Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Masih bisa tersenyum


__ADS_3

Aku juga merindukan mu Mas, sama seperti berharapnya dirimu akan kebersamaan kita.


Aku akan pulang membawa hati yang mungkin sudah kuat, dan Mas sendiri sudah mendapatkan makna dari perpisahan ini, betapa menyiksanya buat kita. Dan aku juga begitu tak mengharapkan semua ini terjadi.


Aku akan mempersiapkan diri dengan sekuat mungkin kehadiran Alya dalam kehidupanku dan akan membiasakan diri sehingga luka ini lama-lama akan menjadi kebal dengan sendirinya.


"Retno, lagi ngapain? itu ada teman-temanmu datang, Ibu berangkat kerja dulu, ambil kue-kue kecil di dalam sana di toples toples kecil buat sekedar teman minum sambil kalian diskusi."


"Oh, iya Bu. Terimakasih."


Retno melongokan kepalanya ke luar pintu, tampak Ella dan Ismi turun dari angkot sudah berjalan menuju ke kamarnya.


Retno tersenyum bukan buat diskusi ini mah tapi buat ngerumpi. Biarlah aku perlu teman saat ini dan sejenak melupakan semua permasalahan yang ada.


"Hai, Ibu direktur apa khabarnya?"


Ella duluan menyapa Retno yang nongol di balik pintu.


"Sedikit kurus, tapi tubuh masih utuh, gimana rasanya di bawa terbang dan akhirnya terdampar di sini juga?" Ismi mengelilingi Retno yang masih saja berdiri sambil nyengir harus bicara apa sungguh dirinya tak mau meladeni apa yang mereka ucapkan.


"Cerita dong MP dan malam-malam selanjutnya Mbak."


"Sudah-sudah kalau aku cerita, malah aku tambah kasihan sama kalian. Kalian nanti akan merasakan sendiri bagaimana rasanya masuk ke area 21plus."


"Halah...Mbak cerita dong awalnya aja sama akhirnya, susah amat?"


"Awalnya aku menikah dan akhirnya aku sudah isi di sini sekarang."


"Hah...? tajam banget, serius isi?" Ella merasa penasaran.


"Isi sarapan, satu mangkuk bubur ayam, teh manis, dan cemilan lainnya." Retno tertawa sendiri merasa menang mengerjai dua temannya.


"Yaaaaah...dasar tukang bohong."


"Kamu berdua yang otaknya mesum, sudah pada duduk jangan mulai deh." Retno duduk duluan di susul temannya Ella dan ismi.


"Mbak gimana ceritanya Kok pengantin baru tiba-tiba berada di sini sama Mas nya nggak?"


"Aku kan belum selesai kuliahnya jadi wajar aku ada di sini."


"Terus Masnya rela apa yayang nya harus jauh?"


"Rela nggak rela Ismi, kan aku masih punya kewajiban, nanti juga ketemu lagi biar sama-sama rindu."

__ADS_1


"Tapi selama Mbak di sini ditengok nggak?"


"Ya ampuuuuun...Ella bukan hanya di tengok di tiduri juga, puas?"


"Haaaa...cuma kepo Mbak."


Ada banyak hal yang disembunyikan Retno dari teman-temannya bukan apa-apa untuk berbagi suatu cerita terhadap teman-temannya perlu keberanian dan waktu panjang menerangkannya dan untuk apa? sesuatu yang kurang enak bukan suatu pelajaran yang baik, bukan suatu teladan yang baik, seandainya dirinya cerita terhadap temannya paling hanya ungkapan prihatin dan perasaan kasihan yang timbul dari diri mereka.


Makanya Retno tidak memberikan peluang kepada kedua temannya untuk tahu sisi buruk dari rumah tangganya yang baru di bina berapa bulan ini.


Biarlah semua temannya melihat dirinya bahagia, selalu menganggap rumah tangganya baik-baik saja karena mungkin dengan begitu semua akan menjadi doa baik untuk Retno kedepannya.


Semua orang juga tak berharap dan kerikil di dalam rumah tangganya, tetapi masalah rumah tangga di awal pernikahannya biarlah semua menjadi pelajaran yang sangat berharga buat pelajaran kesabaran dan keikhlasannya.


"Satu yang kalian belum tahu apa coba?"


"Apa Mbak?" Ella sama Ismi hampir bareng bertanya.


"Aku sudah berhenti kerja."


"Kenapa Mbak?"


"Pokoknya aku ingin fokus dulu ke tugas akhir ini dan aku sekarang sudah ada yang tanggung jawab jadi nggak masalah berhenti kerja heee..."


"Aku nggak mau mesum di tempat kerja titik!" Retno menjawab sekenanya.


"Haaaaaaaa...bukankah malah semangat?"


"Nanti kalau sudah selesai skripsi aku pikirkan lagi kerja."


"Ajak kita dong Mbak."


"Kalian ngelamar aja, lagian sekarang belum lulus gimana? bukankan kalau sudah lulus juga kalian lebih senang di lamar bukan melamar kerja?"


"Iya Mbak paling di tunggu itu ada yang melamar, tapi sudahlah di jalani saja apa adanya."


"Jangan terlalu di kejar, semua akan datang sendiri kalau sudah saatnya, percayalah semua punya jalannya masing-masing."


"Mbak sendiri kalau sudah lulus mau ngapain aja?" Ella penasaran aja karena merasa sayang kalau Retno harus keluar kerja.


"Aku masih dilema Ella, Ismi, paling nantinya hanya ngurus suami, anak tapi keluargaku berharap bisa meneruskan usaha keluargaku walau sekedar membantu adikku."


"Mbak sudah sampai di mana soal skripsinya?"

__ADS_1


"Aku angot angotan kalau lagi semangat ya semangat, kalau lagi malas ya begitulah, besok mau ke kampus minta bimbingan dan revisi akhir dosen pembimbing, ke kampus ya aku traktir kalian."


"Asyiiiik....siap Mbak."


Memang benar adanya bukannya diskusi soal skripsi atau soal lain tetapi mereka hanya bergosip ngobrol tanpa ujung pangkal dan itulah mereka.


Tapi terselip kebahagiaan dalam hati Retno, kalau dirinya masih bisa tersenyum walau menyembunyikan permasalahan yang sebenarnya dan tetap berharap bisa tetap berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya.


Begitu bisanya Retno menyembunyikan semuanya tapi itu yang lebih baik, yang dianggap paling nyaman karena pikirnya tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk turut merasakan biarlah dirinya yang merasakan semuanya. Semua kisah rumah tangganya tidak untuk dibagi seperti tayangan sinetron di layar kaca yang banyak dikonsumsi khalayak ramai.


"Jadi kapan Pak Prabu datang ke sini nengok Mbak membawa rindu berat?"


"Seadanya waktu saja Ismi, tapi itu tak jadi tuntutan ku juga, makanya aku pengen cepet selesai biar nggak bolak balik ke kampus, aku mau pulang ke rumah dan menikmati suasana rumah yang nyaman bersama suamiku, dan meneruskan bulan madu kami."


"Mbak, ngomong-ngomong bulan madu kasih bocoran dong apa ada sedikit keanehan nggak di awal-awal kalian bersama? Aku jadi pengen tahu pengalamannya Mbak."


"Ella semua orang pada dasarnya sama mengeksplore kepenasaran kita akan dunia baru yaitu dunia rumahtangga dalam tanda kutip tidur barengnya, dan kebebasan dalam mengekspresikan perasaan kita pada pasangan."


"Heeee... nonton aja video bokep tak jauh dari begituan ya Mbak Retno?" Ismi seperti sok tahu aja padahal sama hanya ingin tahu pengalaman teman yang sudah pertama menikah.


"Ada yang harus di luruskan dari semuanya, seharusnya setiap saat itu adalah bulan madu kita di dalam mengisi dan menjalani rumahtangga, juga mengisi kebersamaan kita layaknya seperti awal-awal pernikahan, baik perhatian juga mesranya."


Ella sama Ismi diam dalam khayalan mereka hanya manisnya saja yang mereka bayangkan, padahal dalam hakekatnya satu ikatan rumahtangga adalah awal yang panjang buat komitmen janji setia saling menyempurnakan dari diri mereka masing masing.


"Jadi apa yang harus aku ceritakan? hanya satu pesanku kita harus buang ego kita, segala sesuatu yang enak untuk diri sendiri tapi carilah kenyamanan untuk dua orang, itulah rumah tangga."


"Oke deh Mbak, aku tahu kini bukan hanya nafsu dan hubungan suami istri aja yang jadi prioritas tapi bagaimana kita bisa saling mengerti dan memahami juga saling menerima, menghargai satu sama lain itulah sempurna."


"Tuh kamu semakin dewasa Ismi!


haaaa..."


.


.


.


Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir (Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2