
"Bu, barangkali kalau anak kita nggak pede mencari jodoh sendiri biasanya Ibu-Ibu Arisan bulanan teman-teman Ibu suka banyak gossip yang juga sama ingin anaknya segera punya pasangan nggak apa-apa coba tanya saja Alya barangkali ada yang cocok, dan dia mau kalau pertemukan dengan seseorang, bukan di jodohkan istilahnya di kenalkan dulu tapi nanti silahkan jalani dan jajaki sendiri."
"Mas sih Pak kita harus segitunya?"
"Takut anak kita sudah mau berumah tangga tapi tak mampu mencari pasangan sendiri, kita nggak berburuk sangka Bu tapi sebagai orangtua kita harus jeli terhadap perubahan anak kita Bu."
"Iya juga ya Pak, akhir-akhir ini Alya kelihatan segala nggak mood, nanti akan Ibu bisik-bisik saja dulu sama Ibu-Ibu siapa yang punya anak perjaka tapi belum ada tanda-tanda mau serius biar bisa kenalan sama anak kita."
"Ya begitu apa salahnya di tanya dan Alya nya juga mau kan siapa tahu malah itu yang lebih baik di kenalkan sama orang tua."
"Apa Ibu akan malu nggak ya Pak?"
"Biasa Bu mencari yang terbaik buat anak adalah kewajiban kita sebagai orangtua Bu, mengarahkan dan mengenalkan bukan menjodohkan dan satu keharusan bedakan itu."
"Iya Pak Ibu mengerti, Ini lihat akhir-akhir ini bahkan ke cafe juga sering mangkir dengan alasan ada yang kerja dan asistennya, padahal kalau di kelola dengan baik dan dia yang ada di cafe semua ramai dan lumayan, masa harus Ibu yang stand bye di cafe apa kata orang dan teman-teman Ibu?"
"Kalau toko kue bakery nya itu gimana sekarang Bu?"
"Lancar Pak karena cafe dan bakery ternyata saling berhubungan, dari bakery di suplai lagi di cafe bahkan ada cafe lain yang sudah langganan meminta macam-macam kue ke bakery nya Alya."
"Sepertinya perkiraan Bapak iya Bu Alya ingin berumah tangga, seperti bosan menjalani rutinitasnya sehari hari, kesibukan membuat dia tidak begitu banyak waktu untuk sosialisasi dengan orang luar jadi kesulitan mendapatkan teman laki-laki."
"Biar nanti Ibu yang bicara hati ke hati saja pagi besok sama Alya, kalau sekarang sepertinya sudah nggak bisa di bujuk lagi."
"Bu seandainya Bapak sampai ngomong sama dr Prabu mungkin Bapak ngomong apa ya? sama dr Prabu ampuuuuun seperti mengemis saja rasanya."
"Sudahlah Pak kita harus tahu dulu hati anak kita."
"Iya Bu sudah malam ayo kita tidur."
Pagi harinya...
"Bu Papa sudah berangkat?"
__ADS_1
"Sudah, memang ada apa tumben tanyain Papa Neng?"
"Emang nggak boleh aku kan anaknya tanyain Papa kan wajar."
"Wajar iya wajar kan tahu rutinitas Papa kamu itu setiap hari ya begitu ke kantor."
"Kali aja ada malasnya kayak aku."
"Heeee...Neng Alya yang cantik anak Mama, yang namanya tanggung jawab itu jangan ada kata malas walau memang terkadang kita juga malas, tanggung jawab itu macam-macam tanggung jawab pada diri sendiri sebagai individu, tanggung jawab sebagai anak, sebagi istri, sebagai suami, sebagi pimpinan dan sebagai kepala daerah seperti Papa kamu begitu berat pertanggungjawabannya."
Alya Dian mencerna omongan Mamanya.
"Anak Mama kenapa kelihatan seperti gelisah akhir-akhir ini?"
Bu Sofyan menatap anaknya.
"Kamu anak mama kamu bisa bercerita apapun pada Mama kamu anggap sebagai teman kamu dan di mana-mana juga seorang Ibu akan menjadi teman yang paling cocok bagi putrinya."
"Ibu ini Mama kamu mata sedih mata bahagia Ibu tahu, jika ada kesedihan di hati kamu Ibu pertama melihatnya jika ada kegundahan di hati kamu Ibu pertama paling tahu, yang kamu rasakan akhir-akhir ini sepertinya mood kamu lagi menurun Ibu tahu dari seringnya kamu mangkir ke tempat bakery dan malamnya ke cafe, seakan itu adalah pertanda dan pertanyaan bagi Ibu apapun yang kamu rasakan katakanlah Ibu adalah pemegang rahasia terbaik untuk putrinya."
Dan Alya hanya diam saja saat Mamanya bicara pada dirinya dengan lembut.
"Apa anak Mama lagi ada masalah pribadi yang mengganggu?" Ibunya Alya mengusap pangkal lengan Alya dengan tatapan lembut khas seorang Ibu dan sambil menyodorkan mug minuman sarapan anaknya.
"Bu Alya jadi malas kemana-mana dan mau ngapa-ngapain"
"Loh loh loh... ada apa dan kenapa?"
"Ibu semua teman cewek Alya sudah menikah, setiap ketemu kalau nggak menuntun anaknya, lagi hamil, atau bareng sama suaminya, kemarin yang datang ke cafe ngasih undangan pernikahan, dan kemarin nya lagi yang ngasih undangan pertunangan aku merasa risih sendiri dan aku ingin mengakhiri kesendirian ini." Alya seperti sedih yang bukan di buat-buat.
"Anak Mama Alya sayang jodoh rejeki dan maut adalah rahasia Yang Maha Kuasa tetapi kita sebagai mahluk nya harus berikhtiar dan wajib hukumnya, mencari yang cocok untuk masa depan kita, dan tidak boleh memaksakan kehendak kita terhadap siapapun."
Alya seperti ada rangsangan dan harapan baru mendengar pencerahan dari Mamanya sepagi ini.
__ADS_1
"Apa ada seseorang yang Alya pandang sangat menarik dan sama sama saling tertarik?"
Alya menggeleng lemah dan menundukkan kepalanya, kejujuran yang sangat menyakitkan hati bagi Bu Sofyan Wijaya, dan tak ada kesedihan hati seorang Ibu saat anaknya ada dalam masalah sekecil apapun itu.
"Apa Alya tertarik dengan seseorang?"
Alya mengangguk, dan Ibu Sofyan tersenyum sekali lagi mengusap tangan anaknya.
"Jadilah pribadi yang baik dan akhlak yang baik akan mendapatkan yang baik pula, boleh Ibu tahu siapa orangnya nggak apa apa, jujur mungkin bisa menenangkan hati dan menemukan jalan permasalahan."
"Alya suka dengan dr Prabu, tapi selama ini berbagai cara Alya lakukan untuk mendapat perhatiannya tapi tetap tak berlanjut, Alya selalu yang telephon pertama, Alya kirim makanan dan buah juga kartu ucapan, Alya kirim undangan sekedar ngopi dan ngobrol tapi responnya tak seperti yang di harapkan."
"Anak Mama Alya sayang terkadang harapan tak seindah seperti yang kita dapatkan, sabarlah dan jangan terpaku pada satu orang karena akan menutup pintu hati kamu untuk membuka pintu bagi orang lain yang akan memasukinya, dan kalau dirasa usahamu sudah maksimal berdo'a dan pasrah pada Yang Maha Kuasa itu yang terbaik."
Alya diam mencerna apa yang di ucapkan Mamanya.
"Sayang, bukan Mama atau Papamu nggak sanggup ngomong untuk menyampaikan perasaan mu pada dr Prabu, tapi Papa sama Mama terganjal oleh etika tata krama dan sopan santun walaupun Bapakmu adalah seseorang yang punya kuasa di wilayah ini tetapi untuk urusan perasaan apalagi ini menyangkut anaknya sendiri Papamu nggak akan sanggup, dan nggak akan bisa dan itu mutlak harus dengan usaha mu sendiri, kalau nantinya untuk menguatkan mungkin Bapakmu bisa, jadi intinya berusaha dulu lah dengan caramu dan pesan Mama kalau usahamu sudah maksimal pergi keluar bergaul lebih luas lagi dengan cara-cara yang baik jangan tertumpu pada satu orang seperti dr Prabu."
Alya diam dan memang sampai saat ini hanya dr Prabu lah yang menjadi pandangan ideal dirinya, sejak pertemuan pertamanya Alya merasa jatuh hati dan tertarik dengan sosok seorang dokter itu, entah kenapa seakan Alya merasa cocok dan semua yang ada di dr Prabu begitu menarik hatinya dan terasa sempurna, tapi sayang itu hanya perasaannya sendiri entah kemana perasaan dr Prabu sendiri.
"Semua akan Mama sama Papamu bantu tapi sebatas yang kami bisa, tapi ini seandainya kamu mentok di orang itu sebut saja dr Prabu boleh Mama kenalkan pada seseorang anak teman Mama? tapi ingat jangan anggap ini perjodohan tapi anggap ini perkenalan dan selanjutnya Alya yang jalani dan jajaki sendiri, cocok ya lanjut nggak cocok jadi teman juga jadi saudara, boleh?"
"Sementara jangan dulu Ma, Alya masih punya satu cara yang mungkin bisa Alya lakukan." Alya tersenyum pada Mamanya dan bangkit memeluknya.
Memang benar seorang Ibu adalah tempat curhat dan berbagi perasaan yang paling mengerti juga terjaga kerahasiaannya.
.
.
.
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1