Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Piala kemenangan


__ADS_3

Momen yang tak akan terlupakan dan begitu langka saat pemberian hadiah dan penyerahan piala bergilir, sepasang kekasih dari tunggal putra dan tunggal putri yakni dr Prabu Seto Wardhana masih belum tergoyahkan masih tetap saja di posisi Puncak belum ada saingan dari bawah yang bisa menggeser nya.


Juga sejarah baru telah dicatat Retno. Menorehkan berjuta kebahagiaan bagi teman-teman pendukungnya atas kemenangannya juga bagi Retno sendiri, menggeser dan menggantikan posisi suster kepala Miranti di paling tinggi tahta bergengsi atas piala yang diraihnya.


Saat tamu undangan Pak walikota di daulat dengan hormat memberikan penghargaan kepada dr Prabu, sebagai peringkat pertama peraih piala penghargaan bergilir acara turnamen hari jadi Rumah sakit TMC yang kesekian. Bapak walikota menyerahkan piala secara simbolik kepada dr Prabu Seto Wardhana.


Tepuk tangan bergemuruh memberikan sambutan dan sebagai penghargaan terhadap direktur rumah sakit sekaligus kepada seorang pemenang. Dr Prabu sebagai contoh pimpinan yang telah menggerakkan seluruh warganya untuk ikut andil dan menggerakkan minat masyarakat akan olahraga. Selain event olahraga di lingkungan sendiri, juga menggerakkan semua instansi untuk lebih giat lagi menggalakkan olahraga di bidang masing-masing yang mereka minati.


Saat dr Prabu menerima penghargaan dan piala bergilir yang diwakilkan kepada walikota Bapak Sofyan Wijaya, terasa berat rasanya muka dr Prabu untuk bisa menatap menerima senyuman dan anggukan Pak walikota. Suara ucapan selamat dan tepukan di bahunya hampir tidak terdengar oleh dr Prabu seakan dirinya berada di atas rasa penyesalan dan perasaan bersalah yang belum terungkap dan belum tersampaikan di hadapannya.


Saat dokter Prabu sebagai pucuk pimpinan dari rumah sakit ini juga atas ketua panitia penyelenggara memberikan penghargaan kepada tunggal putri Raden Ajeng Retno Ayuningtyas, tak sepatah pun kata di awal-awal memberikan piala hanya senyum yang sempat dr Prabu berikan kepada Retno dan Retno pun menyambutnya dengan senyum pula.


"Selamat sayang, semoga ini awal kesuksesanmu!"


Retno begitu kaget dan mukanya langsung memerah. Tak menyangka Mas Prabu akan mengucapkan kata sayang di depan orang pemberi piala dan buket bunga, sungguh sesuatu yang di luar dugaannya walaupun ucapan itu hanya terdengar dirinya sama orang yang membawa baki piala tetapi Retno merasa malu karena di rasa Mas Prabu mengumbar perasaan di depan orang banyak.


Cepat-cepat Retno mengambil piala dan hanya mengucapkan terima kasih pada dr Prabu. Tak ada sepatah katapun ucapan dari Retno hanya membungkuk kepada hadirin dan kepada semua yang hadir sebagai ucapan terima kasihnya.


Retno kembali ke tempat duduknya sama dr Prabu, dan tak lama mereka bangkit meninggalkan acara yang sudah mau berakhir.


"Mau kemana kita Mas? kan acaranya belum selesai nanti Mas malah dicariin sama orang. Aku juga pengen gabung sama teman-teman yang lain merayakan perpisahan, dan aku sama teman-teman yang lain mau meminta maaf terhadap semua personil di rumah sakit ini."


"Termasuk sama aku kan?"


"Ya, mungkin. Yang pasti pada semua yang ada di rumah sakit ini."


"Sudah aku maafkan."


"Pada yang lainnya gimana?"


"Yang punya masalah sama kamu itu dr Imam SpOG dan suster kepala Miranti sudah aku wakili, mereka memaafkan."

__ADS_1


"Sok tahu amat, emang punya Indra keenam apa? Ya nggak bisa gitu dong Mas." Retno cemberut.


"Semua bisa diatur mereka mengerti pada kita. Malah aku punya Indra ketujuh heee..."


Retno diam tak bisa lagi mengutarakan keinginannya, walau hatinya ingin merayakan perpisahan dengan teman-temannya. Tapi ada hal yang lebih penting lagi dari sekedar perpisahan KKN nya yaitu bahas masa depannya dan keberangkatan mereka ke Pekalongan.


Persiapan diri dan mental juga walaupun penyambutan dan jawaban kedua orang tua sudah bisa dipegang untuk kali ini.


Sampai di ruangan dr Prabu Retno menghempaskan tubuhnya di sofa serasa melepaskan beban yang begitu berat. Satu sesi dalam kehidupannya telah selesai yaitu KKN. Tinggal melangkah pulang ke kampung halamannya meminta restu Romo sama Ibunya juga keluarga yang lainnya. Walau keputusan akhir dari semua kata sepakat ada pada Romo dan Ibunya tetap aja ada sedikit kekhawatiran diri Retno.


Lanjut mengurus kepindahan kerja dan fokus skripsi dan pernikahan, apa pernikahan dulu lalu skripsi? ah... semua bikin mumet pikiran Retno.


"Stres amat sih kelihatan mukanya? rileks saja seperti masalah masih bertumpuk-tumpuk di kepalamu. Kan sudah selesai satu-satu."


Retno diam pikirannya melanglang tak bisa fokus ke satu-satu yang ada di pikirannya.


Matanya memandang tanpa ekspresi pada dr Prabu dengan gerak geriknya yang membereskan berkas di mejanya.


"Makanya aku membawa kamu keluar dari acara biar kamu sedikit tenang tidak banyak yang di lihat." dr Prabu melirik Retno.


"Ngapain juga diberesin kan kamu akan tetap disini, Itu nanti aku bantuin kalau acara sudah bubar."


"Tapi semua berantakan."


"Nanti aku bantu temenin."


"Nggak usah, apa kata orang nanti masa pimpinan ikut beres-beres di mess."


"Peduli amat kata orang? yang penting hatimu tenang dan juga nyaman emang jadi tinggal di mess?"


"Aku sudah biasa di mana-mana juga, aku anak rantau terbuang dan hampir di lupakan."

__ADS_1


"Kenapa mesti punya perasaan seperti itu bukankah itu adalah pilihan kita? aku merasa tidak melupakanmu hanya waktu itu kita belum ketemu saja. Aku juga sama dari zaman kuliah awal-awal kerja sampai sekarang masih jadi anak rantau"


"Keadaan yang memaksa untuk memilih, dan menjalani hidup seperti merasa terbuang dan terlupakan." Retno seperti bergumam pada dirinya sendiri.


"Kamu kecewa dengan pertemuan kita?"


"Nggak!"


Nggak usah sedih begitu dong."


"Retno baru kali ini aku meninggalkan acara yang belum selesai, tapi aku sudah amanatkan kepada dr Imam agar bisa mewakili aku menemui tamu yang mau mau berbasa-basi ataupun yang berpamitan di akhir acara."


"Apa Mas juga tidak nyaman dengan adanya Alya si ulat bulu itu."


"Retno berhenti memberi julukan seperti itu pada orang lain, itu bukan hal bagus, itu malah membuat diri kamu sendiri merasa terancam dan tidak nyaman."


"Aku nggak merasa terancam, kecuali Mas Prabu sendiri yang bikin masalah. Itu julukan yang tepat yang di kasih teman-temanku Ella dan Ismi karena mereka melihat ulat bulu itu begitu menyebalkan."


"Retno, sudahlah Jangan pikirkan apapun tak cukupkah aku ada di samping kamu? kita raih masa depan bersama-sama"


"Benar-benar sepertinya orang itu merusak mood aku, tatapannya begitu liar dan penuh kebencian walaupun aku belum memperkenalkan diri langsung di hadapannya kalau aku adalah orang yang paling dekat dengan Mas Prabu."


"Retno, Alya memang mencintaiku, dia mengejar aku, sorry aku katakan malah dia yang terus terang di hadapanku tetapi aku tidak memperlihatkan kalau aku suka pada dia, Dia sangat gagah dengan keinginannya tanpa melihat respon aku."


"Aku tahu itu dan aku nggak suka, suatu saat aku ingin berterus terang dihadapan dia mengatakan yang sebenarnya, agar dia tidak memperlihatkan sikap kurang bersahabat terhadapku apalagi aku akan tinggal domisili di sini. Secara tidak sengaja suka tidak suka mungkin akan ketemu."


"Untuk apa Retno? biarkan saja nggak usah berurusan


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...

__ADS_1


...Jangan lupa mampir ke karya bertitel : "Pesona Aryanti" masih karya "Enis Sudrajat " baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...



__ADS_2