Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Rekomendasi Intan


__ADS_3

"Besok rapat lagi, banyak bahasan yang tertunda, apa Intan mau lama di sini? Aku sih senang saja ada Intan di sini karena Retno ada temannya kalau memang lagi santai tapi kalau masih merenggut begitu gimana? biasanya Dia selalu menutup diri," ucap dr Prabu sambil tersenyum.


Dr Imam juga sama menyunggingkan senyum memang susah susah gampang menyelami hati dan memasukan pengertian pada kaum perempuan, selalu saja ada perbedaan.


Apalagi dr Imam banyak yang harus dilakukannnya semua berhubungan langsung dengan perempuan, berhadapan dengan Intan jelas memerlukan kesabaran, Vionna yang selalu menggodanya, datang lagi Alya yang tak jelas maksud dan tujuannya mungkin tujuannya Bos Prabu tapi pada dirinya juga sama saja, dan satu yang paling susah adalah Ibunya sendiri.


Keinginan yang kuat dari Ibunya membuat dr Imam tidak bisa berkutik, menolak menemani Vionna itu adalah satu kesalahan dan menolak kehadiran Vionna itu adalah menentang tetapi bagi dr Imam harus ada waktu yang tepat dan menyempatkan diri untuk bicara yang sejujurnya pada orang tuanya juga, seperti yang dituntutkan Intan selama ini memang Dirinya belum begitu tegas terhadap orang tuanya tentang prinsip dan pilihannya.


"Rapat apa Bos? rasanya Aku mau ngambil cuti saja tapi nggak mungkin selama ada Vionna di sini gimana tanggapan Intan nanti, rasanya pengen cepet Vionna pulang biar Aku bisa nafas dengan lega," ucap dr Imam sambil menarik nafas berat.


"Aku pengen cepat mendengar suara forum tentang penawaran Walikota lewat Alya kalau Rumahsakit kita ditawari untuk menjadi anggota di yayasannya sebagai penyumbang tenaga entah itu akal-akalan tetapi karena Aku mempertimbangkan dan melihat kalau Walikota yang sudah merekomendasikan sepertinya perlu pertimbangan juga karena kita berada di wilayahnya, tetapi melihat sikap Alya selama ini Aku menjadi ragu. Semua itu harus diputuskan dalam rapat. Aku juga kalau bilang lagi banyak masalah yang lain sebenarnya. Aku pengen istriku cepat melahirkan dan bisa kerja lagi, Jadi kami bisa sama-sama saling memberi dukungan tidak menimbulkan kecurigaan satu sama lain masalahnya kalau Retno pengen melahirkan di Pekalongan bagaimana?" ucap dr Prabu sambil geleng-geleng kepala.


"Kenapa malah ingin melahirkan di Pekalongan."


"Mungkin ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dia ingin fokus dan tenang pada kelahirannya pada kehamilannya itu bisa dipahami, Karena Retno merasa di sini tak memberinya kenyamanan, masalahnya saat pergi ke pasar dia bertemu Alya secara tidak sengaja memang itu biasa tapi Alya selalu tidak jelas entah berkata apa pada Retno waktu mereka di pasar itu, kemungkinan pasti yang menyinggung hatinya."


"Maksudnya mereka ketemu di pasar? itu seperti apa?"


"Alya memang begitu setiap ada kesempatan orang yang dibenci walaupun tujuannya padaku mungkin, istriku juga menjadi sasarannya dia mengatakan hal-hal yang tidak patut untuk dikatakan menyangkut masa lalu dan segala macam jelas Retno meradang datang ke rumah sedangkan Aku nggak tahu masalahnya sudah Aku sarankan dengan segala pertimbangan Aku ingin dia melahirkan di sini tapi dia malah memberikan pilihan lain apa yang dia pilih coba dia mau pindah rumah sakit!"

__ADS_1


"Kenapa sebegitu nya?"


"Mungkin menurut pandangan Dia kalau pergi ke rumah sakit TMC akan bertemu Alya seperti kejadian yang tidak diperkirakan waktu itu yang waktu dr Imam tinggalkan Aku di rumah makan itu kan Retno datang memergoki Aku sedang berdua dengan Alya. Padahal waktu itu juga Aku ingin segera pergi ingin segera mengakhiri pembicaraan dan tidak ingin duduk berlama-lama tetapi keadaan kan berbicara seperti itu pikiran Retno sudah lain lagi memandangnya."


"Kalau bisa jangan dong melahirkan di sini saja bagaimanapun caranya Aku juga ingin membujuknya. Aku merasa berhutang banyak terhadap Retno ingin menebus kesalahan dulu dan juga memenuhi janjiku sendiri janji persahabatan Kami," ucap dr Imam merasa dirinya begitu dekat dan kenal baik dengan Retno sejak melakukan KKN di rumah sakit ini dan mulai konflik setelah pertemuan dengan dr Prabu.


"Dia nggak mau dokternya Kamu lagi!" sahut dr Prabu dengan datar setengah bercanda.


Dr Imam diam, semua kejadian kurang lebih satu tahun yang lalu terlintas di ingatannya saat Retno konflik dengan dokter Prabu yang kini jadi suaminya melakukan keegoisan menekan Retno mungkin dirinya yang jadi penolong saat itu tetapi akhirnya terbongkar juga dan Retno menyangka dirinya juga sekongkol, lucu memang.


Tadinya dokter Imam ingin berkonsultasi dengan Retno tentang masalahnya dengan Intan tetapi kalau keadaannya seperti ini sepertinya tidak memungkinkan, apalagi Retno menyatakan ingin melahirkan di Pekalongan dan ingin pindah dokter juga rumah sakit, itu adalah satu hal yang besar seorang Istri direktur satu rumah sakit ingin melahirkan di rumah sakit lain tetapi masih di wilayah sini itu suatu keanehan.


"Mungkin juga makanya Kita harus hati-hati dalam memutuskan di rapat juga sejauh mana kepentingannya karena kita juga kan sudah punya Yayasan yang kita sokong jadi segi biaya dan juga tenaga, Jadi untuk apa menambah beban lagi kalau semua hanya untuk memperlihatkan kemampuan Kita, Padahal pada akhirnya takut juga kalau suatu saat kita dibutuhkan pelayanan di Rumahsakit ini harus terganggu." Ucapan dr Prabu memang sangat di mengerti.


"Iya Bos, satu lagi tolong beri Aku ruang dan kesempatan satu kali saja untuk bicara sama Retno, dan titip Intan di sini sebenarnya kalau ada Intan di sini Aku merasa tenang setiap saat Aku bisa bertemu dan menengoknya tetapi yang menjadi masalah di rumahku ada seseorang yang selalu menguntit ingin pergi ke sini ingin pergi ke sana dan itu mendapat dukungan penuh dari orang tuaku sepertinya Aku harus bersikap seperti apa bos?" Dr Prabu seperti mengeluh.


"Ajak saja Intan ke rumah sakit mendampingimu sekalian Aku rekomendasikan Dia praktek di ruanganmu bagaimana? nanti Aku tanya Intan nya sepertinya kalau dia tinggal di Bandung merasa cemas pacarnya diambil orang itu sangat manusiawi." Dr Prabu menawarkan.


"Boleh juga, malah Aku merasa senang," jawab dr Imam merasa antusias.

__ADS_1


"Aku percaya padamu dokter SpOG!"


"Hahaha.... sepertinya kalau bicara sekarang bisa nggak sama Intan?" Akhirnya dokter Imam bisa tertawa juga.


"Waktu berkunjung Kamu sudah habis dokter, ini sudah malam! lagian Kalian sepanjang hari sudah lama berdua!"


"Wah, kalau itu tidak benar dong Aku datang ke bandung setelah dhuhur aku izin maksa sama ibu suster kepala Miranti, Baiklah kalau begitu keputusannya sekarang Aku pamit sampaikan salamku kepada intan dan besok ditunggu di ruang praktekku."


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2