Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Curhat pada adik


__ADS_3

"Gimana kamu mau ya ajak Retno ke rumah besok kalau malam minggu?" dr Prabu bicara sama Intan saat sudah duduk di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Ya, aku coba lah Kak. Kalau dia nya menolak gimana ?"


"Bagaimana caranya harus bisa dan aku tunggu, kamu kan sudah deket sama Retno masa nggak bisa meyakinkannya?"


"Idiiiih.. Kakak aja yang pengen dan maksa-maksa aku, pake alasan deket segala baru kemarin juga aku kenal, tapi aku suka cantik baik nggak bawel seperti aku heee..."


"Aku nggak maksa hanya menguji kamu aja haaa..." dr Prabu tertawa melirik Intan di sampingnya.


"Menguji apanya Kak?"


"Kamu jujur aja pada Kakakmu ini, kalau kamu suka sama dr Imam dan kamu pasti bisa mengajak Retno ke rumah malam minggu besok biar Kakakmu merestui hubungan kalian."


"Kakak ngarang sendiri iiiiiiiiiih... dan memanfaatkan orang itu namanya, cewek itu nggak mau diajak ke rumah jadi jangan di ajak ke rumah lah ke tempat makan kek, ajak nonton kek ini malah di ajak ke rumah mau ngapain hayo?"


"Eeeeh...kamu tuh otaknya mesum juga ya? aku getok kamu tahu rasa, Intan aku ingin ngobrol serius, kamu kan tahu aku sibuk juga sama Retno tak punya banyak waktu, aku ingin dengan sadar dan ketulusan hati meminta maaf, dan serius memulai hubungan kami ke depannya dan juga akan melibatkan orangtuanya juga nantinya."


"Heee... maaf Kak, emang dari kemarin Kakak ngapain aja ke Bandung ngantar pulang bareng lagi ke sini, ngobrol di sini waktu malam-malam aku intip sedikit. Mbak Retno lagi nangis dan peluk-pelukan sama Kakak memang itu nggak ada ngobrolnya?"


"Iya itu kemarin-kemarin Retno masih emosi dan mungkin masih membenci aku tapi lambat laun semua akan berubah, jadi tolong yakinkan hati dia kalau aku sayang banget dan nggak mau kehilangan dia."


Intan merasa prihatin mendengar penuturan kakaknya sangat ingin rasanya Intan memberi dukungan dan membantu sebisanya mengikuti apa yang Kakaknya inginkan. Meyakinkan hati Retno untuk bisa bersama-sama lagi dengan Kak Prabu.


Semua permasalahan yang menimpa Kakaknya kelihatan banget sama Intan membuat semuanya menjadi tidak fokus. Kak Prabu sampai tidur di kantor karena mungkin menyelesaikan pekerjaannya nya yang banyak di tunda juga karena inginnya dirinya mengantar atau menjemput Retno yang bolak balik kerja dan ke lokasi KKN nya.


"Kak, yang sakit tuh gimana yang begitu gencar mengejar dan ingin mengambil hati kakak yang anak pejabat itu?"


"Aku nggak tahu. Menghadapinya harus seperti apa."


"Kakaknya seperti memberi harapan tadinya kali?"


"Aku cuma kagum saja dengan pintarnya usaha si Alya. Tapi kalau yang lain-lainya biasa saja standar dan nggak ada ekslusif nya heee..."


"Jangan bohong deh ah... kekaguman sama ada kedip mata kali, masa Alya segitu ngejarnya sampai sakit-sakit segala kalau tak melihat ada sinyal cinta di mata Kakak?"

__ADS_1


"Sempat kepikiran sedikit tapi entah kenapa nggak semakin bertambah subur di hatiku. Aku terlalu berhati-hati dalam menentukan pilihan memang ada baik juga buruknya."


"Ceilaaaaa...aku tahu keburu Mbak Retno hadir di hadapan Kak Prabu kan?" Intan mengerti duduk masalahnya.


"Mu-mungkin juga ya, tapi tak mudah mengalihkan perasaan juga tak segampang orang menilai dan mengatakan apapun, tapi menjalaninya sungguh luar biasa perjuangan, jujur aku belum bisa memulai dengan orang lain dan Retno lah yang telah mengisi dan mewarnai hari-hariku dari dulu."


"Jangan gitu Kak dosa lho."


"Dimana dosanya hayo?"


"Kakak memberi harapan pada Alya itu yang dosa."


"Enggak, serius aku ini belum ada lampu hijau buat Alya apalagi terucap kata, nggak ada pilihan lain di hatiku selain Retno. Aku hanya terbersit saja memang saat hatiku di ujung akhir-akhir penantian, saat aku sadar mungkin hubunganku dengan Retno harus sampai hari itu dan harus ada ketetapan hati dan Retno juga sama punya fikiran seperti aku, juga punya rencana masa depannya sendiri. Bahkan suster kepala Harni cerita habis KKN ini Retno akan datang ke rumah orangtua kita hanya untuk meyakinkan dan tahu kabar aku saja dan mengakhiri penantiannya."


"Kalau di fikir seperti bukan kebetulan Kak semua itu, tapi takdir lah yang mengatakan Kakak sama Mbak Retno harus bertemu lagi di waktu yang sangat tepat."


"Persis. Itu yang ada di fikiran aku juga, aduh aku jadi sadar curhat sama Adikku sorry ya Tan,aku fikir kamu masih kecil padahal sudah kuliah setengahnya dan sudah mau punya pacar heee..."


Intan hanya nyengir saja.


"Eh Neng Intan." suster kepala Miranti menyapa Intan.


"Iya Bu." Intan senyum sambil mengangguk.


"Betah nggak di sini?"


"Heeee...betah Bu."


Suster kepala Miranti mencegat dr Prabu yang agak jauh di belakang Intan.


"Pak Prabu keluarga Pasien Alya mau ketemu dulu sama Pak Prabu sebelum pulang, katanya hanya untuk terima kasih."


"Oh. Alya nya sudah sembuh dan sudah melewati pemeriksaan terakhir dokter?"


"Sudah Pak, mungkin lagi mengurus administrasi."

__ADS_1


"Ya sudah nanti saya ke sana."


"Baik Pak."


"Mulai berlatih dong Pak apa piala kebanggaan rela pindah tangan orang lain?"


"Suster kepala Miranti sendiri gimana?" dr Prabu senyum pada dr kepala Miranti.


"Aku sangat siap heee..."


"Aku tak terlalu ambisius suster Miranti, tahun ini memberi kesempatan juga pada yang lain biar mencicipi gimana rasanya jadi juara."


"Apa akan merubah image rumah sakit ini jadi predikat rumah sakit atlit bulu tangkis?"


"Yang lain akan muncul menggantikan yang lama pada akhirnya."


"Serius Pak Prabu nggak semangat kenapa ? bukannya tambah semangat nih?" Suster kepala Miranti tersenyum penuh arti dan penuh selidik.


"Aku ikut turnamen. Tapi nggak target juara hanya partisipasi dan ikut meramaikan saja, aku lagi banyak masalah."


"Saya pernah punya pandangan seperti itu juga Pak Prabu, tapi aura lapangan dan suara gemuruh sorakan dan tepuk tangan penonton menjadi suntikan dan gengsi kita untuk jadi yang terbaik lho haaa..."


"Ya ya ya...aku ikuti saja suasananya." mereka berpisah depan ruangan dokter Prabu.


Dr Prabu masuk ruangannya dan duduk di hadapan meja kerjanya dan Intan duduk di sofa melihat lihat ponselnya.


"Kak aku keluar dulu mau telephon." dr Prabu hanya meliriknya, sesaat dr Prabu termangu di meja kerjanya sambil melihat belakang punggung Intan yang keluar.


Mengingat akan diadakannya turnamen tahunan memperingati hari jadi rumah sakit ini dr Prabu yang pertama di ingatnya akan ada Retno di tengah lapangan yang dulu selalu menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi dirinya saat Retno berada di tengah lapangan saat bertanding antar mahasiswa atau saat berlatih dengan dirinya. Wajah beningnya yang berkeringat selalu menjadi pesona tersendiri bagi dirinya, bahkan dulu Retno di kontrak sebagai salah satu yang mewakili atas nama satu perusahaan, entah team itu sekarang masih ada apa sudah nggak ada dan bubar, mungkin sudah jodoh atau takdir mereka di pertemukan dengan hobby yang sama baik di olahraga, musik dan organisasi yang lainnya.


Dr Prabu tersenyum sendiri mengingat saat Retno pingsan dan membopongnya, juga saat demam tinggi di kamar mess nya dan di bawa ke ruang perawatan, juga saat sakit masih saja dengan marah dan sakit hatinya tak mau melihat dirinya walaupun kelihatan ada kerinduan yang sangat dalam dan tak bisa di sembunyikan dari sorot matanya, kerinduan yang terhalang marah dan kebencian Retno pada dirinya.


Terbukti saat di tarik paksa dan dicium dengan kasar akhirnya pasrah setelah ciuman menjadi lembut tak ada lagi memberontak nya dan akhirnya Retno juga membalas ciumannya itu dan menikmatinya terbuai sesaat.


Semoga saja hadirnya Retno di arena menambah daya tarik pertandingan dan turnamen akan menjadi lebih semarak dan ramai pengunjung dan sekarang di tambah lagi pesertanya dari rumah sakit rumahsakit baru lainnya mengirimkan perwakilannya. Ada rumah sakit daerah, juga swasta lainnya dan tidak terbatas.

__ADS_1


__ADS_2