
Dr Prabu kembali pada kegiatannya di ruangannya dan dr Imam baru saja masuk ruangan prakteknya tiba-tiba suster kepala Miranti datang ke ruangannya.
"Maaf dok, ada tamu di ruanganku, bisa di temui dulu barang sebentar?" Suster kepala Miranti menatap dr Imam yang sedikit tertegun dan seperti tidak senang dengan kedatangan tamu di tengah kesibukannya.
"Siapa suster Miranti?"
"Sepertinya Ibu dokter sama seseorang perempuan cantik." Suster kepala Miranti kelihatan senyum senyum.
Deg! benar juga mereka datang ke sini mau apa?
"Aku lagi banyak pasien suster Miranti," jawab dr Imam tanpa melihat suster kepala Miranti sibuk dengan kartu pasien di hadapannya.
"Itu terserah dokter, Aku hanya menyampaikan saja," jawab suster kepala Miranti seperi menyerahkan pada dr Imam kalau itu adalah tamunya.
"Suster Erna ada berapa pasien lagi?" tanya dr Imam pada suster Erna.
"Masih ada lima Dok, tapi baru saja datang bisa di selang dulu kok, termasuk Bu Alya yang putri walikota itu!" sahut suster Erna sambil melirik dr Imam.
__ADS_1
"Kok Alya? bukankah jadwal Dia perasaan baru beberapa hari dia kontrol?" dr Imam Imam seperti bergumam sendiri.
Suster Erna hanya mengangkat bahu dan matanya sambil mengerutkan keningnya.
"Ya sudah nanti Aku ke situ suster Miranti," sahut dr Imam sambil memandang suster kepala Miranti di hadapannya.
Baru saja selesai bicara dan suster kepala Miranti mau keluar Ibunya datang bersama Vionna dan langsung masuk ke ruangannya, dengan kegembiraan yang terlihat di wajah Ibunya dr Imam.
"Oh, alah Nak. Ibu baru pertama masuk ke ruangan kerja kamu Sayang, ternyata enak juga, luas adem, pantesan pasiennya selalu banyak karena nyaman dan canggih semua peralatannya" Ibunya dr Imam berkeliling sambil melihat-lihat semua peralatan dari sudut ke sudut. Dr Imam menghampiri Ibunya lalu mencium tangannya juga menyalami Vionna dan mempersilahkan duduk, suster Erna mundur sambil membungkuk setelah bersalaman sama Ibunya dr Imam dan Vionna.
"Ibu, maaf ini waktu praktek dan jam kerja kenapa Ibu ke sini? kasihan pasienku yang dari tadi pada ngantri lagi pada hamil tentunya." Dr Imam memberi pengertian bukan nggak boleh tapi ada waktunya.
"Ibu hanya berkunjung tak akan mengganggu Kamu bekerja Nak, biar Nak Vionna tahu ke sini apa salahnya? sekalian Ibu kirim makan siang itu, Nak Vionna yang masak lho kamu harus mencicipinya, ajak rekanmu juga makan pasti mereka akan senang, juga suster cantik pendamping kerja Kamu itu Nak." Ibunya dr Imam nyerocos saja sendiri di sampingnya Vionna hanya senyum-senyum saja mungkin merasa bersalah karena datang ke sini mereka telat saat jam istirahat telah usai dan dr Imam telah mulai prakteknya lagi.
"Ibu, Vionna, maaf Aku selesaikan dulu semua pasiennya tunggu di depan nanti kita ngobrol sama buka kirimannya dikantor saja ya, karena jam istirahat sudah lewat kenapa tidak dari tadi ke sini nya?" tanya dr Imam sambil melirik Vionna di samping Ibunya.
"Kamu seperti tak melihat saja, Kami kaum perempuan harus berdandan dulu apa Kamu tak melihat Nak Vionna begini cantiknya?" ucap Ibunya dr Imam sambil tersenyum melirik Vionna disampingnya yang memang tampak cantik dan pangling karena dr Imam melihat Vionna tadi pagi saat belum mandi dan lagi masak di dapur dengan mengenakan piyama tidur.
__ADS_1
"Mari Aku antar ke kantor tunggu dulu atau sekedar jalan-jalan di taman rumah sakit yang asri di belakang juga boleh," ujar dr Imam sambil bangkit membuka alat prakteknya tang mengalung di lehernya.
"Harusnya kalau ke taman Nak Vionna di temani Kamu Nak, tapi biarin sama Ibu dulu juga." Dr Imam hanya tersenyum begitu juga Vionna, kelihatan tanpa beban dan wajah cantiknya tetap enjoy.
'Main kok ke rumah sakit? lagian bawa makanan saat Aku sudah makan!' Dr Imam sedikit ngedumel tapi tetap sikap baik dan sopannya diperlihatkan di hadapan Ibunya juga Vionna.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1