Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Terlalu rindu


__ADS_3

Dr Prabu membuka mata saat matahari mulai masuk ke sela-sela gorden kantornya, kepalanya sangat berat karena semalam kurang tidur. Dalam perjalanan pulang hanya tidur setelah sampai sekitar jam dua malam. Tidur tidak terlalu lelap namanya juga banyak pikiran, dan capek fokus menyetir sendirian dalam perjalanan, datang langsung ke kantor dan tidur di situ.


Melihat jam dinding hampir setengah sembilan, dr Prabu langsung bangun duduk di tepi tempat tidurnya.


Di luar kedengaran orang berlalu lalang walau bukan jalur umum, kantornya agak belok dari bangunan utama rumahsakit itu.


Mungkin suster kepala Miranti, atau OB yang bertugas membersihkan ruangan, atau juga suster yang ingin menemui suster kepala Miranti.


Suara roda troli meja makan dorong berisi makanan buat sarapan pasien-pasien terdengar begitu berisik melewati ruangannya.


Dr Prabu melihat ransel dan koper pakaian dan peralatan lainnya teronggok di pojokan.


Juga tas besar yang sebagian pakaian kotor dan sandal juga sepatu-sepatunya.


Perutnya terasa lapar, juga haus dr Prabu melihat dispenser tapi mungkin sudah lama nggak di ganti, sejak awal keberangkatannya. Dr Prabu mengambil air mineral botol di ranselnya dan meminumnya.


Masuk kamar mandi membersihkan diri dan mandi dengan sepuasnya. Merasakan kembali kehidupan di kantornya seperti keadaan dulu saat dia masih belum berkeluarga, terkadang menginap di kantor berhari-hari terkadang pulang.


Habis mandi berpakaian, masih pakaian santai karena hari ini dr Prabu belum berniat kerja barang satu dua hari, ingin istirahat dulu dan ngobrol mendengarkan laporan dari dr Imam SpOG.


Memeriksa ponselnya tapi mati karena lowbat, dr Prabu segera men-charge ponselnya karena dirinya lagi menunggu kalau kalau Retno, menelephon nya, mengabarinya, dan meminta di jemput.


Dr Prabu membuka sedikit pintu dan gordennya karena ponselnya mati lagi di charge, berniat menemui suster kepala Miranti untuk memanggilkan dokter Imam datang ke ruangannya.


Baru saja keluar dr Imam SpOG datang. Sedikit agak terkejut karena menurut obrolan mereka waktu terakhir mereka menelephon dr Prabu akan pulang masih dua hari sampai semingguan. Itu kalau rencana semula, tapi kok orangnya sudah ada di sini?


"Bos? kapan datang?" dr Imam menjabat tangan sahabatnya, sambil tersenyum. Menerobos masuk ke dalam ruangan.


"Semalam, tapi hari ini aku belum siap ngantor masih mau beres-beres dulu, lihat mobilku minta di steam dan aku juga perlu istirahat."


"Iya lah Bos, istirahat aja dulu kita ngobrolnya di kantin aja sambil sarapan yuk."


Dr Prabu mengangguk dan mereka berjalan bersisian.


Di jalan menuju ke kantin bertemu Pak Min yang membungkuk memberi hormat.


"Pak Min, sudah sarapan?" sapa dr Prabu.

__ADS_1


"Sudah Pak Dokter, monggo." Pak Min menyahut ada sedikit keheranan kemarin di rumah datang Bu dokter, sekarang baru melihat lagi Pak dokter.


Tak banyak yang bisa di pikirkan Pak Min, yang pasti mereka saling mengabari dan komunikasi dan mereka berhubungan baik, makanya Bu dokter sekarang lagi hamil. Mungkin seperti itu pikiran sederhana yang ada di benak Pak Min.


Dr Prabu tersenyum sambil membungkuk kembali, Pak Min berlalu untuk memulai tugas dan tanggungjawabnya sebagai tenaga pemelihara dan kebersihan taman.


"Apa khabar rumahsakit selama sebulan lebih aku tinggalkan?" dr Prabu melirik dr Imam.


"Orang yang pada sakit di rawat, ada juga yang berobat jalan, rumahsakit dan karyawannya baik-baik saja, cuma aku kehilangan sahabat buat teman ngobrol."


"Syukurlah asal kamu jangan ikut sakit!" dr Prabu menanggapi candaan dr Imam SpOG.


"Apa khabarnya Retno Bos?" dr Imam tak sabar bertanya tentang Retno.


"Aku sampai saat ini belum berkomunikasi sedikitpun, hanya suster kepala Harni yang menyampaikan pesan dan khabarnya padaku, juga khabar kehamilannya, Retno sudah memberi no ponselnya tapi lewat suster kepala Harni."


"Ya ampuuuuun ... di kira sudah nyambung."


Dr Prabu agak mendung. menggeleng perlahan, lalu meminum teh manis hangat yang duluan di sodorkan pelayan kantin.


"Dia memforsir diri mengerjakan skripsinya, mungkin pelarian dari masalahnya. Aku bisa apa sampai saat ini di hadapan Retno? Aku hanya merindu dan terlalu rindu."


"Aku takut, dia belum bisa menerima kehadiranku, malah tambah marah, aku kasihan apalagi dia lagi hamil."


"Iya juga sih...."


"Aku akan sabar menunggu dia menelephon, dan memintaku untuk di jemput, titip pesan juga nggak apa-apa seperti biasa sama suster kepala Harni." Dr Prabu penuh harap dalam kerinduan.


"Waktu Intan datang bertemu di kostnya, Retno banyak curhat tentang hati ke hati sesama perempuan. Mungkin semua masalahnya."


"Pasti!"


"Waktu itu kata Intan memang seperti melihat ada tanda kehamilan, masih pagi sudah tidur, waktu Intan tawarin beli makanan malah mintanya rujak. Dan memang itu yang di makan. Kelihatan Retno kurus katanya."


"Aku serba salah, kalau datang menjemput baik-baik takut malah meruncingkan masalah lagi, dan Retno belum siap, aku juga belum siap. Bisa-bisa malah menambah masalah."


"Tapi Retno harus tahu kondisi Alya sekarang, setidaknya kejadian Alya keguguran merubah semua rencana awal Bos."

__ADS_1


"Apa aku salah Mam? setelah Alya keguguran malah meninggalkan Alya begitu saja?"


"Emang Bos masih tetap berniat mau menikahinya?" Dr Imam memandang heran sahabatnya.


"Justru itu yang aku tanyakan."


"Bos! Alya juga sekarang belum tentu mau Bos nikahi, aku yakin itu! dia juga mikir mau jadi istri kedua? apa yang membuat Bos masih berpikir mau menikahi dia? biarkan semua usai dengan sendirinya masalah Alya selesai, pikirkan Retno biar bisa pulang."


"Kadang aku belum bisa mikir apa etikanya seperti ini?"


"Kalau Bos mau punya istri dua, Retno lapang dan Alya nya mau lanjutin!"


"Skak mat aku! jangankan dua, satu aja belum akur sampai sekarang."


"Makanya sudah sana jemput Retno baik-baik, mungkin keadaan dan kondisi Alya sekarang bisa membuatnya tenang, dan batalnya niat Bos menikahinya membuat Retno lebih bisa memahami semuanya. Aku yakin Retno juga kangen, saat hamil biasanya semua wanita ingin lebih dekat dengan orang yang di cintainya."


"Aku masih pikir-pikir Mam, aku nggak tega melihat dia marah-marah, apalagi dia sedang hamil, rasa sayang dan aku sangat menghargainya mengalahkan rasa rinduku ini."


"Kalau nggak, coba telephon lagi! siapa tahu dia bisa menerima telephon Bos dan mau bicara."


"Iya habis sarapan aku nanti telephon."


Mereka makan sarapan yang di pesannya, dr Prabu makan banyak kelihatan lapar banget. Dr Imam tersenyum melihatnya.


"Apa di sana nggak pernah dapat sarapan? kelihatan kemaruk banget!" dr Imam menggoda dr Prabu.


"Sebulan lebih di sana tetap lidah tidak bisa adaptasi, terasa nikmat makanan yang biasa kita makan."


"Kumpulin tenaga biar bisa bicara sama Retno, baru nanti pelan pelan ajak pulang dan jemput."


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2