
"Gimana kamu setuju? terus terang aku merasa cemas melihatmu dalam kondisi seperti ini, maaf bukan aku melihat dari permasalahan mu, tetapi lebih kamu tuh seorang perempuan."
Rendra melirik Alya yang ada di sampingnya, lalu meneruskan omongannya.
"Walau bagaimanapun perlu seorang pelindung dan juga perlu sandaran di dalam hidup ini, bukan sebagai seorang kekasih saja atau suami tetapi seorang sahabat juga sangat dibutuhkan dalam situasi dan kondisi apapun. Ikutlah denganku pasti ada kebahagiaan dan kepuasan hati di sana."
"Aku setuju Rendra, aku pernah kuliah di ekonomi, aku akan menjadi pengajar sebisaku atau apapun juga akan aku coba dengan ilmu yang aku punya."
"Wah, bener nih jadi ikut aku?"
"Rendra, kenapa kamu begitu baik kepadaku padahal aku telah terus terang semuanya, aku bukan wanita baik-baik, aku hamil, di luar nikah lagi, keadaanku kondisiku juga permasalahanku tetapi aku tidak melihat respon jelek di matamu kepadaku."
"Apa aku harus menilai kamu cewek brengsek? liar dan nakal? tidak Alya! pada dasarnya keburukan dan kejelekan itu begitu tipis bedanya, bisa saja orang yang berbuat buruk berbuat jahat mau bertobat ke jalan yang lurus, akan kembali kembali menjadi orang yang benar." Rendra menarik nafas berat.
"Tapi sebaliknya orang yang baik terjerumus godaan hawa nafsu tak terkendali hingga menimbulkan aib dalam dirinya dan dosa besar di pundaknya tapi tidak mau bertobat tetap aja akan menjadi orang yang tidak benar."
Alya hanya diam mendengar apa yang di ucapkan Rendra.
"Alya, aku tidak punya hak menilai jelek terhadap siapapun, termasuk padamu, kalaupun kejadian yang menimpamu itu adalah sebuah aib bagi kehidupanmu, aku tidak akan pernah kita campur atau menilai menjudge kamu itu jelek, semua orang punya masa lalu semua orang punya kehidupan kelam, justru aku ingin merangkul orang-orang yang terpuruk dalam kehidupannya, seperti semangatnya aku memberikan motivasi kepada orang-orang yang trauma karena tertimpa bencana."
"Apa aku seperti orang yang sedang ditimpa bencana?"
"Ya, kamu dalam masalah, punya kisah kelam, tanpa sandaran, tanpa orang dekat, tanpa sahabat, kamu dalam kondisi labil, pertengkaran kedua orang tuamu mungkin saja akan jadi trauma di sepanjang hidupmu, kamu labil dalam menghadapi hidup, sayang kalau tidak mengikuti saran aku."
Alya tertegun, merasa benar banget apa yang di ucapkan Rendra, tak sedikitpun salah, merasa hidupnya termotivasi kini, walau dalam banyak masalah, dirinya bisa menyumbangkan setitik kebahagiaan bagi yang lain, mungkin bagi yang lebih membutuhkan di area pengungsian.
Mantap hati Alya ingin ikut ke tempatnya Rendra
"Oke, deal kita jadi sahabat mulai sekarang."
Rendra menyodorkan kembali tangannya sambil tertawa dan Alya pun sama menyambutnya juga sambil tertawa.
"Kamu akan aku kenalkan dengan kepala desa nanti, sebagai orang yang bertanggung jawab di desa kami sebagai daerah yang terkena dampak erupsi mungkin juga sebagai koordinator di pengungsian dan juga akan aku kenalkan dengan orang tuaku mereka hanya tinggal berdua karena adikku satu-satunya masih kuliah di Surabaya.
__ADS_1
"Iya Rendra, terima kasih banyak."
"Nggak usah terima kasih Alya, aku nggak beri kamu apa-apa, malah harusnya aku terima kasih padamu, kamu bersedia menjadi relawan di kampungku, kamu bisa tinggal di rumahku, kedua orang tuaku rumahnya lumayan agak gede bisa menampung kamu dan sehari-hari kamu bisa ke tempat pengungsian."
"Tapi setidaknya kamu memberi jalan dan arah pada langkahku."
"Tidak Alya, sekali lagi aku belum memberi apapun padamu, kalaupun kamu ikut ke kampung ku itu adalah panggilan hatimu sendiri."
"Baiklah aku anggap itu panggilan hatiku, Rendra kamu memberi jalan dan semoga kedepannya kita jadi teman baik."
"Oke Alya aku sekarang jadi temanmu, sebenarnya desa saya tidak berdampak langsung mungkin sekarang masih dalam posisi siaga tapi sebagian juga ada yang kena, di desa saya menjadi tempat pengungsian juga dari desa tetangga."
"Rendra, aku malu sama kedua orangtuamu, gimana nanti aku bisa berterus-terang pada mereka? atau aku sembunyikan kehamilanku ini?"
Rendra memandang kepada Alya menyelami apa makna yang ucapkan barusan sama dia dan Rendra mencari jawaban yang bijaksana untuk penyampaian kata-katanya
Rendra takut Alya tersinggung dan jadi kepikiran juga takut orangtuanya salah paham terhadap mereka, tetapi sejak dulu di rumahnya adalah penampungan teman-temannya sesama pecinta alam sesama teman traveling, naik gunung, dan kemping bersama, teman laki-laki dan teman perempuan.
"Alya, akan ada saatnya kamu punya waktu yang tepat dan kesempatan untuk membuka diri pada siapapun, dan itu hanya kamu yang bisa tahu."
"Ssssssssst...sudahlah, tak guna semua yang terjadi jadi sesal kita, tapi jadikan setiap kesempatan dan hari demi hari kedepannya untuk bisa merubah kita menjadi lebih baik lagi, siapa tahu keberadaanmu di sini membuka mata hati kamu terbuka dan mengeetu apa arti kebersamaan dengan keluarga, dengan orang lain, dengan sahabat, semua akan terasa lebih berarti."
"Iya Rendra kamu benar, semoga aku mendapatkan hikmah terbesar di dalam hidupku, di sini mungkin Allah menuntunku untuk lebih tafakur diri dan introspeksi diri."
"Alhamdulillah, semoga Alya kamu bisa melewati semua nya, itu do'a ku sebagai sahabatmu. Sekarang tenangkan lah hatimu karena tujuan langkahmu telah jelas."
Alya mengusap perutnya yang masih kelihatan rata, dengan niat di dalam hatinya yang begitu kuat dan syukur Allah masih sayang pada dirinya walau dirinya penuh dengan hina dan dosa, juga aib dan cela.
Setitik harapan tercermin di wajah Alya kini, yang pasti suatu permasalahan sudah teratasi kalau dirinya kini punya tujuan ingin ke tempat pengungsian.
Memberikan arti kehidupan bagi yang lain walaupun dirinya juga orang yang begitu butuh bantuan, tetapi di satu sisi dirinya punya tekad kuat harus hidup dengan janinnya di manapun dirinya berada.
"Kamu pegang ponsel tidak?" Rendra menyadarkan lamunan Alya.
__ADS_1
"Ponsel ada, cuman belum beli kartunya, aku merusak dan membuangnya kenapa berniat mengasingkan diri sampai aku mendapat ketenangan."
"Sudah kuduga. Besok aku belikan kartu baru." Rendra tersenyum
"Iya makasih Rendra, kenapa kamu tidak bertanya kisah aku, sampai hamil dan minggat dari rumah?"
"Aku punya hak apa padamu Alya, aku malah takut pertanyaanku kamu terima sebagai beban dan seperti menyudutkan mu."
"Ya ampun Rendra, ternyata ada orang yang begitu baik dan sopan sepertimu."
"Haaaa...jangan banyak memujiku nanti kamu menyesal."
"Aku tidak memujimu hanya kejujuran hati yang aku ungkapkan."
"Kalau memang itu benar kejujuran hati kamu, aku ucapkan terima kasih."
Mereka tertawa bersama seakan lupa permasalahan masing-masing terutama Alya, sejenak lupa kalau dirinya dihadapkan pada permasalahan yang diciptakannya sendiri yang kini membelitnya.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya π€¦πππ
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
vote dan beri hadiah ya!
__ADS_1
Slow ya, karena Author punya on going dua boleh baca dua-duanya di jamin melelehπ©ββ€οΈβπβπ¨π