
"Ya, Waalaikum salaam Bu Harni, ada apa, sampai meluangkan waktu untuk mengabari aku apa Retno baik-baik saja?" suara dr Prabu dari seberang telepon begitu kaget dan merasa ada sesuatu yang sangat penting yang ingin suster Harni disampaikan kepada dirinya.
"Enggak Pak Prabu, kabar Retno baik-baik saja gimana kabar Pak Prabu di sana, apa masih lama untuk tinggal di sana atau sudah merencanakan kembali pulang?"
"Walaupun betah tinggal di sini bisa berbagi, bisa berkumpul dengan orang lain bersosialisasi dengan lapisan masyarakat dari berbagai daerah dengan sesama relawan dengan sesama tenaga kesehatan ada kenikmatan tersendiri. Tetapi walaupun begitu kita punya tanggung jawab akan pekerjaan, paling disini saya kira-kira dua mingguan lagi karena bencana sudah mulai reda dan orang-orang sudah mau menata hidupnya sendiri sendiri sebagian sudah ada yang pulang, cuman secara kesehatan kita masih menyediakan layanan di setiap posko barak di beberapa titik pengungsian."
"Ya ya ya...Apa pak Prabu tidak merasakan kangen sama istri?"
"Ya ampun suster Harni, kalau soal itu jangan ditanya setiap saat, setiap waktu yang memenuhi otak aku hanya Retno dan Retno, kalau aku tidak mengaji diri sendiri ingin rasanya aku terbang kesana memeluk istriku dan mengajaknya pulang."
"Di kira dokter tak merasa kangen."
"Suster Harni kerinduanku begitu beratnya, setiap hari dan malam aku lalui seperti orang linglung, tetapi karena kesadaran sendiri merasa diri penuh dengan dosa merasa diri tidak layak untuk dimaafkan, aku berusaha mencari pengalihan perasaanku dan berada di tempat ini sementara waktu. Hanya ini yang bisa aku lakukan dan yang terbaik juga."
"Bagaimana soal Pak Prabu untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang membelit rumahtangga Pak Prabu sudah sampai di mana? maaf saya bertanya takut terlalu lancang"
"Nggak apa-apa Bu Harni. Aku berusaha sebelum datang ke sini mendatangi keluarga Alya, yakni keluarga walikota aku ingin bertanggung jawab apapun resikonya dengan Retno nanti. Walaupun itu dulu tidak terbersit dalam hatiku sedikitpun untuk bertanggung jawab, tetapi dipikirkan sekarang itu adalah perbuatan ku walaupun bukan seratus persen aku yang bersalah, Alya ikut andil dalam hal ini tetapi apa yang bisa aku lakukan jika aku tidak menemukan Alya? Alya menghilang entah kemana sampai sekarang."
"Oh ya?"
"Tak satu orangpun tahu dimana keberadaannya, sanak famili jauh dekat di hubungi tak satupun kedatangan Alya, rasa tanggungjawab aku jadi tertunda dan entah sampai kapan."
"Tak terkira perasaan kedua orangtuanya juga mungkin?"
"Saya berkonsultasi dengan kedua orang tuanya, orang tuanya sempat sakit dan sempat dirawat di rumah sakit tempatku bekerja, tetapi tidak ada yang bisa aku lakukan, sampai sekarang hanya memantau menunggu kabar dari kedua orang tuanya apakah mereka menemukan Alya dan mendapatkan kabarnya, sampai detik ini belum ada khabar keberadaan Alya."
Hening.
"Sampai saat ini Alya raib hilang entah kemana mungkin dia merasa telah mengecewakan kedua orang tuanya, atau dirinya merasa bersalah entahlah, mungkin dia pergi jauh entah ke mana, Apakah dia dalam keadaan sehat atau kondisi seperti apa aku tidak tahu, dan itu yang sangat aku tunggu kabarnya dan kedatangannya."
"Seperti itu rupanya?"
"Ya, jadi untuk bertanggung jawab dan bentuk tanggung jawab aku akan menikahinya terhambat sampai sekarang, aku tidak bisa mendapat kepastian apapun Bu Harni."
__ADS_1
"Sampai kapan itu tak pasti ya dokter?"
"Tepat, entah sampai kapan aku tidak tahu, aku hanya menunggunya saja."
"Pak Prabu hari ini saya ingin sampaikan mungkin kabar baik buat Pak Prabu."
"Khabar apa Bu Harni?"
"Saya mendapat titipan pesan dari istri Pak Prabu yaitu Retno, saya selama ini selalu berdiskusi memberi masukan memberi semangat dan support terhadap Retno, setiap saat setiap ada kesempatan sampai pada suatu kesimpulan istri Pak Prabu menyampaikan sedari awal juga sudah memaafkan Pak Prabu. Satu lagi Retno mengizinkan Pak Prabu untuk menikahi Alya, dan Retno menerima Alya sebagai perempuan entah apa namanya dalam rumah tangga kalian mungkin orang mengatakannya madu."
"Ya Allah suster Harni, apa seperti itu yang disampaikan Retno istriku?"
"Ya, tetapi izin menerima kehadiran Alya di dalam rumah tangga kalian, sementara waktu tidak akan berubah Retno untuk pulang ke rumah sampai dia selesai menyelesaikan skripsinya dan lulus, mungkin dia mengumpulkan kekuatan mengumpulkan semacam mental dan membolak-balikkan pikiran apa ini yang terbaik untuk jalan hidup ke depannya."
"Retno...terimakasih sayang..."
"Satu lagi, saya mengucapkan selamat kepada anda Pak Prabu karena Retno juga saat ini tengah mengandung buah cinta kalian."
Dr Prabu melupakan siapa dirinya, dalam telepon dia menangis terisak sambil memanggil nama Retno dan memohon maaf atas kesalahannya, mohon maaf atas penghianatan yang jauh dari perkiraannya akan seperti itu akibatnya.
Dr Prabu meraung seperti seorang yang kalah dari Medan perang, menyesali diri yang tiada berarti, memanggil nama Retno jang begitu jauh dari jangkauannya, mengucap kata penyesalan dan diri yang begitu banyak salah.
"Pak Prabu, keikhlasan hati Retno kerelaan untuk menerima seorang perempuan lain di dalam kehidupan rumah tangganya mungkin didasari oleh kehamilannya, karena dia berkata kepada saya takkan merelakan seandainya dirinya tidak merasakan."
"Suster Harni, betapa ingin aku mendatanginya, bersujud di kakinya memohon ampun, dan berterimakasih atas kelapangan hatinya. Aku ingin memeluknya dan aku ingin membahagiakannya di sisa umurku di sepanjang usiaku."
"Mungkin Retno merasakan apa yang di rasakan Alya, saat hamil tak ada orang yang yang bertanggung jawab dan berpikir pula untuk anaknya, masa depannya akan seperti apa? dan nanti statusnya akan dipertanyakan ke lingkungan masyarakat."
"Suster, tolong beri aku nomor telephon Retno, sudah sampai dimana sekarang dia mengerjakan tugas syarat kelulusannya aku begitu tak sabar ingin segera menjemputnya!"
"Maaf dr Prabu, Retno belum mengizinkan memberikan nomor teleponnya padamu, karena akan mengganggu konsentrasi pada kegiatannya sekarang."
"Ya Allah Bu Harni, aku harus bagaimana?"
__ADS_1
"Bersabarlah, tawaqal dan menunggu sampai Retno benar-benar siap untuk pulang."
"Ya Bu Harni, saya akan sabar menunggunya dan terus berusaha mencari informasi di mana keberadaan Alya dan tetap komunikasi dengan keluarganya."
"Beruntungnya Pak Prabu bisa memiliki istri seperti Retno."
"Bu sungguh aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada Retno, saat menerima khabar kehamilannya, mungkin hanya terima kasih masih menganggap aku sebagai suaminya."
"Lapangkanlah hati dr Prabu se-lapang nya hati Retno, hargailah semua pengorbanannya jangan sia-siakan, karena kalau menyakitinya lagi entah akan seperti apa keputusannya nanti."
"Ya Bu suster Harni, akan aku ingat semuanya, setiap kerjapan mata hanya ada Retno di mataku, apa dia kelihatan agak gemuk? atau dia ngidam malah kurus?
Aku nggak sabar ingin segera mengusap perutnya dan membisikan kata maaf pada kehidupan di dalam rahimnya."
"Ya dr Prabu semoga dokter segera mendapat kepastian khabar Alya, dan bisa merealisasikan harapan untuk bisa menjemput Retno di sini."
"Terimakasih banyak suster Harni."
Dr Prabu mengusap airmatanya, seluruh tubuhnya terasa berkeringat, dan langsung mencari no telephon Ibunya Alya Ibu Sofyan Wijaya untuk bertanya khabar terbarunya.
.
.
.
.
Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1