
"Bu apa salah Intan? kenapa Ibu sama Bapak bersikap seperti itu semalam? harusnya Ibu tidak bersikap begitu, Intan kan tamu di sini, selayaknya kita hargai sebagai tamu!" dr Imam pas pulang ke rumahnya melihat sikap orangtuanya kembali biasa tak seperti semalam menjadikan dr Imam heran sikap kedua orangtuanya seolah tak ada apa-apa.
To The poin pada permasalahan dr Imam langsung bertanya saat keluarga itu biasa makan bersama dan duduk di meja makan, selalu mendiskusikan semua permasalahan baik dokter Imam sendiri juga orang tuanya, keluarga kecil itu selalu bercerita apapun yang dijalani mereka hari itu.
"Makan saja dulu nanti bicaranya," jawab Ibunya sambil duduk di meja makan dan membuka piring untuk diisi makanan.
Dr Imam duduk, tapi tak memperlihatkan kayak orang yang mau makan, tak mengambil piring atau menyentuh makanan, juga menyendok makanan ke dalam piringnya tetapi hanya diam dengan muka ditekuk.
Hatinya luruh di depan Ibunya, tak berani menentang, apa yang telah di ucapkan adalah titah yang harus di patuhi, tapi kalau masalah perasaannya yang di atur nggak mau dr Imam begitu saja menerima akan ada perjuangan sebatas dirinya mampu, aplagi Intan adalah orang yang telah lama kenal diantara perempuan yang dr Imam kenal.
"Makan dulu!" perintah Ibunya sambil menyentong makanan ke piring suaminya yang diam saja dari tadi. Bapak dr Imam seperti orang yang bingung menghadapi permasalahan ini di satu sisi pendapat Istrinya memang benar sepertinya harus ada campur tangan orang tua untuk menentukan masa depan anaknya karena kalau dibiarkan seperti itu tidak ada keseriusan sampai saat ini.
Lebih baik diam saja itu pilihan Bapaknya, mungkin itu pilihan terbaik melihat permasalahan yang ada seperti apa Anaknya menentang dan seperti apa Ibunya memaksakan kehendak.
Dr Imam tetap saja diam, bukannya mau makan dalam keadaan seperti ini, tetapi rasanya ingin segera tahu dan menyelesaikan masalah apa sebenarnya masalahnya.
Ibu dr Imam menatap putra kesayangan yang hanya satu-satunya dan Ibunya pun berhenti mengambil makanan ke piringnya, siap dengan semua jawaban dan pendapatnya.
Menatap lama putra satu-satunya sambil berpikir, lalu Ibunya mulai bicara.
__ADS_1
"Nak, Intan temanmu itu tidak salah apa-apa, di mata Ibu sama Bapak Intan kelihatan anak yang baik sopan pintar masih muda dan juga cantik, Ibu sama Bapak tidak melihat sedikit cela di diri Intan. Yang salah itu kamu sendiri karena telah memberikan rasa trauma kepada Ibu sama Bapak selama ini, Apa rasa trauma itu?
setiap kamu membawa pulang seorang perempuan memperkenalkan pada Ibu dan Bapak semua tidak berakhir dengan harapan Ibu sama Bapak selama ini, satu itu! pertanyaan Ibu kenapa begitu sulitnya mencari kecocokan?" ucap Ibu dr Imam sambil tetap memandang meneliti wajah anaknya yang sudah melebihi masa dewasa.
Dr imam diam, menunggu lanjut ucapan Ibunya.
"Mencari yang seperti apa yang cocok menurut kamu itu Nak? Ibu tunggu tak ada satupun yang kamu katakan pada Ibu sama Bapak kalau kamu saat ini sudah serius dan menemukan yang satu tujuan untuk berumah tangga, bersama Intan juga Ibu melihat mungkin tidak akan berbeda dengan perempuan lain yang pernah kamu kenalkan pada Ibu sama Bapak selama ini, hubungan kalian akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan. Untuk itu sekarang ini Ibu yang akan ambil peranan terbaik buat masa depanmu." Panjang kata-kata Ibunya tapi dr Imam bisa mengerti arahnya.
"Maksud Ibu apa?"
"Ibu telah sepakat menjodohkan kamu dengan saudara jauh yang pasti tidak akan mengecewakan, dewasa, pintar, dan sudah mandiri mungkin Vionna yang akan mengerti kamu dan cocok dengan kepribadianmu." kata-kata Ibunya begitu membuat dr Imam terkejut, tak disangka selama ini Ibunya begitu memperhatikan padahal dirasa dirinya biasa saja kenal dengan seorang perempuan mengenalkan kepada Ibunya dan putus begitu saja, sepertinya hal yang lazim dalam mencari kecocokan dan dianggap dr Imam biasa saja, tetapi di mata Ibu dan Bapaknya entah seperti apa pandangan mereka.
"Aku tidak mau! dan jelas-jelas menolak! sekali lagi aku katakan dan jawab aku tidak mau! kita hidup di zaman modern kenapa Ibu sama Bapak masih menganut paham seperti itu? biarkan Aku yang bertanggung jawab dengan masa depanku biarkan Aku yang menentukan pilihan hidupku sendiri, Aku sama Intan sudah begitu cocok, begitu serius, menunggu Intan kuliah selesai mungkin kami akan mengambil kesepakatan dan menikah." jawab dr Imam elas menentang apa yang dikatakan Ibunya dan diinginkan Ibunya.
"Pokoknya beri Aku kesempatan sekali ini saja, kalau ternyata Aku gagal dengan Intan kali ini Aku akan ikuti kata Ibu sama Bapak, Aku akan nurut apa yang Ibu inginkan." suara dr Imam begitu bergetar kedengarannya.
"Haruskan Ibu sama Bapak percaya dan untuk kesekian kalinya dikecewakan lagi? Ibu tahu siapa Intan adik teman mu dan atasanmu kan? tapi itu semua tidak menjamin apalagi Intan masih anak kuliahan belum dia menginginkan bekerja dulu selesai kuliah, jadi sampai kapan kamu mau seriusnya? Sampai kapan Ibu menunggu? dengan siapa kamu akan berumah tangga?" tambah Ibunya semakin menjelaskan kalau pilihannya tidak salah.
Dr Imam terhenyak, Vionna, Vionna, dan Vionna sambil mengingat ingat satu nama yang Ibunya sebut barusan. Siapapun Vionna dr Imam telah begitu cocok dalam segala hal dengan Intan mereka telah sepakat membikin satu janji cinta mereka di atas segalanya.
__ADS_1
Vionna, jelas dr Imam lupa nama itu dan memang tak ingat juga nggak mau tahu, karena hanya Intan di hatinya.
"Ibu, tolong jangan bikin kesepakatan dulu dengan siapapun, kali ini Imam serius dengan Intan, Aku malah merasakan tidak akan cocok dengan orang yang baru, adaptasi lagi, sungguh Aku tidak bisa seperti itu."
"Setidaknya di coba dulu, keluarga mereka akan berkunjung ke sini lusa, kamu harus ada di rumah jangan kecewakan mereka juga Ibu sama Bapak."
"Ibu! kesepakatan seperti apa ini? Aku merasa dijebak Aku merasa digiring pada hal yang belum Aku kenal padahal Aku sendiri tak menginginkan, Aku sudah punya planing sendiri mampu mencari seseorang yang bisa jadi teman hidupku," dr Imam berdiri sambil kelihatan marah.
"Duduk! Ibu sama Bapak adalah orangtua di sini!
"Vionna tak kalah berkualitas dari siapapun, Ibu jamin itu! pasti akan cocok sama kamu, walaupun Viona sama bekerja dengan posisi yang sudah jadi manajer satu perusahaan bonafid, tetapi Ibu percaya Vionna bisa jadi teman hidupmu yang akan mengerti dan cocok." ucap Ibunya tak menerima alasan apapun lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️