Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Marah tapi cinta


__ADS_3

"Intan ada apa? kenapa malah menangis di sini? sudah bertemu dr Imam mungkin dia lagi menunggumu," ucap dr Prabu sambil menutupkan map, mengusap dasinya dan berdiri berjalan menghampiri Adiknya Intan yang duduk di sofa sebrang meja kerjanya.


"Aku nggak usah pamit Kak, nggak enak sudahlah pokoknya Aku baik-baik saja, Aku malah menambah bebannya," ujar Intan. Hatinya tak bisa melihat kekasihnya seperti yang baru saja di lihatnya, dr Imam sedang berjalan bersampingan dengan Alya menuju ke tempat makan sebrang Rumah Sakit ini.


Ada apa mereka? belum selesai urusan dengan permasalahan orang tua mereka yang berniat menjodohkan dr Imam dengan sepupu jauhnya menjadikan Intan galau dan hubungan diantara keduanya menjadi renggang dan tidak nyaman lagi.


"Intan, tidak baik seperti itu kamu seakan keluar dari masalah tanpa mempertimbangkan orang lain tanpa memikirkan orang lain, baik-baiklah pamit kamu kan datang ke sini sama dr Imam kalaupun pulang juga harus baik-baik kalian sudah dewasa selesaikan masalah dengan baik juga," ucap dr Prabu lembut sambil menatap Adiknya yang menunduk.


"Apa yang harus Aku katakan Kak?" tanya Intan sambil melihat Kakaknya.


"Kok Kamu begitu saja bingung? orang pamitan gimana biasanya, tak bicara juga dr Imam sudah tahu kalau Kamu mau pulang, maksudku setidaknya bertemu dulu apa salahnya?"


"Aku tadi melihat dr Imam sedang berjalan dengan seseorang, pokoknya Aku nggak mau pamit! tolong Kakak saja sekarang pamitkan, Dia ada di rumah makan sebrang rumah sakit mungkin mau makan siang bareng,"sahut Intan tetap diam di tempatnya.


"Sama siapa? mungkin dr Indah atau siapa? pokoknya Kakak nggak mau kalau sampai Kamu nggak pamit karena semalam dr Imam sudah ngomong semuanya Dia tetap pada pendiriannya tidak mau dijodohkan dan akan berusaha bagaimanapun caranya untuk bisa memberi pengertian kepada orang tuanya juga pada perempuan itu seharusnya kamu memberi dukungan kalau memang kalian sama-sama cinta."


Intan malah menangis dan tetap duduk di tempatnya.


"Intan, ada apa? Aku sebagai Kakak tidak tahu apa yang Kamu inginkan, tapi setidaknya Kakak mengajak keluarlah dari masalah dan Kakak hanya menyarankan yang terbaik menurut pikiran Kakak sendiri walaupun tidak tahu itu terbaik menurutmu," ujar dr Prabu sangat bijaksana dan hati-hati dalam bicara.

__ADS_1


"Kakak makan siang saja dulu sana, Aku tunggu di sini nanti ke sini sama dr Imam Aku pamitnya di sini," Intan memberi solusi yang bisa dilakukannya hanya menunggu di sini.


"Ya sudah, kalau itu mau mu tapi janji baik-baik sama dr Imam ya?"


Intan mengangguk, sambil menyeka air matanya, dr Prabu sebagai Kakak tak bisa melihat Adiknya seperti itu, ingin rasa hati memberi jalan terbaik dan memberi solusi dari masalahnya.


"Kamu nggak makan sekalian? sepertinya itu lebih baik bertemu di sana."


"Aku tunggu saja di sini!"


Dr Prabu mengangguk bangkit dan mengusap kepala Intan dan keluar tanpa menutup pintu.


Dr Prabu masuk ke rumah makan itu, padat juga dan celingukan mencari dari sekian meja yang ada dan yang pertama di lihatnya jelas dr Imam ada di pojokan.


Dr Prabu tak melihat dr Imam dengan siapa datang langsung ke meja di mana dr Imam duduk.


Alya langsung berdiri dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum membuat dr Prabu terpaku bergantian menatap dr Imam dan Alya.


"Alhamdulillah dr Prabu datang juga ke sini, ayo kita gabung makan di sini, Aku habis konsultasi pas dr Imam istirahat jadi apa salahnya kita makan siang bareng," sapa Alya begitu ramah tanpa melepaskan jabat tangan mereka.

__ADS_1


Deg! ada rasa salah dr Prabu datang meja itu, tak melihat dr Imam dengan siapa. Mulutnya mendadak tak bicara lidahnya terasa kelu.


Tak bisa menghindar juga tak bisa kalau tak jadi makan di situ, walau mood sudah terbang hilang duluan enyah ke mana.


"Iya Bos, Aku yang ajak Bu Alya makan di sini sambil meneruskan ngobrol ringan konsultasi biasa," ucap dr Imam sambil mempersilahkan dr Prabu duduk di salah satu kursi di sampingnya.


Dr Prabu duduk tanpa bicara dan hanya memesan minuman saja, seperti terperangkap saja rasa hati dr Prabu tak bisa melepaskan diri dari situasi dan kondisi saat ini.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2