
Pagi-pagi Intan sudah berkemas dan dr Prabu hanya memandanginya, terasa akan ada yang hilang dari kesehariannya setelah hampir sebulan Intan liburan di tempatnya.
Tak ada yang bisa di pinta pendapatnya, juga tak ada yang suka cemberut karena merasa kesal dengan kesibukannya.
Intan sudah dewasa bahkan sebentar lagi lulus, sekarang malah sudah dengan terang-terangan dan tak malu lagi terbuka minta izin punya kekasih.
Semua begitu tak terasa bagi dr Prabu, sedangkan dirinya masih saja jalan di tempat sementara adiknya Intan telah jauh melampaui dirinya, menunjukkan perubahan yang begitu besar di dalam masa dewasa kehidupannya.
Waktu memang begitu cepat berlalu, meninggalkan kenangan dan membuka harapan baru, menggilas melewati semua suka dan duka manis dan pahit kehidupan semua hanya akan menjadi cerita. Dr Prabu sendiri seakan belum keluar dari permasalahannya, apalagi sekarang ditambah dengan masalah baru dengan Alya.
Satu kecemasan dan ketakutan nya dimana suatu saat Retno tahu kalau dirinya dengan Alya pernah terjadi satu kejadian yang sangat tidak enak, tak bermoral, tak baik di ucapkan di dengar apalagi di lihat, yang sangat memalukan dan sekaligus sangat aib bagi sebagian orang.
Semua itu satu yang tak bisa dihapus dari kehidupannya, menjadi satu catatan hitam dalam perjalanan hidupnya.
"Kak Prabu kok malah melamun?ayo dong mandi kan Intan janjiannya sama Mas Imam di rumah sakit enggak nyamper ke sini, jadi sekalian Kak Prabu ke rumah sakit aku ikut dan nanti berangkat dari rumah sakit."
"Oh iya Intan, perasaan aku males banget padahal harusnya semangat ya, juga sore nanti aku turun di turnamen dan besok Retno."
Intan memandang kakaknya dengan perasaan kasihan, entah apa yang harus dirinya lakukan untuk membantu mencarikan jalan keluar yang menjadi permasalahan kakaknya sekarang ini.
Memang benar seperti apa yang diucapkannya Kak Prabu punya masalah yang sangat bertumpuk-tumpuk dan susah untuk diselesaikan menurut pikiran Intan.
Masih menurut pikiran Intan butuh satu-satu penyelesaian untuk menyelesaikan masalah Kak Prabu. Satu masalah Retno dan keinginannya untuk menuju ke arah yang lebih serius dengan melamarnya kembali.
Dua mungkinkah sesuatu yang terjadi dengan Alya belum lama ini tidak akan berbuntut panjang? dan pasti akan berdampak pada hubungannya dengan sang kekasih Retno. Sungguh Intan tidak tahu akan seperti apa lagi masalah yang menimpa Kakaknya tapi semoga semua ada jalan penyelesaian nya.
"Intan, coba duduk dulu masih pagi ini Kakak mau bicara dulu serius sama kamu."
"Soal apa Kak?"
"Ada beberapa yang ingin Kakak sampaikan kepadamu menyangkut diri kamu dan juga diri Kakak sendiri."
Tanpa bicara lagi Intan duduk di hadapan Kakaknya yang masih kelihatan begitu kusut sehabis bangun tidur belum mandi, tapi kelihatan begitu serius dan Intan tidak berani membantah siap untuk mendengarkan.
"Kakak hanya ingin meyakinkan saja kepadamu. Karena Kakak merasa bertanggung jawab juga atas hubungan kalian Intan dengan dr Imam sahabat Kakak."
Intan diam menyimak.
"Kakak hanya ingin mendengar dan melihat keseriusan kamu menjalin hubungan dengan dr Imam, Kamu mungkin mengerti maksud Kakak jangan jadikan ini hanya sebagai permainan dan coba-coba jadikanlah hubungan yang sehat dan serius. Dr Imam sudah dewasa seperti Kakak, kalau dibilang sudah mapan, dewasa dalam segala hal pasti tidak ingin mencari hubungan hanya sekedar pengisi waktu saja camkan itu."
__ADS_1
Intan mengangguk mengerti apa yang diucapkan Kakaknya, dapat dipahami juga walaupun tadinya Intan tidak berpikir sejauh Itu Kakaknya akan begitu serius menanggapi hubungan dirinya dengan dr Imam.
"Untuk masalah aku Intan tolong jangan sampai nembus kepada Bapak sama Ibu, aku sebagai anak paling gede dalam keluarga yang seharusnya memberi contoh baik terhadap adik-adiknya tapi tapi aku telah gagal, dan kegagalan itu pengennya jangan di contoh sama kalian adik-adiku."
"Kakak jangan bicara begitu, Kakak tidak gagal hanya keadaan yang memaksa seperti itu. Semua orang juga bisa berontak, bisa marah, saat terhina dan tersakiti."
"Aku tak tahu Intan, yang pasti aku telah melakukan kesalahan dengan kemarahanku."
"Sudahlah Kak semoga Kak. Semoga Mbak Retno bisa sependapat denganku, bisa menerimanya dan mengerti, Kak Prabu harus bisa meyakinkan Mbak Retno bagaimanapun caranya."
"Ya ya ya...semoga saja aku bisa melewatinya."
Intan menunduk seperti dirinya juga merasa terpuruk mendengar permasalahan Kakaknya dan melihat betapa kusutnya Kakaknya.
"Cukup sampai kamu saja kabar ini, Kakak akan mencari penyelesaiannya sendiri yang menurut Kakak paling baik untuk semuanya."
"Iya Kak, semoga masalah Kakak cepat selesai."
"Iya Intan, Kakak minta maaf kakak telah melibatkan kamu dalam permasalahan Kakak, tapi setidaknya Kakak bisa berlapang hati bisa ada teman untuk berbagi di saat masalah lagi menghimpit Kakak."
"Intan yakin Kak Prabu bisa menyelesaikan dengan baik dan bijaksana."
"Mbak Retno sekarang di mana Kak, biar Intan bisa pamitan sekalian."
"Retno sekarang pasti sudah di Bandung, kamu sudah tahu alamatnya dikasih tahu belum?"
"Sudah Kak, nomor telephonnya juga."
"Ya Intan, hanya itu yang ingin Kakak sampaikan kepadamu. Kamu di Bandung kalau ada waktu temuilah Retno kalian bisa menjadi teman baik."
"Iya Kak."
"Kamu perlu teman seperti Retno untuk bisa mengambil pelajaran dari segala kebaikannya, juga untuk mendewasakan kamu."
Terasa masuk semuanya apa yang diucapkan Kakaknya dan Intan menyadari satu kesalahan yang dibuat Kak Prabu Kakaknya mungkin karena benar-benar dirinya merasa kepepet dan emosi tingkat tinggi saat itu.
Intan yakin Kakaknya orang terbaik yang sangat di kagumi nya. Mungkin juga di mata semua orang, selain tampan, bertitel dan jabatan yang lumayan membuat mata dan cewek-cewek gagal fokus. Tapi kenapa selalu ada yang memanfaatkan, hanya untuk kepentingan pribadi dan ambisi yang tak terkendali.
Intan tercenung sendiri saat Kakaknya naik menuju tangga untuk mandi, akan menjadi bahasan antara dirinya dan Mas Imam nanti dan semoga saja Mas Imam sebagai sahabatnya bisa memberikan, menyumbangkan ide terbaiknya untuk permasalahan Kakaknya.
__ADS_1
"Ayo Tan, siap?"
"Oh, I- iya Kak."
"Hai, sudah pamitan sama Pak Min juga Bi Iyah?"
"Heeee... belum Kak,"
"Sana pamitan dulu, diantar di jemput, di masakin sama Bi Iyah juga Pak Min masa nggak ada basa-basi nya?"
"Iya Kak."
Sebelum Intan menemui mereka Pak Min dan Bi Iyah sudah duluan menghampiri Intan dan dr Prabu, Bi Iyah kelihatan sangat sedih dan pasti akan kehilangan, apalagi saat Intan pamitan dan menitipkan Kakaknya kalau Pak Min dan Bi Iyah jangan bosan-bosan untuk mengingatkan soal makan dan bangunkan saat pagi.
"Maafkan Intan ya Bi, juga Pak Min, Intan selama di sini sudah merepotkan Bibi sama Pak Min."
"Enggak Neng, malah Bibi senang Neng ada di sini rumahnya jadi ramai."
"Do'ain saja Bi Kak Prabu, nanti juga akan ramai dengan sendirinya."
"Iya Neng, Bibi selalu berdo'a yang terbaik buat Pak Prabu."
"Makasih ya Bi, Pak Min."
"Sama-sama Neng, semoga selamat dan lancar sampai tujuan."
"Iya, Bi makasih banyak ya Intan pamit sekarang."
Bi Iyah dan Pak Min mengantar Intan sama dr Prabu sampai ke halaman dan membukakan pagar, perlahan mobil keluar dan berjalan di jalan komplek perumahan dan hilang di kejauhan.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta habis baca 'Biarkan Aku Memilih' jangan lupa mampir ke karya anak bangsa, sahabat terbaikku yang paling hebat yaitu,
'Kekasihku Kekasih Ibu Tiriku'
Karya apik Author Mama Reni, jangan lupa kunjungi, baca, like dan vote nya di tunggu, selamat mengikuti
__ADS_1