Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Pemain pembuka


__ADS_3

Siang hari


"Mbak Retno grogi ya? akan main di babak penyisihan pertama dan akan jadi tontonan banyak orang?"


"Aku biasa aja Ella, cuma aku belum tahu mana orang yang akan jadi lawan aku, jadi aku belum bisa mempelajari karakter orang nya."


"Mudah-mudahan pembukaan nya nggak lama-lama jadi kita bisa langsung ke arena." Ella nggak sabar.


"Ayo kita lihat di struktur sistem permainan, aku mau lihat siapa siapa hasil kocokan lawan-lawan di tunggal putri." Retno dan Ella meneliti semua diagram dan benar saja dirinya main di awal habis pembukaan yang sebenarnya Retno telah mendapat pemberitahuan sebelumnya.


"Banyak juga yang ikut Mbak Retno."


"Iya lah di rumah sakit ini aja dari semua divisi sudah berapa? staf, kedokteran, keperawatan, security, juga tambah dari KKN sudah pasti banyak di tiap nomor, belum dari luar rumah sakit ini dari Bank, dan dari kantor-kantor lain yang ingin berpartisipasi."


"Lawan Mbak Retno nanti siapa itu?"


"Aku nggak tahu."


"Coba lihat di tunggal putra Pak Prabu sama dr Imam ada nggak, kata gossip partai final nggak seru kalau bukan pasangan itu heee..."


"Kata siapa Ella?"


"Kata gossip."


"Kan sudah aku katakan kemarin kemarin, kalau Mas Prabu itu dulu bintang saat zamannya di kampus."


"Memang hobby kalian sama sama di olahraga ya?" Retno hanya tersenyum.


Dan seremoni acara pembukaan segera di mulai dan sambutan, visi misi, tujuan di laksanakan event, tak lain untuk mengasah kegemaran menggalakan olahraga di lingkungan rumah sakit dan umumnya di lingkungan sekitar dan lain-lainnya.


Retno memandang Mas Prabu yang lagi menyampaikan sambutannya dengan lugas. Narasi yang di keluarkan tanpa teks seperti sudah di hafalnya di luar kepala, rasa cinta yang tumbuh di hatinya sejak dulu berawal dari orasi-orasi Mas Prabu yang membikin semua orang berdecak kagum, juga selain berawal dari insiden kecil tidak sengaja menumpahkan makanan dan minuman ke jaket Mas Prabu.


Retno terkenang saat itu saat indah menikmati rasa cintanya dengan seorang Prabu Seto Wardhana, couple bintang kampus julukan buat mereka, harus berakhir di dua tahun Retno menginjak masa kuliah yang berawal Mas Prabu ingin mengikat dirinya lebih serius, yang pada akhirnya membuahkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan masing-masing dan semua berantakan berakhir dengan perpisahan tanpa kata.


Diakui Retno semua tiada yang bisa disalahkan ketiadaan komunikasi membuat semua pihak berprasangka buruk, dan akhirnya hanya menyisakan luka di hati masing-masing dengan perasaan yang belum berakhir.


Retno memandang dokter Prabu dengan perasaan kagumnya setiap dulu Mas Prabu lagi berorasi dan melirik pada dirinya Retno selalu menyemangatinya dengan mengacungkan kedua jempol nya, Dan sekarang masa-masa itu seakan kembali lagi dengan suasana yang berbeda Mas Prabu lagi memberikan sambutan di podium utama sebagai Direktur rumah sakit yang menyelenggarakan event ini dan saat melirik kepada Retno dengan semangatnya Retno mengacungkan kepalan tangan nya sembari tersenyum.


Senyum tersungging di muka dr Prabu melihat sang kekasih menyemangatinya, kebahagiaan menjalar didalam hatinya semangat yang tumbuh kembali setelah sekian lama menghilang dari diri mereka masing-masing.


Retno bersama Ella berjalan ke ruang ganti sambil membawa tas dan bertemu dengan tim KKN lain yang mengirimkan juga di nomor ganda putri, mereka mengobrol bersama bahas strategi permainan dan diskusi tentang permainan mereka dan satu lagi Retno bertemu dengan seorang Rendra partner dua kali latihannya.

__ADS_1


"Hai Retno."


"Hai juga, Mas Rendra."


"Maafin saya ya, waktu kejadian itu."


"Nggak apa-apa, kalau lagi ada masalah sama kekasih emang bawaannya emosi heee..."


"Ikut turnamen juga rupanya ya?" Retno mengalihkan.


"Pengenalan lingkungan." Rendra menjawab.


"Semoga harinya menyenangkan."


"Terimakasih Retno, kamu baik dan sangat cantik hari ini!"


"Wow terima kasih Mas, siang siang dapat pujian heee..."


"Aku lihat di jadwal tadi kamu main di pembukaan ini ya?"


"Iya Mas Rendra, makanya aku agak grogi."


"Tenang aja aku support dari kursi penonton ya, semoga lancar dan maju terus."


"Oh, hanya dua orang sama itu tunggal putri lawan main kamu sekarang, Dessy teller di Bank kami,"


"Masa Mas?"


"Iya Retno!"


"Heeeee...gimana Mas Rendra mau jadi supporter aku, kalau lawan aku hari ini adalah di pihak Mas Rendra sendiri?"


"Tapi aku seneng sama kamu boleh kan aku mengidolakan kamu dan jadi fans kamu Retno?"


"Oh eh... aku bo-boleh aja Mas tapi gimana tanggapan orang?"


"Aku nggak memikirkan itu, semua dukungan bebas ke mana aja."


"Ya ya ya..." Retno jadi bingung sendiri, orang kok aneh banget kok malah mendukung dirinya bukan yang dari utusan Bank nya sendiri apalagi Mas Rendra adalah kepala pimpinan cabang Bank itu, dunia sudah terbalik.


Retno pamitan mau ganti kostumnya, dan berpamitan pada Rendra yang memandangnya dengan pandangan aneh seolah Retno seorang baru di lihatnya.

__ADS_1


"Ganteng juga Mbak Retno siapa tadi namanya?" Ella sekali lagi melirik Rendra yang berjalan ke kursi penonton.


"Rendra Kepala Pimpinan Cabang Bank BAC itu yang sebrang rumah sakit ini"


"Wow, sepertinya yang mencuri perhatian Mbak Retno adalah nggak ada buntutnya semua pada kepala-kepala haaa..."


"Maksud kamu apa?"


"Iya semua orang yang kata gamblangnya naksir sama Mbak Retno semua kepala, Pak Prabu kepala pimpinan alias direktur di rumah sakit ini, tuh yang barusan aku lihat kecantol juga hatinya kepala Bank BAC ternama belum lagi yang di Bandung Arya Wibowo itu kepala juga kan?"


"Hush...kamu ini, sudah sudah, pake absen nama-nama orang segala!" dan Ella hanya tersenyum.


Mereka berjalan ke ruangan atlit berupa satu ruangan atlit dengan persiapan sebelum masuk ke arena permainan, dan di situ ada yang mengarahkan dan pencocokan data masing-masing atlit atau pemain.


Dr Prabu sudah lama selesai menyampaikan sambutannya sebagai Ketua dewan pembina dan penanggung jawab acara, dan menyampaikan visi misi tujuan dan lain lainnya dan telah di gantikan sama sambutan ketua pelaksana.


Retno mengintip sedikit ke dalam gedung olahraga yang lumayan banyak penonton dan tamu kehormatan di panggung paling depan, tapi tak kelihatan Mas Prabu di situ atau belum menempati tempatnya mungkin.


Partai pembuka selalu di awali dengan permainan tunggal putri sebagai tontonan yang sangat menarik, walaupun Retno sendiri nggak tahu apa keharusan atau sekedar menjual saja agar banyak penonton dan acara jadi meriah.


Di pengeras suara terdengar pembawa acara atau komentator sedang menyampaikan instansi yang ikut andil di turnamen ini jumlah seluruh anggota mencapai sekian dan peningkatan luar biasa dari tahun sebelumnya, juga tak lupa ada mahasiswa yang lagi KKN juga ikut andil meriahkan acara ini, dan sebagai penggembira juga direktur rumah sakit ini juga akan turun ikut memeriahkan acara yang sebentar lagi akan di mulai.


Retno dan Dessy memasuki arena dan tepukan riuh saat komentator menyebutkan satu persatu biodata pemain, diantaranya prestasi Retno yang pernah di capai nya dan utusan dari Bandung Medical Center juga dari Akademi Bina Potensi.


Luwes memang Retno si bintang kampus dengan prestasi di bidang olahraga terutama olahraga raket dan shuttlecock ini, selain prestasi yang membanggakan di olahraga yang di mulai dari hobby nya juga Retno bak artis dengan muka yang begitu menarik ayu dan yang paling menonjol paras jelita, otomatis semua berkaitan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi yang melihatnya.


.


.


.


Jangan lupa ikuti dan kunjungi juga novel karya Enis Sudrajat lainnya ya :


❤️ Pesona Aryanti (end)


❤️ Meniti Pelangi (on going)


❤️ Biarkan Aku Memilih (on going)


Up setiap hari

__ADS_1


Salam !


__ADS_2