
"Saya hanya ingin tahu cerita Retno suster Harni" dr Prabu menatap suster kepala Harni yang kata dr Burhan sangat dekat dengan Retno kesehariannya.
"Untuk apa? untuk lebih menyakitinya? kalau saya jadi suster Retno saya tidak akan menunggu yang namanya dr Prabu, pasti saya sudah menata hidup saya sendiri, untuk apa menunggu orang yang tanpa kabar tanpa pesan juga tak ada rasa tanggungjawabnya?" suster kepala Harni bicara tanpa tedeng aling-aling dan sangat berapi-api seakan dia yang mengalami permasalahan ini.
Deg! hati dr Prabu seperti ada yang menonjok.
"Dr Prabu tahu tidak? dalam curhat dan ceritanya suster Retno dengan setianya mencari khabar, menunggu dr Prabu datang walau hanya akan menerima kata putus! dan menerima khabar kalau dr Prabu sudah menikah! baru suster Retno akan membuka hati untuk laki-laki lain dan mulai menata dirinya dan masa depannya. Selalu suster Retno mengatakan saya punya "janji hati" suster Harni saya tidak bisa melakukan apa-apa kalau belum tahu khabar Mas Prabu, saya hanya ingin tahu kalau Mas Prabu memang sudah bahagia saya terima dengan ikhlas dan mungkin saya juga akan memulai dengan hidup saya sendiri, tapi kalau kenyataannya Mas Prabu belum menikah dan saya bisa bertemu saya hanya akan bertanya apakah cinta itu masih ada hanya itu yang saya inginkan dan saya tanyakan."
Kedua kalinya dada dr Prabu seperti ada yang menonjok lebih keras lagi dan dr Prabu begitu sakit hatinya mendengar cerita dari suster kepala Harni, dr Prabu mengusap air matanya sendiri dan semua pada diam.
"Lima tahun menunggu dalam kesetiaan yang tidak pasti, terbuat dari apa hati suster Retno? saya tidak tahu begitu tegarnya dia menjalani kesetiaannya dan menepati janji hatinya, saya menjadi saksi perjalanan nya, adakah seseorang yang tega berbuat curang untuk seorang suster Retno yang begitu menghabiskan hari-harinya untuk sebuah janji hatinya? dan satu khabar paling baru dari suster Retno dia akan pergi ke Majalaya untuk silaturrahim dengan keluarga dan orangtua dr Prabu, sambil mencari tahu khabar dr Prabu itu sendiri apa sudah menikah dan bahagia atau belum seperti suster Retno sendiri saat ini, tapi karena ketiadaan waktu semua itu akan suster Retno lakukan setelah selesai KKN nanti, mungkin semua sabarnya menemui batas, penantian panjangnya semua harus segera diakhiri."
"Maafkan saya suster Harni."
"Minta maaflah pada suster Retno bukan pada saya, cinta macam apa yang kalian punya itu dan kalian agung-agungkan kalau akhirnya hanya saling menyakiti? dan sangat menyakitkan juga menyiksa perasaan masing masing? sungguh saya tak mengerti jalan fikiran suster Retno kok bisa jadi orang setia bertahun-tahun hanya mengandalkan do'a dan keyakinan hati nya? Masya Allah dr Prabu setega itu pada suster Retno?"
"Apa suster Harni tahu seberapa sakitnya hatinya saya juga, saat dulu saya dan keluarga di hina dan tak di anggap oleh keluarga Raden Haryo Atmojo? saya dan keluarga datang dengan niat baik ingin melamar Retno tapi apa penerimaan keluarga Raden Haryo Atmojo? sampai saat ini juga saya ingat semuanya, masih sakit hati saya dan sepertinya tak akan mudah untuk melupakan."
"Dr Prabu! satu kesalahan dr Prabu menganggap penolakan itu keputusan semua keluarga suster Retno, suster Retno sendiri tidak sala! camkan itu, suster Retno hanya korban keadaan yang mengharuskan seperti itu, dia tidak meminta dan menginginkan atau menolak di lahirkan di keluarga itu, itu takdirnya di tambah lagi dengan beban tanpa keputusan masa depannya, dr Prabu harus ingat suster Retno sendiri sampai saat ini masih mencintai dan menunggu sampean dr Prabu!" suster kepala Harni menunjuk tepat di dada dr Prabu.
__ADS_1
"Tak ada laki laki lain di hati suster Retno, masih dengan janji hatinya dan kesetiaannya, bukan tiada yang suka dan banyak yang mengharap dan mengejarnya tapi semua mundur perlahan saat tahu suster Retno menunggu seseorang."
Dr Prabu tertegun dan terhenyak, dan tak bisa berkata apa apa lagi, yakin hatinya Retno masih mencintainya dengan kesetiaannya seperti dirinya juga yang begitu merindukannya setiap waktu.
"Suster Harni tolong jangan bicara dulu sama Retno dan jangan membuka identitas saya dulu pada Retno biarkan saya tenang dulu dan berfikir dulu, saya akan mencari waktu yang tepat untuk membuka diri saya di hadapan Retno."
"Baik saya rahasiakan semuanya walau saya setiap hari satu ruangan karena dia asisten saya, begitu banyak suka duka dan cerita kami bagi bersama, kalau bisa jangan terlalu lama biarkan suster Retno bahagia dengan pilihannya, terlalu lama dia dalam penantiannya."
"Baik suster Harni, terima kasih informasinya yang begitu berharga buat saya."
"Satu lagi maaf dr Prabu, suster Retno mengatakan pimpinan dan suster kepala Miranti di tempat KKN nya adalah pimpinan paling menyebalkan katanya."
Dr Prabu dan dr Burhan tertawa bareng nikmat banget kelihatannya dan sekaligus mencairkan suasana tegang yang dari tadi dr Burhan hanya jadi pendengar saja.
Suster kepala Harni pamitan dan sekali lagi bersalaman dengan dr Prabu dan berkata.
"Selamat berjuang kembali dr Prabu, belum tentu dr Prabu yang suster Retno tunggu karena dr Prabu adalah pimpinan yang paling menyebalkan!"
"Baik suster kepala Harni saya akan merubah menyebalkan itu menjadi yang paling di rindukan heeeee..."
__ADS_1
Suster kepala Harni keluar dan tinggal dr Prabu dan dr Burhan di ruangan itu, dr Prabu meminum teh botol yang di simpan Retno tadi, seperti mencari jejak jari lembut Retno di botol itu dr Prabu begitu menikmati minuman itu dan di minumnya sampai habis.
"Semangat anak muda, semua tak ada yang begitu sulit kalau memakai akal sehat, dr Prabu bisa minum di botol yang di suguhkan tangan orang yang sangat di rindukannya pasti dan sekaligus mendengar kenyataan seorang suster Retno, makanya seringlah bersilaturrahim sama orangtua pasti akan mendapat pencerahan heee..."
"Iya Pak Burhan, saya memang terlalu mengikuti kesibukan sama orangtua juga adik-adik saya sudah hampir berapa bulan nggak sepat di tengok."
"Sekarang rencana mau ke mana?"
"Saya masih di sini sampai malam, kalau sudah melihat Retno sekali lagi mungkin saya pulang dan ke rumah orangtua saya dulu."
"Jadi kapan rencananya membuka diri di hadapan suster Retno?"
"Nanti ada waktunya sekarang sekarang masih ada yang harus di selesaikan dulu dan di pikirkan dulu."
"Ikut saja ke rumah saya dok, kalau malam minggu si bungsu saya suka minta jalan-jalan."
"Terimakasih Pak Burhan saya di sini saja, nggak apa-apa sebentar lagi juga maghrib saya sholat dulu di mushola dan mau ke cafe lagi."
Dr Prabu dan dr Burhan berpisah dan bersalaman karena dr Burhan harus pulang.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝