Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Tertangkap basah


__ADS_3

"Bu Alya, maaf Aku sudah mau pulang karena Aku praktek hanya setengah hari ada keperluan keluarga, kalau sudah tidak ada yang di konsultasikan lagi Aku tutup praktek siang ini," ucap dr Imam sambil merapihkan semua peralatan dan memanggil suster Erna buat penyelesaian membereskan administrasi, peralatan, kartu pasien dan lain-lain.


"Dokter, seperempat jam aja minta waktu bisa kali? bukankah dokter belum berkeluarga?" pinta Alya membuat dr Imam tak mengerti.


Mau tidak mau memandang Alya yang masih saja duduk di seberang mejanya.


"Bu Alya, apalagi yang akan di sampaikan? baiklah tapi Aku tidak menerima aduan konsultasi selain urusan di bidang medis," ucap dr Imam sambil menatap wajah Alya yang memang cantik tapi mengesalkan.


"Dokter jangan begitu, kita kan sudah berteman, dokter temannya dr Prabu sejak dulu Aku tahu itu, Aku hanya ingin bicara tentang pribadiku saja," sahut Alya sambil tersenyum.


"Bu Alya, Aku tahu Bu Alya sudah berkeluarga dan Aku masih single, kalau untuk urusan rumah tangga juga maaf sepertinya Aku tidak bisa menanggapi karena jujur dalam hal ini Aku belum berpengalaman walaupun bidangku di bidang hasil kerjasama suami istri," jawab dr Imam sedikit bercanda. Mungkin itu yang membuat semua orang betah ngobrol lama lama dengan dr Imam bisa bercanda dan menghidupkan suasana.


"Dokter, Aku yakin dokter tahu masa lalu Aku dengan dr Prabu dan kejadian itu, sejak saat itu Aku menikah dengan orang lain dan sampai saat ini belum bisa hamil lagi, yang Aku tanyakan kenapa kalau sama dr Prabu begitu cepat isi walau tanpa di harapkan, saat itu Aku hamil tapi sayang kenangan itu harus hilang dengan kejadian keguguran, Tapi kini Aku sudah menikah dengan suamiku yang sekarang hampir setahun, kok sepertinya belum menunjukan tanda tanda kehamilan?" ucap Alya begitu jujur dengan keadaannya.


"Bu Alya menikah baru setahun, itu juga kurang lebih, banyak faktor yang membuat orang hamil dan tidak hamil, setiap orang beda-beda perempuan dan laki laki merespon akan tumbuh kembangnya bibit saat pembuahan dalam tubuh mereka, ada yang harus diperhatikan juga mungkin kualitas hubungan jangan merasa terbebani dengan keinginan hamil karena itu akan mempengaruhi psikologi kita, banyak orang-orang yang tidak mengharapkan kehamilan atau bersikap biasa-biasa saja akhirnya hamil tanpa diduga, tapi yang begitu mengharapkan karena mungkin merasa berharap terlalu tinggi akhirnya mempengaruhi terhadap segalanya," ucap dr Imam bicara dari kacamata psikologi.


"Suamiku tak kurang suatu apapun, tapi ada yang kurang dari dirinya dokter, hanya Dia bukan dr Prabu, karena setiap Aku berhubungan yang Aku bayangkan adalah dr Prabu, tapi pada kenyataanya setelah Aku sadari semua begitu bertolak belakang. Apakah perasaan seperti itu mempengaruhi juga pada kehamilanku yang tidak kunjung datang?" tanya Alya begitu membuat dr Imam terkejut. Kalau sampai di dengar Retno atau suami Alya apa mereka tak akan meradang?


"Lalu yang Bu Alya inginkan sekaran apa, juga konsultasi padaku hanya memberitahukan soal itu?" tanya dr Imam sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Bukan dokter, Aku menginginkan dr Pabu kembali walau Dia sudah menikah, Aku mau bercerai dengan suamiku kalau dr Prabu mau menjadikan Aku istri kedua, Aku ingin hamil dan punya Anak seperti yang pernah Aku rasakan saat itu,"


jawab Alya membuat dr Imam terhenyak.


"Bu Alya, itu sesuatu yang tak mungkin, Pak Prabu sudah memiliki istri, pasti Bu Retno tak akan bisa merelakan suaminya berbagi dan bermadu paling memilih bercerai seandainya itu jadi pilihan Pak Prabu," ucap dr Imam memperkirakan sendiri.


"Bercerai itu yang Aku harapkan, rasanya Aku tak bisa hidup dengan orang lain, setelah Aku jalani sungguh tidak bisa, Aku tidak bisa berpura pura kalau Aku mencintai dr Prabu," ucap Alya kelihatan bicara tanpa beban, seolah itu adalah hal biasa dan begitu lazim di obrolkan pada siapa saja.


"Maaf Bu Alya, Aku sepertinya tak setuju dengan perasaan Bu Alya." Dr prabu langsung memberikan pendapatnya.


"Aku tidak meminta persetujuan orang lain tentang perasaanku juga dr Imam, tapi Aku meminta sampaikan perasaan ini, Dokter Imam meminta apa padaku? silahkan pinta sebagai barter!" ucap Alya dengan nada serius, kelihatan begitu yakin dengan ucapannya.


"Hahahaha.... tidak Bu Alya, Aku bukan orang seperti itu, dan suka barter. Tapi kalau Aku meminta Bu Alya jadi pacarku Apa Bu Alya mau bercerai juga?" ucap dr Imam bercanda. Selepas mengucapkan kata itu ada ketakutan dalam hati dr Imam merasa kelepasan ucap.


Dr Imam tertegun, kesalahan baru dirinya buat, tak sempat berpikir apa tanggapan Alya hanya bercanda tapi Alya menanggapinya seperti serius saja.


Tiba tiba Alya berdiri menghampirinya ke balik meja di mana dr Imam duduk Alya duduk di pangkuan dr Imam, kedua tangan Alya di kalungkan di lehernya, dr Imam jelas menolak, karena bukan hal seperti itu yang di harapkannya. Wajah mereka hanya berbatas mili saja.


Tapi semua terlambat, pintu di ketuk dan langsung terbuka Vionna menyaksikan pemandangan itu hanya bisa ternganga, dan dr Imam mendorong tubuh Alya sehingga Alya berdiri di samping dr Imam duduk.

__ADS_1


"Oh, maaf Anda pasien dr Imam?" tanya Alya begitu tak ada beban bertanya pada Vionna yang berdiri di pintu yang yang masih terbuka dan handle pintu masih di pegangnya.


"Sorry Bu Alya, itu Vionna pacarku!" kedua kali dr Imam melakukan kesalahan, tadinya biar Alya mengerti tapi apa yang di ucapkan Alya, begitu di luar dugaannya.


"Oh alah pacar dokter? ya sudah kalau begitu Aku permisi dulu dan sampai bertemu lagi," ucap Alya sambil mencium pipi dr Imam dan sedikit pelukan lalu Alya berlalu keluar mengambil tas branded nya di atas meja.


Dr Imam mau marah tapi pada siapa? pada kenyataan? semua sudah terjadi. Salah sangka akan sampai pada kedua orangtuanya. Ada baiknya juga saat itu dirinya lagi bersama Alya biar Vionna mundur perlahan tanpa harus cerita ada Intan dan rajutan kisah cinta mereka.


Tapi penilaian jelek sudah pasti di alamatkan pada dirinya, tak apa-apa toh diantara dirinya sama Viona belum ada ucapan apa-apa, mereka sepakat ingin bersahabat dulu dan itu hanya mengikuti keinginan orang tua mereka. Suatu saat akan ada keterusterangan dari dr Imam pada Vionna, dan tak akan ada cinta yang terucap dari dr Imam.


"Pemandangan yang lumayan bagus juga, pantas melupakan janji mau meluangkan waktu jalan jalan siang ini, Aku tungguin tak kunjung datang,Ibu menyarankan samper saja ke sini, tapi yang di samper lagi asyik berduaan praktek!" sindir Vionna sambil melihat kedua tangannya di dada.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2