Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Vionna yang cuek saja


__ADS_3

"Maksudnya hanya mengingatkan saja jangan sampai urusan pribadi mengganggu ketenangan antara pasien dan kinerja dokternya sendiri apalagi menimbulkan citra jelek rumahsakit ini di mata pasien yang mendengar kesalahpahaman dr Imam dan Mbak Vionna," ucap dr Prabu sambil menatap dr Imam bergantian sama Vionna.


"Semoga saja kejadian tadi tak terdengar sama pasien di luar, Maafkan atas ketidak nyamanan terutama sama Suster Intan yang ada di dalam tadi. Kami profesional dalam pekerjaan walau Kami ada hubungan pribadi," jawab dr Imam sambil senyum melihat Intan.


"Mungkin dr Imam belum memperkenalkan Intan secara resmi pada Mbak Vionna?" ucap Retno. Bersikap seolah tak tahu apapun.


"Oh, memang belum karena belum bertemu waktu yang tepat, Vio ini Intan yang pernah Aku ceritakan waktu itu. Kami sudah lama hubungan mungkin Intan tadi kaget saat Vio mengantar sarapan, tapi Vio niatnya baik kok mungkin sebatas perhatian sama saudara saja!" ucap dr Imam.


Vionna tertegun tak menjawab kata perkenalan dari dr Imam, malah Vionna merasa tak ada sedikitpun pembelaan Mas Imam pada dirinya seakan dirinya salah dan menyalahkan.


Vionna merasa salah dirinya ada di situ dan ingin segera beranjak dari situ. Padahal niatnya baik dan di dukung orang tua Mas Imam sendiri.


Hati Vionna seperti tak terima siapa Intan atau siapapun yang ada di samping Mas Imam, Vionna seperti telah memegang kartu Mas Imam boleh mengenalkan siapapun pada dirinya tapi bukan akhir segalanya. Semua layaknya kompetisi yang berhak adalah yang pantas dan layak mendapatkannya. Apalagi di mata orangtuanya dirinya yang paling layak dan pantas menjadi pendamping Mas Imam.


Vionna yakin di mata Ibunya dr Imam hanya dirinya yang cocok dan pantas untuk mendampingi Anak kesayangannya, juga kedua orangtua Mas Imam telah meyakini kalau mereka selalu tidur bareng di rumahnya. Jadi tak ada pilihan lain selain menikah secepatnya.


"Baiklah maaf, mungkin Aku mengganggu waktu kerja


dan aktivitas di pagi ini, sekali lagi maaf pada Pak direktur beserta Ibu juga pada Mas Imam dan Suster Intan! Aku permisi." Vionna menyatukan kedua telapak tangannya di dada dan bangkit setelah berpamitan dalam pandangan dr Prabu, Retno, dr Imam dan Intan.


Dr Imam mengejar Vionna dan berusaha memberikan pengertian kalau semua yang dilakukannya adalah salah, memaksakan kehendaknya mengirimkan makanan walau dr Imam berusaha menghargai usaha Vionna tapi tak seharusnya seperti itu.


"Vio, kamu sudah tahu kan kalau Intan itu yang tadi Aku kenalkan. Jadi maaf baru kali ini Aku kenalkan karena baru bertemu sekarang," ucap dr Imam mengejar Vionna yang berjalan kearah parkiran.


"Tak penting! toh dikenalkan atau tidak seorang Intan tak merubah semua niat dan keputusanku untuk tetap mengikuti keinginan orangtuamu Mas!" sahut Vionna tersenyum sinis pada dr Imam tapi mengagumi ketampanannya.


"Vio! apa keinginanmu itu tidak hanya buang-buang waktu saja? kenapa harus menungguku? bukankah masih banyak yang bisa Kamu lakukan selain menungguku? cobalah mengerti!" dr Imam berusaha meminta pengertian tapi sepertinya sia-sia saja.


"Kalau tidak denganku, tidak juga dengan seorang Intan! Aku lebih suka melihat Mas menjadi petualang sebagai laki-laki pecundang dengan berganti perempuan seperti yang aku lihat di ruangan praktek mu bersama Ibu-ibu itu! itu akan lebih mengecewakan orangtua Mas sendiri," jawab Vionna sambil membuka pintu mobil Bapaknya dr Imam.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Vionna?" sahut dr Imam masih bicara di kaca mobil yang terbuka.


"Sekarang Aku yang akan membuat Mas Imam mengerti Aku akan bicara dengan orang tua Mas Imam mungkin sebelum Aku pulang kita bisa menikah secepatnya," ucap Vionna seperti mengancam.


"Lakukan kalau bisa!"


"Baiklah, kita tunggu apa perintah orang tuamu nanti, Aku tunggu nanti saat makan malam!" Vionna melajukan mobilnya dan dr Imam hanya bisa memandang buntut mobil itu yang menghilang di balik pagar rumahsakit.


Dr Imam meyakini kalau itu hanya gertakan emosi Vionna yang merasa tidak dianggap dan merasa ditolak mungkin ego dan ketersinggungannya membangkitkan emosi dan ancaman, tapi kalau menyangkut orangtuanya dr Imam tidak tahu juga kini harus ada ketegasan meyakinkan orangtuanya apapun yang terjadi kalau dirinya tidak bisa di paksa kalau urusan jodoh dan masa depannya biarlah dirinya yang menentukan.


Balik lagi ke ruang praktek tanpa makan siang membuat dr Imam diam-diaman sama Intan.


Hatinya kacau tak bisa berpikir jernih, ada kekhawatiran dengan hal tak terduga yang dilakukan Vionna walau sebenarnya hatinya tentram bisa melihat Intan dengan muka cemberut juga tetap kelihatan cantik.


"Suster Intan masih ada berapa pasien yang nyambung setelah istirahat? apa masih banyak?" ucap dr Imam sambil menaruh ballpoint di tempatnya dan menaruh ponsel di sampingnya.


"Baiklah kita teruskan sekarang. Apa Suster Intan tadi makan siang?" tanya dr Imam sambil melirik Intan.


"Apa itu pertanyaan ada hubungan dengan pekerjaan apa pribadi?" sahut Intan merasa dr Imam tak perlu mengatakan hal itu saat ada di ruangan prakteknya.


"Terserah Kamu anggap apa. Memang kalau dalam urusan pekerjaan itu tidak lazim bertanya hal pribadi, tapi Aku berhak bertanya pada orang yang Aku cintai dan itu sah saja dan hakku bertanya karena Aku takut Kamu pingsan saat bekerja dengan ku belum makan, apa nanti bukan Aku yang di salahkan kalau Kamu pingsan? pasti Aku yang salah kalau sudah kejadian."


Intan diam mendengar apa yang diucapkan dr Imam.


"Satu yang ingin Aku tegaskan jangan dengar apapun dari orang lain, Aku mencintaimu dan Aku ingi Kamu meyakini itu kita bisa melewati semuanya."


"Baik! Aku ikuti keinginan Mas Imam dan Aku meyakininya," sahut Intan sambil mengangguk lalu membuka pintu menyuruh suster Erna untuk memanggil antrian pasien yang masih tersisa.


"Samapi selesai semua pasien sekitar jam 02:12 praktek hari ini selesai disambung malam dr SpOG lainnya, dr Imam memandang Intan yang membereskan mejanya dan semua peralatan prakteknya, Suster Erna membereskan di luar dan menyimpan semua kartu pasien pada tempatnya.

__ADS_1


"Intan nanti pulang kerja Aku tunggu di parkiran. Sore ini aku ada rapat dulu dengan direktur," dr Imam memegang tangan Intan sebelum keluar duluan.


Intan tak sempat menjawab keburu dr Imam keluar dan Intan hanya melihat punggung orang yang di cintainya berjalan dan hilang dari penglihatannya.


"Suster Intan ada apa sih tadi itu? kok kelihatan ribut?" tanya Suster Erna saat menutup pintu ruangan itu dan mereka berjalan ke arah ruangan Suster jaga.


"Itu masalahku kini Sus, hubungan dengan Mas Imam sedang tidak baik-baik saja. berawal dari Mas Imam memperkenalkan Aku pada orang tuanya tetapi saat itu orang tuanya seperti tidak setuju dengan kehadiranku. Aku dianggapnya seperti kekasih-kekasih Mas Imam sebelumnya tidak serius tidak lama akan putus dan semuanya akan seperti itu, lu orang tuanya memperkenalkan Vionna kepada Mas Imam bersama keluarganya, Mas Imam menolak tapi Vionna mendapat dukungan dari orang tua Mas Imam jadinya seperti ini."


"Oh alah. Jadi Vionna itu orang yang mau di jodohkan dengan dr Imam? aneh ya zaman sekarang masih saja ada hal-hal pemaksaan seperti itu? lantas dr Imamnya gimana?"


"Mungkin secara etika tak ingin Mas Imam melawan kepada orang tua walaupun semua bertentangan dengan hatinya. Secara perlahan tadi juga telah memberi masukan kepada Vionna dan memperkenalkan Aku tetapi bagi Vionna kelihatan biasa saja itu yang membuatku aneh juga," sahut Intan.


"Aneh gimana?"


"Seperti tak perduli gitu Sus,"


"Mungkin Vionna merasa akan menang kali!"


Intan diam, pembicaraan selesai karena mereka sampai di ruang suster jaga. Bergabung dengan Suster lainnya yang menunggu waktu pulang dan absensi sebelum pergantian sip.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2