Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Ingin menebus kesalahan


__ADS_3

Retno ngeloyor sendiri keluar lapangan dan diikuti kedua temannya satu lagi tambah kejengkelannya pada Mas Prabu, begitu jelas gede rasa cemburu tanpa melihat suasana dan dimana, mempermalukan orang dengan seenaknya dan merasa paling jago dan kuasa.


Pokoknya sebel, sebel, sebel! perasaan dulu dia tak punya sikap dan sifat yang seperti itu, semua bikin tak enak hati dan merusak suasana saja, kasihan amat Rendra di permalukan dengan cara seperti itu pasti sakit hati banget, tapi biar suatu saat aku bertemu aku akan meminta maaf padanya semoga aku di pertemukan lagi dengan Rendra.


"Retno udahan latihannya?"


"Sudah aku capek buanget."


"Ayolah, latihan lagi sama aku sebentar aja."


"Bukankah lawan Mas juga besok bukan seorang perempuan? jadi berlatihlah dengan laki-laki yang sepadan, jangan tebar pesona di depan perempuan."


Dr Prabu tertawa sambil berlari menyusul Retno dan membuang raketnya melemparnya sembarangan lalu memeluk Retno di depan orang banyak tanpa sedikitpun aba-aba dan persiapan, Retno jadi terkejut di buatnya.


"Hai semua, ladies and gentleman! sister and brother, kenalkan ini kekasihku Retno bintang lapangan juga, do'ain kita ya semoga bisa mengawinkan piala rumah sakit TMC ini."


"Yaaaaaah..."


"prok prok prok..."


"Huuuuuuuu..."


"Seisi GOR jadi riuh sama tepukan tangan dan sorakan, juga suit suit dan yang latihan mungkin juga penontonnya kebanyakan karyawan rumah sakit itu yang pada santai atau sekedar olahraga pagi.


Peluk ! peluk ! peluk !


"Haaaaaaaa..."


Dr Prabu memeluk Retno dan mencium keningnya yang berkeringat lalu melambaikan tangannya ke sekelilingnya sudah seperti atlit yang baru di nobatkan meraih piala emas dalam ajang bergengsi pon, olimpiade atau sea games, Retno tak habis fikir apa maunya ini orang? dasar! hanya ingin di sebut gagah apa sok cari perhatian.


Retno diam saja mau melakukan apa dirinya kepalang tidak mampu dan hanya diam itulah yang lebih baik sedikit senyum ditebar hanya untuk formalitas saja, dan hatinya tetap berkata semakin sebal dengan Mas Prabu.


Ella dan Ismi hanya tertegun saja menyaksikan drama sesaat yang tadi dipertontonkan dr Prabu pada Retno, dan dalam hati keduanya mengagumi mungkin perasaan cinta dr Prabu terlalu besar dan mungkin berlebihan terhadap Retno.


Dr Prabu menggandeng tangan Retno keluar dari arena GOR , dan menarik tangan Retno untuk duduk di taman-taman di samping GOR itu, dan Retno memasang wajah kecut jeruk nipis, semua yang di lakukan Mas Prabu bikin kesal hatinya saja.


"Pagi-pagi kok tidak ada senyumnya apa lagi sariawan, senyum segarnya mana?"


"Lagi kesel, dan pengen makan orang."


"Haaaaaaaa...makan aja aku."


"Iya pengen makan Mas, sekalian di telan bulat-bulat."


"Kesel karena nggak bisa selfi-selfi lagi kayak kemarin pagi ya sama cowok brengsek tadi? enak saja main pegang main photo."

__ADS_1


"Mas!"


"Apa, mau belain tuh cowok?"


"Mas, seenaknya saja ngata ngatain orang brengsek begitu."


"Apalagi dia seenaknya saja main pegang tangan kamu, photo-photo latihan bareng sama pacar orang."


Dan Retno panas juga hatinya di cemburui, dengan alasan yang begitu sepele.


"Kenapa hayo, nggak suka aku cemburu?" dr Prabu malah memojokkan Retno.


"Mas keterlaluan aku berphoto di lapangan di tengah banyak orang, bukan berdua-duaan sedang Mas sama ulat gatal itu peluk pelukan usap-usapan di dalam ruangan berdua, jelaslah aku cemburu!"


"Haaaaaaaa...akhirnya kamu jujur juga sayang kamu cemburu kita sama-sama cemburu, ayo kita ke ruangan ku sekarang ada yang ingin aku tunjukan padamu."


Dr Prabu menarik tangan Retno dan setengah menggusurnya mereka bergandengan menuju ke ruangan dr Prabu, semua yang melihatnya mengerutkan dahi bagi orang yang tidak tahu hubungan mereka yang sebenarnya, tetapi bagi orang yang sudah tahu mereka hanya senyum-senyum saja.


"Mas mau apa sih?"


"Ayo ikut aku aja."


"Mas aku keringatan begini nggak enak banget, aku malu sama orang-orang."


"Suatu saat juga kita bakal keringatan bersama." dr Prabu berbisik di telinga Retno.


"Yaaa...kan kita mau ikut turnamen besok, ya pasti keringatan lah emang apa? pikiran kamu tuh yang kemana mana."


Dr Prabu masuk ke ruangannya dan menarik Retno dan mendudukan nya di sofa.


"Mau ngapain sih Mas?"


"Retno ini kan hari libur kamu dan juga besok please jadikan dan manfaatkan semua ini istimewa buat kita, Intan masak di rumahku dan mengundangmu ayo kita ke sana."


Retno diam tak menjawab semua ajakan dr Prabu, hatinya gamang dan merasa takut,.entah kenapa mungkin hanya perasaannya saja dirinya masih trauma atau karena pengalaman waktu ke belakang yang tak mengenakannya?


"Aku kangen saat kita latihan dulu kangen dengan teriakan kamu, kangen dengan keringat kamu kangen dengan senyuman kamu, ayolah kita mulai lagi kan kamu janji waktu pulang dari Bandung mau meluangkan waktu untukku."


"Apa Mas yakin dengan perasaan kita masih seperti yang dulu?"


"Retno ayolah kita bicara serius di tempatku, lupakan semuanya silahkan kalau mau mandi dulu aku tunggu di sini, tapi kalau nggak mandi juga nggak apa-apa kamu sudah cantik ini."


"Janji Mas nggak ngapa ngapain ya! di rumah ada Intan serius?


Aku masih trauma nih bahkan paranoid yang berlebihan, aku curiga an dan sensitif aku nggak mau kena buli dan prank tak bermutu lagi, hatiku susah di yakinkan dan untuk menerima kepercayaan dari orang."

__ADS_1


"Ya ampuuuuun Retno aku sayang sama kamu apa sih tujuanku ? aku ingin meminta maaf dengan nyata bukan hanya ucapan saja hanya itu selanjutnya perasaanku hanya untukmu dan lebih jauh lagi aku ingin masa depan denganmu ayolah nanti bicara nya aku tunggu di sini."


"Baiklah Mas, kali ini aku ikut denganmu."


"Ya tapi beri aku ciuman selamat pagi dong kan nanti kalau di sana pasti ada Intan, dr Imam dan Bi Iyah juga Pak Min."


Dr Prabu menarik Retno dan menutup pintu, Retno merasa seperti di jebak.


"Mas apa-apaan kok pintunya di tutup sih?"


"Kenapa kamu juga mau masuk ke sini?"


"Kan a-aku...Mas yang yang bawa ke si..."


Dr Prabu telah mendaratkan ciuman di pipi Retno dan perlahan bergeser ke bibirnya dan begitu lama di situ hingga nafas mereka terengah-engah, tangan Retno memeluknya erat, dr Prabu tersenyum melepaskan ciumannya sambil tetap memeluk tubuh Retno sejenak dr Prabu meneliti setiap centimeter wajah di depannya.


"Aku kangen yang tak tertahankan Ajeng."


"Mas aku juga."


"Iya aku mengerti, dan membaca matamu, walau kamu marah, walau kamu benci padaku tapi aku tahu sorot mata ini sorot kerinduan."


Berulangkali Retno tak mampu menolak,nmemang dirinya juga begitu selain benci atas semua perlakuan dan semua yang dirinya terima membuatnya sangat marah dan tak terima, tapi kerinduannya mengalahkan segalanya membuat hatinya meleleh tak mampu untuk menolak untuk tak memaafkan dan menerima ciuman dan pelukannya yang serasa siraman air saat musim kemarau sekian tahun dirinya menanti tanpa pasti.


Terkadang semua bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya, Retno begitu benci tapi gejolak hatinya begitu mendamba kehadiran dr Prabu di sisinya,dan semua bisa meredam amarahnya juga rindu yang ingin terpuaskan.


Selang kurang lebih setengah jam Retno datang lagi ke ruangan dr Prabu dengan dandanan yang begitu cantik, rok panjang dengan atasan cardigan juga tas santai, kerudung dan sepatu tanpa hak kelihatan seperti dandanan dulu masa-masa kuliahnya.


Dr Prabu tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya sambil meraih tangan Retno dan menciumnya dengan segenap perasaannya, dan menggandengnya menuju parkiran membukakan pintu bagi Retno dan dengan muka sumringah dr Prabu duduk di belakang kemudinya.


"Apa kita jalan-jalan aja dulu sebelum siang?"


"Aku nggak tahu jalan-jalan ke mana terserah Mas aja."


"Retno apa kamu tahu aku merasa jadi orang yang paling bahagia hari ini, walau aku nggak tahu seperti apa perasaanmu."


"Dan aku bukan hanya ingin hari ini Mas."


"Oh tentu Retno, aku ingin menebus semua kesalahanku selama ini,.aku ingin membuat senyum selalu terukir di wajahmu."


Retno diam dan menunduk, dr Prabu menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan memegang tangan Retno dan Retno menatapnya heran kenapa berhenti.


"Retno kita ke rumah saja ya takutnya Intan menunggu, aku ingin manfaatkan waktu kita dengan seefektif mungkin karena kita tak banyak waktu luang untuk bersama sama, nanti saja ya jalan-jalannya, aku tak mau buang waktu percuma dengan putar-putar saja."


Retno tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2