
Dr Prabu turun kelihatan sudah mandi lalu memeluk Retno yang duduk sebelahan dengan Intan, mengusap perutnya dan mencium pipi dan kepalanya lalu duduk di sebelahnya.
"Gimana Tan? besok aja pulangnya ya, biar Aku kasih tahu dulu dr Imam kalau dr Imam mau ketemu dulu sebelum pulang katanya," ucap dr Prabu di tujukan pada Intan.
"Memangnya Dia sempat?" tanya Intan sambil datar dan dingin nada bicaranya.
"Buat kekasih semua di sempat-sempatkan asal jangan lagi di ruangan operasi pasien di tinggalkan begitu saja itu namanya melanggar etika profesi." ucap dr Prabu membuat Retno tersenyum dengan canda ucapan suaminya.
"Garing tahu Kak!" Intan bukannya tertawa malah tetap saja manyun. Retno melotot merasa bukan saat bercanda, sepertinya Intan lagi ingin serius.
Malah dr Prabu yang ngakak sendiri. Tapi melihat Retno melotot memberi kode serius akhirnya diam juga.
"Dih, Kak Prabu seperti tertawa di atas penderitaan orang lain deh, sebel Aku!" ucap Intan sambil mau berdiri masuk lagi ke kamarnya. Tapi dr Prabu sekilat mengambil meraih tangan Intan dan mendudukkan kembali di tempatnya.
"Intan dengar dulu Aku belum bicara sama kamu, Aku tidak bermaksud seperti itu, Aku hanya ingin mencairkan suasana saja, jangan menganggap Aku sebagai Kakakmu tidak perduli makanya Aku sekarang mau bicara." ucap dr Prabu sambil menatap Adiknya yang sudah dewasa.
Intan diam memandang Retno sama Kakaknya bergantian.
__ADS_1
"Intan, semua masalah perlu penyelesaian dan penyelesaian itu seandainya tidak bisa diselesaikan sendiri mintalah saran sama orang lain, atau dengarkan saran orang lain siapa tahu ada yang bisa kamu pahami ada yang tidak kamu pikirkan tetapi terpikirkan sama orang lain, mungkin di situ sebagai jalan keluar dari permasalahan apapun termasuk permasalahan kamu yang senang dihadapi sekarang ini." panjang dan masuk akal semua ucapan dr Prabu pada Intan.
Intan diam juga Retno ikut menyimak tiap kata berarti yang keluar dari pemikiran suami tercintanya.
"Kakak tahu Kamu sudah memahami permasalahan yang sebenarnya. Menurut Kak Prabu mungkin seperti itu sikap orang tuanya dr Imam itu bukan di tujuan kepada Intan, tetapi kepada anaknya sendiri dr Imam, itu hanya untuk peringatan karena sebagai orang tua semua juga berharap lebih baik mungkin saatnya dr Prabu akan serius dengan Intan tetapi orang tuanya punya pemikiran lain dan punya rencana lain pada dr Imam di situlah masalahnya," ucap dr Prabu dengan sangat hati-hati juga perlahan berharap Intan mau memahami permasalahan bukannya malah ingin menyelesaikan masalah sendiri.
"Tapi Intan tak yakin orangtuanya bisa menerima Intan Kak, jadi buat apa semua di pertahankan?" sela Intan dengan pendapatnya.
"Kata siapa? bukankah baru pendapatmu saja? semua belum terbukti karena belum dicoba. Dr Imam yakin kalau dirinya bisa meyakinkan orang tuanya suatu hari nanti kalau Intan adalah yang terbaik buat masa depannya, juga kalau dirinya bisa bicara dari hati ke hati dengan seseorang yang dikenalkan pada dirinya nanti yang disebut saudara jauhnya. jadi cobalah Intan mengerti posisi dr Imam bukan berarti Kakak membela sebagai sahabat, tetapi melihat permasalahan kalian Kakak harus berada di tengah-tengah. Kakak menyayangkan hubungan kalian kalau harus berakhir begitu saja hanya karena salah pengertian, Kakak nggak ingin seperti itu maunya semua berjalan lancar." Sangat bijaksana semua omongan yang si ucapkan dr Prabu, masuk akal dan vjsa di pahami.
"Apa salahnya menunggu, sabar itu tanpa batas, beri support dr Imam bukan malah menambah bebannya cukup itu saja, kalau sudah jodoh semua pasti di beri jalan percaya sama Kakak semua akan baik-baik saja."
Sepertinya Intan bisa menerima apa yang di ucapkannya, dr Prabu tersenyum.
"Sekarang terima kalau dr Imam telepon sana, dan besok temui dulu sebelum Intan pulang ya!"
Intan masih sedikit manyun dan beranjak ke kamarnya.
__ADS_1
"Hai, makan dulu baru masuk kamar! dr Prabu memanggil Intan, tapi Retno memberi kode kalau Intan sudah makan.
Dr Prabu sama Retno duduk di meja makan berdampingan, mereka di layani Bi Iyah, diajaknya Bi Iyah makan bareng tapi menolak karena sudah tadi pada saat Pak Min makan Bi Iyah jadi menemaninya.
.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1