
"Pagi dok!"
"Pagi juga Intan Sayang," jawab dr Imam sambil tersenyum menghampiri Intan yang lagi membereskan kartu pasien.
"Kenapa harus pake Sayang? malu tahu Mas kalau kedengaran orang ini kan suasana kerja bedain dong kalau lagi berdua Aku tak melarang!" sewot ucapan Intan pada dr Imam.
"Malu sama siapa? Kita juga ini lagi berdua kok!" Dr Imam tertawa saja.
"Ih Mas, kalau ada orang tiba-tiba masuk gimana? sana ah geser dikit!"
"Kamu sebentar lagi jadi istriku Intan, jadi kenapa dekat aja nggak boleh?" ucap dr Imam tersenyum memperlihatkan gigi yang begitu rapi di hadapan Intan.
"Bukan nggak boleh Mas, tapi lihat-lihat dulu dong tempatnya di mana? kebiasaan banget!"
"Sebentar Intan, ucapin selamat paginya dengan pelukan hangat sebentar saja, Aku mau peluk Kamu kangen tahu semalam nggak ketemu!"
"Ih, Mas ada-ada aja!"
"Memang Aku mau kalau Kamu nggak mau Aku paksa. Sebentar saja kok habis itu Kita langsung kerja!"
Dr Imam menarik Intan sampai tubuh mereka berdiri tak berjarak muka mereka begitu dekatnya, baru saja mau menyentuh bibir Intan pintu terbuka.
Berdua kaget dan merenggangkan pelukan mereka, Intan malu tapi dr Imam bersikap biasa saja.
"Eh, dr Imam maaf mengganggu dulu prakteknya. Pagi-pagi sudah berduaan di ruangan tertutup! pokoknya luangkan waktu karena istriku mau periksa dan konsultasi juga di sini, masukkan antrian Tan tadi suster Erna lagi nggak ada di luar apa masih di ruangan suster jaga ya?"
"Oh dengan senang hati Pak Prabu, Apa Bu Retno sudah ada di sini?" dr Prabu yang menjawab.
"Sudah lagi sarapan dulu di ruanganku. Satu lagi sarapan kalian jangan berdua di dalam ruangan, carilah sarapan sehat!"
Dr Imam tertawa Intan memerah mukanya dan dr Prabu berlalu tanpa melihat wajah Intan yang menunduk.
"Baru saja di bilangin!" semprot Intan dengan mendelikkan matanya.
"Iya Intan Sayang, maaf tapi nanti habis makan siang ganti ya?"
"Ganti apaan?"
"Ganti kan barusan nggak jadi ciumannya!"
"Mas! yakinkan dulu kedua orangtuaku nanti di rumah lalu setelah sah semua buat Mas!"
"Wow begitu menggoda dan begitu semangatnya Aku Intan tak sabar banget, tapi nanti ke rumahku dulu ya ingat apapun penyambutan orangtuaku jangan di masukkan ke hati yang Kamu cintai adalah Aku kita sudah sepakat akan melewati semua ini bersama-sama."
__ADS_1
Intan mengangguk dan membuka pintu terlihat Suster Erna lagi menimbang bandan salah satu Ibu hamil yang baru datang.
***
Retno kebagian antrian terakhir datang dengan dr Prabu melakukan pemerikasaan juga USG.
"Semua baik baik saja Bu Retno, berat bayi sesuai usia kehamilan, jenis kelaminnya jelas sepertinya gen Bapaknya yang lebih dominan pasti jagoan ganteng seperti papanya, tensi normal ada keluhan tidak?" dr Imam memandang wajah Retno yang berdiri di hadapannya setelah turun dari pembaringan dan Intan membersihkan gel di perut bagian bawah Retno.
"Justru itu keluhannya sakit di bagian mana Sayang?" ucap dr Prabu sambil membimbing retno duduk kembali di kursi.
"Hanya pinggang saja yang sakit dok yang lainnya biasa saja selain bertambah berat saja rasanya perut ini."
"Itu normal Bu Retno adaptasi dari tidak ada beban jadi ada beban di aktivitasnya jelas memberikan efek tidak nyaman bagi Ibu hamil, di tambah beban Papanya yang pasti dengan banyak alasan selalu nuntut iya kan?"
Retno tersenyum melirik suaminya mendengar gurauan dr Imam, dr Prabu melotot pada dr Imam.
"Selagi nyaman tak ada keluhan berarti nggak apa-apa, coba cari posisi yang paling enak dan favorit begitu saja solusinya. memasuki usia 9 bulan mulai minggu depan ya masih banyak waktu Pak Prabu!" seloroh dr Imam pada sahabatnya.
Intan mengantar Retno keluar dr Prabu sama dr Imam masih saja bicara berdua.
"Slow dikit Bos di usia kandungan memasuki 9 bulan!"
"Malam tadi memang terlalu bersemangat karena melihat Retno nyaman-nyaman saja Aku minta tambahan paginya salah ya?"
"Sok tahu Lo kayak sudah pengalaman saja! baru saja Lo mau proses!"
"Hahaha...."
Dr Prabu keluar masih diiringi tawa dr Imam.
"Apa sih yang bikin kalian tertawa? apa anehnya?" tanya Intan pada dr Imam setelah kakaknya juga Kakak iparnya berlalu.
"Nanti saat Kamu hamil akan tahu Sayang!" ucap dr Imam sambil tersenyum.
"Ayo Mas Aku nggak sabar ke rumahmu nanti kan kita ke Bandung."
"Sabar Intan Kita makan dulu, baru ke rumahku. Aku juga sama ingin segera membuat Kamu hamil! Kamu memang sudah siap?"
"Di siap siapkan saja bagaimanapun itu adalah orangtuanya Mas Imam."
"Iya Intan, maafkan Aku. Aku belum bisa memberimu kenyamanan dalam menjalani hubungan ini, tapi semoga Aku bisa memberimu kenyamanan di rumahtangga kita kelak."
"Mas, apa setelah Kita nikah Mau tunggal di rumah yang kemarin kita lihat itu?"
__ADS_1
"Kita lihat dulu sikap orangtuaku Intan, itulah rumah kita. Kenapa memangnya dengan rumah itu?"
"Rumahnya gede banget, Aku merasa takut kalau sendirian di sana," ucap Intan jujur kalau Dirinya belum berani kalau harus sendirian di sana.
"Kan ada Aku Intan, Kita akan bebas di sana kita sama-sama kerja dan pulang bersama. Jangan banyak kekhawatiran sesuatu yang bisa kita sederhanakan."
Intan mengangguk walau semua kelihatan dewasa dalam bersikap Intan tetaplah gadis yang belia dan belum banyak pengalaman.
Dengan niat baik mereka keluar dan berjalan ke arah parkiran rumah sakit.
"Mas!"
"Ya Intan, kenapa?"
"Aku bingung harus ngomong apa nanti di hadapan orangtua mu."
"Nggak usah ngomong apapun kecuali Kamu di tanya, ikuti saja alurnya. Biarlah Aku yang bicara."
Intan diam hatinya jadi ciut dan bimbang walau di satu sisi merasa bahagia karena tak akan lama lagi akan menyatukan cinta mereka dalam satu kata pernikahan.
Semakin dekat semakin galau dan bimbang saja hati Intan, membayangkan sikap dingin kedua orangtuanya dan tak menghampirinya juga bicara apapun saat dr Imam mengenalkannya.
Ada sedikit trauma di hati Intan tapi semua di tepisnya, kalau sikap itu pasti akan berubah suatu saat nanti entah dengan alasan apapun semua akan mencair dengan sendirinya itulah keyakinan Intan yang di pesan kan Retno Kakak iparnya.
Tinggal satu belokan lagi dr Imam menggenggam sebelah tangan Intan, menguatkan kalau semua tetap harus di lewatinya.
Intan tersenyum dan mengangguk pada dr Imam, satu sikap kedewasaan yang membuat dr Imam merasa yakin mereka bisa melewatinya.
"Aku mencintaimu Intan, Akhirnya Aku takluk pada cintamu. Walau rintangan belum semua kita lewati."
"Semoga kita bisa mengambil hikmah dari semuanya Mas, Ayo kita turun!"
Dr Imam begitu sedih hatinya, cintanya begitu besar pada Intan tapi sikap orangtuanya bertolak belakang dengan dirinya.
Sikap dewasa dan menerima Intan malah membuat dr Imam semakin mencintainya, mungkin kalau wanita lain sudah pergi dan menjauh.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️