Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Resepsi Intan (Bab penutup)


__ADS_3

"Ibu yakin tidak histeris dan tidak akan membuat malu Anak Kita nantinya?" ucap Bapaknya dr Imam sambil melihat Istrinya yang hanya diam sepanjang perjalanan menuju ke alamat yang ada di surat undangan.


"Iya Pak, hanya airmata ini tak bisa Ibu tahan selalu datang setiap Ibu ingat betapa bersalah dan berdosa nya Kita sebagai orangtua pada Anak sendiri," jawab Ibunya dr Imam dengan pilu.


"Kalau di pikir iya. Memang Kita ini keterlaluan memaksakan keinginan yang di rasa menurut Kita baik padahal itu bukan sayang yang sebenarnya. Tapi sudahlah semua telah terlanjur terjadi mungkin jalannya harus seperti ini dan Anak Kita mempertahankan prinsipnya itu semua patut disyukuri karena Kita belum terlanjur menjerumuskan Anak Kita sendiri pada rumah tangga yang tidak menjadi pilihannya, pasti akan lebih menyakitkan lagi kalau mereka menikah menurut pilihan Kita terus mereka tidak bahagia mungkin Kita tidak akan termaafkan dan tidak bisa memaafkan diri Kita."


"Ya Allah betapa Ibu gelap mata dengan sosok Vionna yang membius padahal Anakku sudah punya calon yang serius dan berhubungan sudah lama, kenapa hati ini begitu tertutup melihat gadis cantik yang di bawa Nak Imam ke rumah waktu itu? Astaghfirullah Pak Ibu malu sama Neng Intan sama Kakaknya juga keluarganya."


"Sudah Bu, Kita mau sampai nih sepertinya perumahan elit ini tuh sudah kelihatan janur kuningnya."


Semakin tak karuan saja rasa hati Ibunya dr Imam saat mendekati area resepsi yang begitu sibuk lalu lalang orang dari parkiran juga ke parkiran area resepsi di lapangan fasilitas umum komplek itu.


Berjalan dengan serasa melayang masuk diantara banyaknya orang yang mengantri membuat Ibunya dr Imam merasa tak sabar tapi Bapaknya berusaha menenangkannya dengan merengkuh pundaknya.


Sampai akhirnya....


"Ibu? Bapak?" Subhanallah Intan Sayang siapa yang datang?"


Dr Prabu seraya menghambur ke pelukan Ibunya memanggil Ibunya dan menitikkan air mata walau sekuat tenaga tenaga di tahannya. Berdua berpelukan di saksikan sebagian undangan juga orangtua Intan dan Intan langsung bersalaman dengan mencium tangan Bapaknya dr Imam.


"Maafkan Ibu Nak, juga Nak Intan."


Intan mencium tangan Ibu mertuanya dan langsung di tarik sama Ibunya dr Imam mereka berpelukan lama.


Tak kuat dengan tekanan perasaannya, sesak di dadanya menjadi gelap penglihatannya. Akhirnya Ibu dr Imam lemas pingsan di depan pelaminan.


Dr Imam langsung membopong Ibunya ke dalam rumah dan di baringkan di kamar depan yang ditempati Rahma Adik Intan di susul Intan yang memberi pertolongan pertama, Bapaknya juga mengikuti diiringi keluarga dan orangtua Intan.


Semua panik takut Ibunya mengalami serangan jantung, dr Imam mengambil peralatan medisnya yang kebetulan ada di atas dengan menggunakan gaun pengantin Intan berusaha memasang infus Ibu mertuanya dan memberi asupan oksigen genggam juga mengurut di daerah titik tertentu.


Dr Imam menggenggam tangan Ibunya yang terpejam sambil sesekali di ciumnya. Bapaknya mengusap usap kepalanya dan berbisik di telinganya. Intan menggosok gosokkan minyak angin di di leher Ibu mertuanya dan mencium cium bergantian dengan alat oksigen genggam.


Mulai ada reaksi, Ibunya mengerjapkan mata melihat sekeliling dengan perasaan pusing dan Akhirnya meminta duduk. Dengan berlinang airmata memandang satu demi satu orang yang mengelilinginya.


"Ibu ini Aku, dan ini Intan terimakasih sudah datang, Ibu jangan bicara apapun kecuali kata maaf padaku sama Intan."


"Ibu yang harusnya minya maaf Anakku, juga Pada Nak Intan do'a bahagia telah Ibu panjatkan setelah Ibu membaca undangan dan selama perjalanan ke sini. Tak ada yang bisa Ibu lakukan hanya berdoa untuk kebahagiaan kalian satu yang Ibu harapkan kalian bisa menerima Ibu dan memaafkan kesalahan yang selama ini Ibu lakukan pada kalian."


Semua beban di hati kini sudah mencair dan sesak di dada kini mulai longgar.


Semua berpelukan dan Bersalaman dengan penuh suka cita.


"Istirahatlah saja dulu di sini Bu ini Ibunya Intan dan ini Bapaknya! dan ini rumahku sama Intan Bu, Aku sudah mempersiapkan semuanya biar tidak merepotkan Ibu sama Bapak."


Ibunya dr Imam sekali lagi menitikkan air mata, dan Ibunya Intan mengelusnya dengan kelembutan.

__ADS_1


Datang Rahma adik Intan dengan tergesa.


"Kak Intan, Ini Kak Prabu mau bicara sama Ibu juga Bapak katanya ponsel nggak ada yang di angkat!"


"Ada apa Rahma?"


"Kedengarannya Kak Retno sudah lahiran."


"Apa?" Semua tampak kaget.


Semua terbelalak dan kaget pantesan sejak kemarin pulang dari akad nikah nggak kelihatan lagi pikir Intan.


Dr Imam meraih ponsel di tangan Rahma dan menjawab telepon yang masih nyambung itu.


"Halo, Mas Prabu gimana?"


"Alhamdulillah Mam, Retno selamat lahiran normal di tolong dr Ida Spog di rumah sakit TMC ini, Anakku laki-laki sesuai USG. Maaf ya Aku sama Retno tak bisa hadir di resepsi pernikahanmu. Sampaikan kabar gembira ini pada Ibu juga Bapakku."


"Subhanallah Mas Prabu, Baarakallahu semoga Retno cepet pulih dan bayinya tetap sehat. Kami semua di sini turut bersuka cita menyambut kehidupan baru keluarga Kita. Nanti di sampaikan ada salam dari Ibu Bapakku yang ada di sini Mas Prabu."


"Masya Allah Mam? bener itu?"


"Alhamdulillah Mas, berkat do'a Kita semua."


"Sekali lagi selamat bahagia dan Aku juga begitu bahagia Mam hari ini Kita merasa punya satu momen berharga di tanggal yang sama hari ini."


"Ya sampai jumpa, salam buat semuanya."


Kebahagiaan yang sempurna di hari yang sama di rasakan keluarga dr Imam juga keluarga dr Prabu.


Akhirnya Ibunya dr Imam bisa melihat senyum bahagia putranya di pelaminan dengan pengantin wanita yang begitu cantik. Intan yang selalu tersenyum dan begitu ramah membuat Ibunya dr Imam tak puas melihat dan mengabadikan kebersamaan mereka.


****


"Mas mau bangun, rasanya tubuhku remuk semua Mas sakit rasanya seluruh persendian ku," ucap Retno muka cantiknya meringis dan tangannya menggapai bantuan suaminya.


"Sabar Sayang, perjuangan luar biasa Kamu telah lulus semua akan berangsur pulih, ada kebahagian yang menyambut kita nanti jagoanku menanti belajar menyusu, Kita coba nanti sore ya," jawab dr Prabu sambil membantu Retno bersandar di bantal yang di tumpuk, lalu dr Prabu memeluknya dengan lembut.


"Mas nggak boleh iri melihatnya!"


"Hahaha... iri tentu saja tapi masa sama buah hati sendiri harus iri? nanti juga ada saatnya lagi Bapaknya, ya nggak lah Sayang kan mulai malam ini Aku harus puasa do'ain Aku kuat ya asal jangan bertemu dr Imam sama Intan dengan rambut basah Aku pasti kuat."


"Huh! ngaco apa hubungannya?"


"Hahaha...Aku bercanda Sayang, melihat perjuangan Kamu siang tadi Aku merasa kehilangan separuh jiwaku kalau bisa Aku ingin membantu tapi tidak bisa apa-apa itu kodrat wanita, Aku hanya bisa berdo'a sebisaku yang pasti Aku semakin Sayang dan di tunggu cubitan Kamu sebagai kode nanti ya!"

__ADS_1


"Ih, Mas! Istri baru saja melahirkan dan rasa sakit itu masih begitu perih terasa masih saja bercanda!"


"Iya Sayang Aku mengerti, cepet sehat biar bisa pulang dan masa pemulihan nanti di rumah, Aku telah lulus manjadi suami siaga dan Kamu harus siap dengan jamu ramuan leluhurmu yang telah di kirim Kangjeng Ibu juga Romo mu, Aku pasti kangen yang sering kita lakukan di balik pintu."


Retno hanya tersenyum mendengar gurauan suaminya, dan kebahagiaan yang dirinya rasakan ingin segera di bagi pada keluarga besarnya di Pekalongan sana.


Malamnya dr Prabu menerima telepon dr Imam yang minta maaf tidak bisa menengok sekarang juga orangtua Intan yang kecapaian, itu di maklumi dr Prabu karena Retno juga perlu istirahat yang cukup buat memulihkan tenaganya tidak menerima banyak kunjungan keluarga.


"Sudah selesai resepsinya Mam?"


"Sudah Mas, paling tinggal yang beres-beres dari EO."


"Hati-hati Mam saat kalian tinggal di rumah cuma berdua kunci pintu!"


"Hahaha... Iya Mas, kasihan kelihatan Intan juga sudah tepar banget."


"Biasanya itu tipuan perempuan Mam, pura-pura capek padahal lagi membayangkan sesuatu!"


"Awww!" Dr Prabu mendapat cubitan di pinggangnya. Dan telephon langsung terputus.


"Kok baru saja siang lahiran sudah kasih kode Sayang?"


"Mas!"


T A M A T 🙏❤️


******


Terima kasih tak terhingga dan rasa syukur selalu di panjatkan kepada Allah SWT sehingga saya bisa menyelesaikan novel ini dengan baik menurut kemampuan saya.


Kepada keluarga yang telah mendukung, dan juga kepada readers semua yang telah dengan setia membaca dari awal sampai akhir novel ini.


Pada akhirnya saya ucapkan terima kasih pada semua yang telah mendukung dan jangan lupa mampir di karya-karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir


❤️Cinta Di Atas Perjanjian


❤️Noda Kelam Masa Lalu

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2