saat akan bertemu Retno dan ingat janji hatinya tak akan memulai hubungan dengan perempuan manapun sebelum tahu dan mendapat khabar Retno sudah menikah.


Sekarang Retno ada di hadapannya di rumah sakit ini yang dr Prabu sendiri pimpinannya apa Retno sudah menikah? semua pertanyaan itu belumlah mendapat jawaban juga kenapa jadi kuliah di kesehatan dan banyak lagi pertanyaan di dadanya.


Dr Prabu masuk kantin rumah sakit yang sibuk hampir 24 jam dan hanya jeda beberapa jam saja semua sudah beraktifitas. Dan dirinya memesan minuman yang di inginkan nya tak ada yang mengenalinya mungkin juga karena jarangnya dr Prabu masuk ke kantin ini bahkan bisa di hitung dengan jari.


Semua yang ada di hadapannya seakan menceritakan semua tentang kebersamaannya selama dua tahun bersama Retno, masih ingat Retno kesukaannya minum susu coklat dan itu mungkin kebiasaan yang di bawa dari keluarganya, dan dr Prabu memandang susu coklat di hadapannya dengan rasa sesak juga tempe di goreng terigu dan daun bawang tidak terlalu kering di sebut tempe mendoan di piring tipis di dekat gelas susu coklat, asalnya dr Prabu tak suka makanan dan minuman itu tapi demi menghargai orang yang menyuguhkannya akhirnya di minum dan di makan juga dan seterusnya menjadi kebiasaan dan ketagihan.


"Cobain deh Mas enak kok itu aku yang buat resep mendoan istana turun temurun." Retno dengan tersenyum manja dan penuh harap memandang wajah ganteng di hadapannya untuk sekedar mencicipi makanan yang di suguhkan nya.


"Aku nggak sukanya banyak minyaknya Jeng."


"Itu kan sudah di tiriskan lama dan dialasi tissue makanan Mas, terus kan minumnya anget luntur jadinya di tenggorokan."


Dan memang enak juga rasa asin gurih dari mendoan tempe di padu padankan dengan susu coklat hangat heemhgt...begitu nikmat dan nagih lagi.

__ADS_1


Dr Prabu membayar semua makanan dan minuman yang di pesannya tanpa menyentuhnya sama sekali dan hanya memandangnya saja dengan mengingat semua kenangannya.


Petugas kantin heran melihat orang ini, pesan tapi tak di colek sedikitpun hanya di pandangi saja.


"Bu. saya sudah jadi berapa?"


"Semuanya lima belas ribu." sambil memandang si Ibu kantin merasa keheranan.


Dengan langkah gontai dr Prabu berjalan kembali ke ruangannya dan OB merasa heran pagi buta pimpinannya sudah ada di kantornya apa ini ngelindur? yang pasti dr Prabu tidur di kantor tepatnya ketiduran dan bablas sampai malam, karena malam kemarin kurang tidur.


Mau mandi nggak ada peralatan mandinya, mau sarapan belum mandi rasanya nggak enak dan dr Prabu hanya duduk di sofa sambil melihat lihat ponselnya dan satu pesan baru dari suster kepala Miranti.


"Maaf Pak saya belum mendapat no telephon juga data pribadi suster Retno, tapi perkiraan dan pandangan saya suster Retno belum menikah."


Dr Prabu tersenyum sendiri membaca laporan dari suster kepala Miranti, tugas yang aneh memang yang di tugaskan dirinya pada suster kepala Miranti saat ini, biarlah yang penting sekarang hatinya mulai puas dengan segala yang di bebankan suster Miranti pada Retno, apalagi mengingat tiga bulan kedepan kurang beberapa hari lah Retno akan dengan tanggung jawabnya selalu datang ke ruangannya.


Hari menjelang agak siang dan sebagian karyawan mulai ada yang datang yang mengharuskan tugasnya agak pagi seperti OB dan cleaning servis juga petugas dapur penyedia makanan semua pasien dan karyawan, juga pergantian sif malam ke siang yang pulang dan yang datang , juga orang orang yang menunggui pasien silih berganti datang dan pergi.

__ADS_1


Sedang dr Prabu masih saja duduk di sofa kantornya dengan ruangan sudah di bersihkan tapi sendirinya dr Prabu belum mencuci muka juga.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2