Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Harapan Mama


__ADS_3

"Duduk, Papa sama Mamamu mau bicara."


Alya duduk tanpa satu katapun keluar dari mulutnya, tapi raut mukanya terlihat mendung dan penuh kecemasan.


"Papa kesampingkan semua marah dan perasaan kecewa padamu Nak, tapi Papamu lebih mengedepankan kesehatanmu. Apapun itu semua telah terjadi."


Ibu Diah Sofyan Wijaya menatap wajah Alya dari atas sampai dadanya, karena mereka duduk di meja makan. Kecemasan hati pada putri semata wayangnya tampak terlihat.


"Jaga kesehatanmu, mulai sekarang kamu dalam pengawasan Mamamu. Papa mencoba mau negosiasi apapun hasilnya kamu tetap harus menikah dengan atau tanpa dr Prabu."


Alya masih diam tanpa reaksi apapun, tidak menyanggah juga tidak menolak tetap dalam posisi pasrah.


"Karena kamu telah melakukan kesalahan, jadi biarlah Papa dan Mamamu yang mengambil keputusan masa depanmu."


"Apa kamu ada yang mau di sampaikan pada Papa, sama Mamamu?"


Alya menggeleng, Mamanya menyodorkan kotak roti ke hadapan Alya. Alya mulai mengambil dan meletakkannya di piring di hadapannya.


"Kesalahanmu terlalu berani dan terlalu besar, walaupun Papa menyalahkan dr Prabu juga.


Desty udah cerita semuanya, walaupun tidak sedetail-detailnya. Tetapi Papa telah menangkap permasalahan yang sedang kamu hadapi."


Hening...


"Papa ingatkan sekali lagi, jangan ulang kecerobohan yang sama. Ingat ada kehidupan di dalam perutmu yang tak bersalah, jaga sebaik-baik juga diri kamu sendiri harus cukup asupan gizi dan makanan."


Tetap hening...


"Papa sebenarnya ingin marah se-marah marahnya. Tetapi lebih jauh berpikir untuk apa mengumbar kemarahan atas semua yang telah terjadi tak ada gunanya, Yang sudah terjadi sudahlah.'


Pak Sofyan Wijaya meminum minumannya sampai tandas, lalu beranjak dari duduknya mengambil tas kerjanya. Meninggalkan istri dan anaknya yang masih duduk di meja makan, dengan tetapan istrinya yang masih kebingungan apa yang harus di ucapakan pada anaknya.


Ada kemarahan yang tertahan di wajah suaminya tetapi ingin marah pada siapa, ingin marah untuk apa, pada kenyataan kah? toh semuanya sudah jelas bukan untuk dimarahi tetapi yang lebih bijaksana mencari solusinya.


Hilang kebiasaan Bu Diah Sofyan Wijaya, biasa mengantar suaminya sampai naik mobil, tapi kali ini hanya menatapnya dari meja makan.

__ADS_1


"Alya, hari ini ayo kita periksa kehamilan mu, Mama punya teman seorang dr SpOG."


"Apa Mama akan membawa Alya ke rumah sakit itu? tidak! aku nggak mau."


"Bukan sayang, ini di klinik jauh dari kota ini.


"Untuk apa sih Ma? aku sehat-sehat saja juga aku nggak akan menggugurkan kandungan ini."


"Bukan begitu sayang, kita cek aja apa janinnya sehat, Mama takutnya ada masalah."


"Aku sibuk, kalaupun mau periksa bukan hari ini, aku belum merasa terganggu dengan semua ini."


Alya, hidup bukan cuma berpikir untuk diri sendiri saja, tapi pikirkan juga Papa Mamamu, keluargamu, kerabatmu dan juga tetanggamu, semua itu akan merasa terganggu jika kehamilanmu mendapat masalah suatu saat. Juga kehamilanmu tidak mendapatkan seorang suami, jelas itu akan mengganggu keluarga kita Apakah kamu berpikir seperti itu?"


Alya diam...


"Bagi dirimu hamil tanpa suami mungkin tak masalah. Tapi bagai Mama Papamu itu suatu yang sangat tidak mengenakkan, dan tak bisa kalau kehamilanmu disembunyikan terus. Kehamilanmu akan besar sesuai pertumbuhan dalam perut mu, kita adalah makhluk sosial mau tidak mau kita ini bersosialisasi dengan lingkungan, kehamilanmu akan jadi sorotan akan menjadi omongan dan gunjingan semua orang."


"Alya rela di asing kan Papa sama Mama, seandainya suatu saat kehamilan ini sudah besar."


"Kita periksa kandungannya, cek kesehatan Ibu dan janinnya. Sambil kita menunggu langkah apa selanjutnya yang akan Papamu ambil untuk menyelesaikan masalahmu ini."


"Iya, Alya ikuti keinginan Mama sama Papa, tapi nggak sekarang periksa nya."


"Iya, nggak apa-apa, kapan aja kamu bisanya. Tolong jangan menyulitkan dan mencemaskan Papa sama Mamamu, bukannya Mama sama Papamu mengekang dan mengaturmu tetapi setidaknya meluruskan apa yang sudah terjadi sekarang. Juga sudah terjadi kejadian seperti ini tetap aja Mama sama Papamu yang bertanggungjawab mencarikan jalan keluar untuk permasalahan mu ini."


"Iya, Ma."


"Apa terasa mual, setiap bangun tidur?"


"Masih."


"Itu semua bisa si konsultasikan di dokter kandungan."


"Apa tidurnya tidak terganggu?" Mamanya Alya menginterogasi apa yang menjadi kebiasaan dialami seorang ibu hamil juga yang dikeluhkannya.

__ADS_1


"Kadang."


"Apa yang harus Mamamu katakan padamu Nak? nikmatilah kehamilanmu karena tidak semua perempuan merasakan kehamilan? tapi kehamilan dalam situasi yang tidak Mama Papa juga kamu harapkan."


Alya mulai menangis...


"Menangislah..."


"Mama tahu kamu mencintai dokter itu, tapi seharusnya kamu tidak melakukan hal seperti itu anakku. Itu perbuatan salah menjebak orang sehingga menimbulkan kemarahannya."


Mamanya juga berlinang airmata.


"Kamu tidak berhak melakukan kecurangan seperti itu dengan alasan apapun, sehingga kamu sendiri yang mengalami akibatnya. Kamu telah melakukan kecurangan yang teramat besar. Semoga dr Prabu bisa memaafkan dan bisa menerima keadaanmu hanya itu doa dan harapan semuanya."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Pesona Aryanti"...


...By Enis Sudrajat, baca, like,...


...vote dan beri hadiah ya.🙏...

__ADS_1



__ADS_2